Showing posts with label Subang. Show all posts
Showing posts with label Subang. Show all posts

Sunday, January 4, 2009

TeSIS-3, hari ketiga buat kami

Saat terbangun oleh alarm Hp, jam masi menunjukkan pukul 03.30 wib. Kebiasaan memang bangun jam itu, ke kamar mandi, wudhu dan sholat malam hingga subuh. Tapi ini juga ada panggilan lain, perutnya agak kurang enak. Melewati beberapa teman guru yang tidur malang melintang, saya ke kamar mandi sekitar 30 menit. Fresh banget, air cukup dingin. Sholat malam, sambil bertasbih agar acara ini lancar dengan kendala yang sebisa mungkin terpecahkan oleh panitia. Panggilan subuh, bergegas ke Musholla. Musholla yang berjarak kurang dari 5 menit. Suasana nya enak banget, tenang, damai. Muadzin tidak ada, saya sholat sunnah, menunggu marbot atau imam mesjid.

Kembali ke posko, beberapa teman mulai bangun dan sholat subuh. Bertemankan segelas suhu milo hangat, saya duduk di tenda depan posko. Menikmati udara dingin yang berusaha masuk ke ruang-ruang kosong antara kulit dan kain sarung yang saya kenakan. Beberapa hari ini memang celana pendek bermuda menjadi seragam khas panitia. Lebih enak dan nggak berat bawanya. Maklum kami memang orang lapangan.

Jam 6 - 7 mulai terlihat kesibukan panitia lokal. Pak komandan memberi kabar kesiapan peserta TeSIS di SMA 8 Jakarta. Perkiraan saat peserta akan sampai jam 11-an, maklum konvoy. Itu pun kalau tidak ada kendala di jalan. Semoga saja berjalan lancar.  Jam 8 ada sms dari bu Desi yang mau curhat, hehehehe. Ini pasti curhat Pocari Sweat. Kami panitia udah ngebahas kok legenda Pocari Sweat. Jadikan pelajaran aja, terus yakini kita harus menegrti semua stake holder kita memang kedewasaan akan terlihat saat dalam kondisi "terjepit". Tetapi kalau dalam keadaan lapang, ada kedewasaan lain, artinya memang belum dewasa, hehehe. Semangat bu !

Wah ada berita banyak yang muntah, heheheh. Saya berharap sang bos sampai lebih dulu, karena ada beberapa pejabat yang datang. Ada Pak Camat Jalancagak Bapak Udin Jazudin, Ibu Kepala Desa Bu Cucu, Kapolsek, Dandim, LMD dan tentunya masyarakat Tambakmekar. Sehabis sholat dzuhur, ternyata busa mulai datang, cukup sibuk deh, ngatur lapangan dan mencoba menenangkan diri. Saya yakin siswa kepanasan, terus mau ke wc, upacara pula dan terakhir mempertemukan mereka dengan orang tua asuh.

Upacara yang dikomandoi oleh pak Edy Pramono, dengan gaya Sersan, serius tapi santai. Intinya adalah penyerahan para siswa kepada pak Camat dan Bu Kades, untuk tinggal di Tambakmekar, bersosialisasi dan melakukan penelitian. Sebenarnya tidak lama upacaranya, cuma karena panas, jadi terasa lama.

Selepas acara, para orang tua asuh mulai datang, siswa langsung mencari orang tua asuh. Orang tua asuh dibekali selembar kertas, berisi nama kelompok dan nama ortu. Seru pokoknya. Tertinggal 6 kelompok, ternyata inilah kelompok yang kami pecah kembali, karena melihat kemampuan rumah orang tua asuh untuk menerima mereka. Jam 15.15 wib, semua kelompok sudah selesai meninggalkan lapangan balai desa. Diantara 4 tesis, ini yang paling diterima masyarakat.

Jam 16-17 mulai berdatangan peserta TeSIS yang tidak bertemu dengan TAS mereka. Setiap tahun memang ada kondisi seperti ini. Pertama, nametag tas terlepas, kedua siswa tak memberi label atau memang kami belum memindahkan dari kondisi awal penghuni rumah. Laporan akhir ada 6 tas belum ketemu, 3 siswa kelas XI IPS, 3 Kelas Inter. Semuanya ternyata memang kelompok-kelompok akhir.

Badan benar-benar terasa lelah yang amat sangat. Beberapa teman panitia yang baru hadir tampak masih lelah. Masuk angin dan pusing, mereka tertidur di posko.  Jadi tidak tega mengganggu mereka.  Tanpa terasa, ternyata tim advance belum  makan siang ! Wah melilit sekali, cari bakso deh. Karena dekat rumah kelompok IPS ada tukang bakso goceeeng.

Jam 19  ketua kelompok mulai hadir. Egi, pra dan reza datang dengan muka lesu,"Pak tas kami belum ketemu, mau ganti daleman nih."  Aduh kasihan banget mereka.

Jam 21.00 mulai berkeliling desa, beberapa siswa masih berputar-putar desa. Baguslah orientasi medan. Ayo yang pacaran, jangan pura-pura ada tugas. Hehehehee

Ngobrol dengan aparat desa di Balai desa hingga jam 23, terus berlanjut ke posko panitia. Lelah ? Iyalah. Kaki udah tidak terasa bentuknya. Untungnya ada POCARI SWEAT sang legenda Miss Desi. Jam 24.00 mulai menemukan tempat peraduan. Celana pendek, sebuah bantal dan doa. Cuma itu.

Semoga Allah memberikan hal-hal yang terbaik untuk esok dan lusa, menjadikan hari ini sebagai limpahan pahala untuk kami. Amin.

Sunday, October 26, 2008

TeSIS 2008

Setelah menunggu dua tahun, akhirnya SMA Negeri 8 Jakarta kembali mengadakan kegiatan TeSIS ( Temu Ilmiah Sosial SMANDEL). TeSIS yang bertujuan untuk melatih daya nalar, analisa dan kepekaan sosial, kembali diadakan setelah melihat kondisi yang semakin baik. Tentunya hal ini harus disambut dengan baik. Kalau dibilang capek dan berat, tentunya inilah kegiatan terberat SMANDEL, bagiamna tidak membawa 400 siswa dengan sekian banyak guru bertandang ke sebuah wilayah atau pedesaan, dengan segala kesulitan untuk beradaptasi dari sisi prilaku dan tentunya bahasa. Apalagi dengan kewajiban para siswa untuk melakukan penelitian. Weleh, weleh ini kegiatan besar dengan sarat muatan keilmuan dan sosiologi.


Lokasi yang diyakini bisa memberikan nuansa pedesaan yang kental adalah Desa Tambak Mekar, sebuah wilayah pemukiman petani, ada nanas, duren, jeruk loh, hehehehe. Wulayah selatan Subang yang menuju Ciater atau Tangkuban Prahu. Cuaca yang sejuk, nggak dingin kok. Wilayah desa tersebut mempunyai dua keunikan, ada pesantren SMIT Assyifah - Khoiriyah dan Villa Jati Emas. Dua hal yang amat berbeda. Satu urusan akhirat dan datunya duniawi.


Tim survey terdiri dari Pak Yani Bayani (waki kepala sekolah bidang kesiswaan), Pak Ahmad Yani (staf kesiswaan), Bu Paulin (staf kesiswaan, bukan kandidat wakil presiden USA), Pak Waridin (pembina SP), Frau Kiki (pembina Kemas), Pak Tiyar (Sopir) dan tentunya saya sendiri (bagian gambar, hehehehe). Berangkat dari SMA Negeri 8 Jakarta jam 08.30.


Jam 11.30 sampai di rumah makan yang hanya berjarak 3 km dari lokasi tujuan, makan dulu agar fres. Sambel babakan, ayam sambel, karedok babakan, ikan gurame, tahu dan tempe, habis disikat kami bertujuh. Sehabis sholat, kami meneruskan perjalanan. Pemandangannya memang berbeda dengan puncak, kendaraan seri B bisa dihitung dengan jari tangan.


Sesampai di lokasi, kami langsung ke pesantren. Karena kontak kita mengatakan untuk bekoordinasi dulu. Subhanallah pesantren SMPIT (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) Assyifah, bagus sekali. Terlihat berlalu lallang santri usia 11- 14 tahun. Sedemikian ramahnya mereka. Tetapi dari dialek mereka dapat diketahui ternyata mereka kebanyakan berasal dari Jakarta, Bekais dan Tanggerang. Ini SMPIT yang menekankan pada hafidzh qur'an. Gedung terpelihara dengan rapi, banyak kebun buah-buahan, taman ruang terbuka dan tentunya aula tanpa dinding. "Sa, kalau SMA 8 seperti ini, gimana ?" tanya pak Yani. "wah sayanya tidak bertugas, mau nyantri aja," jawab saya.


Pak Yani pun meneyesal mengetahui sedemikian bagusnya ini SMPIT. Putra beliau ada di pesatren Tasikmalaya. Dan ternyata salah satu putra teman kita, pak Agus yang pernah bertugas sebagi guru matematika di SMA 8, juga sedang belajar di SMPIT ini.


Pesantren merupakan daerah wajib berjilbab, maka bu Paulin yang beragama nasrani, kita pakaikan kerudung, lumayan khan bu jadi soleha.


Setelah mengobrol cukup panjang dengan pak Budi, sekretaris Pesantren, kami idiijinkan langsung bertemu dengan pak RW, pak Qomar yang memang SMPIT termasuk dalam wilayah kepengurusan beliau. Maka kami pun berkeliling wilayah RW 04 desa Tambak Mekar. Rumah penduduk seperti halnya desa-desa di Jawa Barat tidak rapat seperti di DKI Jakarta. Warna rumah cukup membuat ceria, dati kuning, merah hingga jingga. Mantap. Yang pertama kami kunjungi adalah industri Dodol nanas. Jangan kaget, di ruang produksi yang kecil dengan 8 buah penggorengan besar, SLANK pernah duduk di ruang tamu dan menikmati DODOL NANAS. Hehehehehehe. Masih di rumah yang sama, ternyata di belakang rumah tersebut ada industri Jamur Tiram. Produksinya belum besar sekitar 50 Kg, padahal setiap hari restaurant butuh 2 ton per harinya. Harganya murah sekali, 1 kg = Rp. 10.000. Kita borong 4 kg hari itu.


Selanjutnya nikmatilah gambar-gambar lokasi TeSIS 2008.