Kalau kita bicara akan yang namanya profesionalitas, maka akan terbayang adalah penghasilan lebih karena dianggap pekerja profesi. Wah enak uangnya lebih maka kesejateraan akan melimpah, orang juga akan memangdang denga panggilan BOS. Sekarang guru mulai dianggap sebagai profesi sehingga tunjangan makin besar. Tentunya hal ini akan membuat semacam stimulus untuk guru agar mampu berbuat lebih banyak. tentunya untuk kebaikan para siswa. Ingat siswa butuh pendidikan bukan pengajaran. Kalau pengajaran tanpa perencanaan juga bisa, tanpa evaluasi dan tindakan orang per orang juga bisa. Tapi pendidikan beda sekali.
Saya hanyalah seorang guru yang sedang mau menuju profesional. Kalau profesional itu banyaknya mengikuti seminar, lamanya mengajar, pernah menjabat ini itu dan sebaginya. Maka wajar kepala sekolah adalah orang yang paling profesional. Tapi apakah itu makna profesional ?
Di Singapore ada sebuah indeks penduduk, bukan besarnya GNP. Tapi indeks kebahagian. Nah sekarang kalau profesionalitas kita ukur dengan kebahagian seseorang untuk megabdi, memberi layanan, atau bahkan setiap hari berusaha memberikan yang terbaik untuk stake holder. Wah baru ketahuan siapa yang profesional dan bukan.
Saya bayangkan seseorang yang sudah pegawai negeri di sebuah lembaga, terus mendapat tunjangan insentif 4 juta atau bahkan 15 juta per bulan, tentunya ini bukan hal yang kecil. Karena pegawai negeri sudah sedemikian diperhatikan oleh pemerintah. Hanya pegawai negeri yang gajianya naik terus, siapa pun presidennya, apa pun partainya.
Jadi yang sudah dapat tunjangan profesional 9 juta, plus ada insentif 4 juta atau mungkin 15 juta, harus buktikan ke profesionalitas kita. Bahwa uang rakyat tidak sia-sia. Petani yang membayar pajak ketika membeli bibit padi bahkan pupuk akan tersenyum ketika anaknya bersekolah dengan guru-guru yang dekat dengan iman dan islam.
Anda profesional ? Timbang sendiri.
blog ini dipersembahkan untuk almamater tercinta, sebagai media informasi atau pun jalinan persahabatan dengan semua siswa,orang tua, alumni atau masyarakat luas.... dari alumni SMA Negeri 8 Jakarta angkatan 1988, wangsa jaya
Showing posts with label pribadi. Show all posts
Showing posts with label pribadi. Show all posts
Thursday, January 29, 2009
Tuesday, December 2, 2008
Saya diingatkan
Pagi ini hari begitu bening, seakan meneruskan hari yang lalu. Setelah menyelesaikan kegiatan di Subang untik perijinan TeSIS 2008, sya berpulang dengan kecepatn mobil 100-120 km per jam. Subang Jakarta seharusnya sekitar 3 jam, tapi Tuhan hari ini banyak memberikan keindahan alamnya untuk dinikmati. Suasana sejuk Kecamatan Jalan Cagak di Subang dengan hamparan perkebunan teh, berubah setalah memasuki bebrapa kecamatan menuju Sadang. Jam 15 yang terang dengan suhu pegunung berubah menjadi pucat kemerahan dan gelap memasuki Sadang. Tapi selepas Tol Cibitung, rona merah matahari yang akan hilang menambah kemeriahan hati menuju Jakarta. Selepas, maghrib kawasan Tebet menjadi gelap, tertutup awan seakan mau hujan.
Pagi ini seorang teman mengirim email yang membuat saya berpikir perjalanan kemaren. Batu yang dilontarkan, kata setelah diucapkan, kesempatan setelah ia hilang, waktu setelah berlalu, itu empat kalimat moril yang menjadi pikiran saya saat ini. Seperti itulah perjalanan hidup, rencanakan dengan matang, isi dengan hal yang baik dan tuntaskan, nikmati setiap detik kejadian dan doakan menjadi yang terbaik untuk semua, wujudkan hasilnya untuk kebersamaan bukan mencari kesalahan, dan evaluasi ketidaktercapaian karena Allah mungkin hanya menunda sesaat agar kita siap menerima kebaikan tertinggi dariNya.
Pagi ini seorang teman mengirim email yang membuat saya berpikir perjalanan kemaren. Batu yang dilontarkan, kata setelah diucapkan, kesempatan setelah ia hilang, waktu setelah berlalu, itu empat kalimat moril yang menjadi pikiran saya saat ini. Seperti itulah perjalanan hidup, rencanakan dengan matang, isi dengan hal yang baik dan tuntaskan, nikmati setiap detik kejadian dan doakan menjadi yang terbaik untuk semua, wujudkan hasilnya untuk kebersamaan bukan mencari kesalahan, dan evaluasi ketidaktercapaian karena Allah mungkin hanya menunda sesaat agar kita siap menerima kebaikan tertinggi dariNya.
Subscribe to:
Posts (Atom)