Showing posts with label TeSIS 2008. Show all posts
Showing posts with label TeSIS 2008. Show all posts

Sunday, January 4, 2009

TeSIS-3, hari ketiga buat kami

Saat terbangun oleh alarm Hp, jam masi menunjukkan pukul 03.30 wib. Kebiasaan memang bangun jam itu, ke kamar mandi, wudhu dan sholat malam hingga subuh. Tapi ini juga ada panggilan lain, perutnya agak kurang enak. Melewati beberapa teman guru yang tidur malang melintang, saya ke kamar mandi sekitar 30 menit. Fresh banget, air cukup dingin. Sholat malam, sambil bertasbih agar acara ini lancar dengan kendala yang sebisa mungkin terpecahkan oleh panitia. Panggilan subuh, bergegas ke Musholla. Musholla yang berjarak kurang dari 5 menit. Suasana nya enak banget, tenang, damai. Muadzin tidak ada, saya sholat sunnah, menunggu marbot atau imam mesjid.

Kembali ke posko, beberapa teman mulai bangun dan sholat subuh. Bertemankan segelas suhu milo hangat, saya duduk di tenda depan posko. Menikmati udara dingin yang berusaha masuk ke ruang-ruang kosong antara kulit dan kain sarung yang saya kenakan. Beberapa hari ini memang celana pendek bermuda menjadi seragam khas panitia. Lebih enak dan nggak berat bawanya. Maklum kami memang orang lapangan.

Jam 6 - 7 mulai terlihat kesibukan panitia lokal. Pak komandan memberi kabar kesiapan peserta TeSIS di SMA 8 Jakarta. Perkiraan saat peserta akan sampai jam 11-an, maklum konvoy. Itu pun kalau tidak ada kendala di jalan. Semoga saja berjalan lancar.  Jam 8 ada sms dari bu Desi yang mau curhat, hehehehe. Ini pasti curhat Pocari Sweat. Kami panitia udah ngebahas kok legenda Pocari Sweat. Jadikan pelajaran aja, terus yakini kita harus menegrti semua stake holder kita memang kedewasaan akan terlihat saat dalam kondisi "terjepit". Tetapi kalau dalam keadaan lapang, ada kedewasaan lain, artinya memang belum dewasa, hehehe. Semangat bu !

Wah ada berita banyak yang muntah, heheheh. Saya berharap sang bos sampai lebih dulu, karena ada beberapa pejabat yang datang. Ada Pak Camat Jalancagak Bapak Udin Jazudin, Ibu Kepala Desa Bu Cucu, Kapolsek, Dandim, LMD dan tentunya masyarakat Tambakmekar. Sehabis sholat dzuhur, ternyata busa mulai datang, cukup sibuk deh, ngatur lapangan dan mencoba menenangkan diri. Saya yakin siswa kepanasan, terus mau ke wc, upacara pula dan terakhir mempertemukan mereka dengan orang tua asuh.

Upacara yang dikomandoi oleh pak Edy Pramono, dengan gaya Sersan, serius tapi santai. Intinya adalah penyerahan para siswa kepada pak Camat dan Bu Kades, untuk tinggal di Tambakmekar, bersosialisasi dan melakukan penelitian. Sebenarnya tidak lama upacaranya, cuma karena panas, jadi terasa lama.

Selepas acara, para orang tua asuh mulai datang, siswa langsung mencari orang tua asuh. Orang tua asuh dibekali selembar kertas, berisi nama kelompok dan nama ortu. Seru pokoknya. Tertinggal 6 kelompok, ternyata inilah kelompok yang kami pecah kembali, karena melihat kemampuan rumah orang tua asuh untuk menerima mereka. Jam 15.15 wib, semua kelompok sudah selesai meninggalkan lapangan balai desa. Diantara 4 tesis, ini yang paling diterima masyarakat.

Jam 16-17 mulai berdatangan peserta TeSIS yang tidak bertemu dengan TAS mereka. Setiap tahun memang ada kondisi seperti ini. Pertama, nametag tas terlepas, kedua siswa tak memberi label atau memang kami belum memindahkan dari kondisi awal penghuni rumah. Laporan akhir ada 6 tas belum ketemu, 3 siswa kelas XI IPS, 3 Kelas Inter. Semuanya ternyata memang kelompok-kelompok akhir.

Badan benar-benar terasa lelah yang amat sangat. Beberapa teman panitia yang baru hadir tampak masih lelah. Masuk angin dan pusing, mereka tertidur di posko.  Jadi tidak tega mengganggu mereka.  Tanpa terasa, ternyata tim advance belum  makan siang ! Wah melilit sekali, cari bakso deh. Karena dekat rumah kelompok IPS ada tukang bakso goceeeng.

Jam 19  ketua kelompok mulai hadir. Egi, pra dan reza datang dengan muka lesu,"Pak tas kami belum ketemu, mau ganti daleman nih."  Aduh kasihan banget mereka.

Jam 21.00 mulai berkeliling desa, beberapa siswa masih berputar-putar desa. Baguslah orientasi medan. Ayo yang pacaran, jangan pura-pura ada tugas. Hehehehee

Ngobrol dengan aparat desa di Balai desa hingga jam 23, terus berlanjut ke posko panitia. Lelah ? Iyalah. Kaki udah tidak terasa bentuknya. Untungnya ada POCARI SWEAT sang legenda Miss Desi. Jam 24.00 mulai menemukan tempat peraduan. Celana pendek, sebuah bantal dan doa. Cuma itu.

Semoga Allah memberikan hal-hal yang terbaik untuk esok dan lusa, menjadikan hari ini sebagai limpahan pahala untuk kami. Amin.

Tuesday, December 30, 2008

TeSIS ke-7 di desa Tambakmekar Subang Jawa Barat (1)


TeSIS 2008 merupakan ajang untuk menempa diri baik mental, fisik, disiplin, kemandirian, berfikir ilmiah, mengembangkan bakat, dan bersosialisasi dengan masyarakat pedesaan. Besar harapan kami semoga aspek-aspek tersebut tertanam pada diri siswa dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan masyrakat.Temu Sosial Ilmiah Smandel (TeSIS) 2008 ini merupakan kegiatan yang ketujuhkalinya dilaksanakan oleh SMAN 8 Jakarta, yang diyakini mampu memberikan nilai positif dan mendukung program-program sekolah sehingga perlu terus dikembangkan.


Pelaksanaan TeSIS dari tahun ke tahun :


· TeSIS 1 di desa Coblong, Bogor Jawa Barat (2001)


· TeSIS 2 di desa Pasawahan Kuningan Jawa Barat (2002)


· TeSIS 3 di desa Situraja Sumedang Jawa Barat (2003)


· TeSIS 4 di desa Sukaraja Tasikmalaya Jawa Barat (2004)


· TeSIS 5 di Kelurahan Cigugur Kuningan Jawa Barat (2005)


· TeSIS 6 di desa Wanaraja Garut Jawa Barat (2006)


· TeSIS 7 di desa Tambak Mekar Subang Jawa Barat (2008)



Ada beberapa hal yang berbeda dengan TeSIS-TeSIS sebelumnya. TeSIS kali ini lebih singkat 1 hari. Dengan masa yang hanya 2 malam 3 hari siswa diharuskan membuat penelitian yang tentunya tidak aklah dari TeSIS-TeSIS sebelumnya. Awalnya saya pribadi sempat ragu, tetapi semangat TeSIS tentunya akan membuat semua kendala menjadi berbeda.  Survey dilakukan hingga 3 kalii, dan saya senang karena ketiga-tiganya saya mengikutinya. Survey pertama dengan pak Yani Bayani dan tim, survey kedua dengan pak Ahmad Yani sang ketua,  survey ketiga dengan tim baksos.

Tiap desa selalu punya hal yang berbeda, dulu ada desa IDT, terus desa yang mempunyai produksi Tahu, ada juga yang kerajinan tangan dan kini, Desa Tambakmekar Kecamatan Jalancagak Subang merupakn sentra produksi Nenas Madu. Setelah semua persiapan di matangkan, maka tim pendahulu akan berangkat saat Natal, 25 Desember. Bayangkan 3 hari yang lalu tim pendahulu masih berada di Makasar, selama 4 hari di Tanah Toraja dan Makasar. Dibilang capek, amat capek, karena kami sudah terbiasa yang harus dianggap hal yang biasa karena pasti bisa. Tim pendahulu tahun ini tiadk seperti tahun sebleumnya. Kekuatan 3 guru dan 4 karyawan sekolah, seven magnifecent ini ternyata memang kelas pemikir dan pekerja keras.  Tanggal 24 Desember, siswa-siswi yang merayakan Natal mengirim tas terlebih dahulu, sedangkan yang tidak baru esoknya akan mengirinlan tas untuk dibawah tim pendahulu ke lokasi TeSIS.

Hingga malam tanggal 24, Sekretaris dan sang ketua Tesis masih sibuk membuat tanda-tanda tas, dengan pita warna warni dan tentunya nametag. Kebiasaan buruk saya adalah menginap di sekolah sebelum kegiatan besar. Apalagi TeSIS yang membawa 95% siswa kelas XI SMA Negeri 8 Jakarta. Hampir 500 orang warga smandel berkunjung ke Tambakmekar, suatu jumlah yang fantastis. Paginya sehabis tidur pulas, setelah perjalanan 8 jam dalam bus di Tator beberapa hari sebelumnya, saya terbangun dan siap-siap untuk melihat kesiapan panitia inti. Truk pengangkut tas yang saya harapkan ukuran tronton ternyata ukuran 3/4, kecewa banget kali. Hal ini akan berdampak pada kekuatan tarikan dan daya angkut kendaraan tersebut. Harus tidak marah, karena ini kerja tim dan teman hanya mampu sampai disitu usahanya. Saya menghemat pikiran agar tidak mudah marah, karena kecapekan fisik akan berdampak sama psikis nantinya. Begitu pun sebaliknya.

Dari rencana jam 8 berangkat, molor hingga 2 jam. Tidak seperti biasanya, tahun ini saya tidak mau bareng dengan truk pengangkut tas. Khan lucu, saya pernah menjabat sie kewilayahan, sie akomodasi,  bahkan sekretaris dikorbankan untuk duduk bareng dengan supir truk. Yang paling parah saat kekuningan, saya 7 jam di truk. Tahun ini tidak sama sekali. Akhirnya pak Roni dan pak Zul yang di truk. Pertanyaannya adalah apakah mereka tahu jalan ? Selama ini saya dipaksa di truk karena lumayan tahu jalan ke lokasi TeSIS.

Kejadian pertama yang lucu, adah truk pengangkut nyasar ke Cikampek, Elf silver yang berisikan saya, pak Edy, mas tiar, mas wakiman, mas rasum yang berangkat belakangan, malah sampai ujung tol sadang lebih dulu. Kami terpaksa menjemput truk tersebut, hehehee.  Ternyata truk 3/4 militer milik AL tersebut memang layakh jalandi laut, karena di darat jalannya lambat sekali, bahkan mungkin amat lambat.  Bayangkan wkatu tempuh yang seharausnya 3 jam maksimal, menjadi 5 jam. Weleh-weleh.

Panitia lokal sudah nunggu dari jam 8. Inilah kalau koordinasi tidak diberikan kepada tim pendahlu. Kebiasaan saya akan mengontak setelah kita di jalan raya, bukan pagi hari sebelum berangkat. Jam 15 kurang 10 menit, elf memasuki lapangan balai desa. Capek, belum. Karena awal kecapekan akan dimulai saat tas mulai turun dari truk.

410 tas siswa berhasil dievakuasi dari truk diletakkan di balai desa, sesuai dengan warna pita (mewakili kelas). Sayangnya panitia tidak membuat tanda tersebut dengan tambahan plastik, sehingga lebih kuat. Karena ada sekitar 37 tas yang tanpa pita (terputus dan memang belum diberi pita). Setelah tas dirapihkan dibantu oleh Panitia lokal yang 15 orang dengan 4 karang taruna, kami 7 manusia ajaib menuju pos sekretariat.

Rumah Pak Qomar, pegawai SMPIT Asy-Syifa, yang juga ketua RW 04 malam ini akan menjadi basecamp pertama. Tapi ternyata beliau juga sudah menyiapkan sebuah rumah di samping rumah beliau untuk posko yang sebenarnya. Karena rumah pak Qomar untuk posko panitia Ibu-ibu SMA 8. Cepat sekali beliau membuat keputusan penting. Karena tahun ini tidak ada ibu-ibu yang advance, kasihan deh pasti makan nggak kejamin, maka malam ini saya dan pak edy tidur di rumah pak Qomar.

Karena saya mantan sekretaris TeSIS dan biasanya malah pekerjaan akomodasi saya juga yang mengerjakan, maka mulailah laptop dibuka untuk penyusunan nama rumah dan siswa. Terajadi banyak perbedaan data antara daftar kelompok dan daftar yang real. Pusing gwwwwww. Ini akan banyak berakibat kepada penempatan rumah. Data salah, maka kita akan saling menyalahkan. Heheheheh. Psywars dimulai deh.

Kepusingan bertambah, laptopnya terlalu canggih, gw nggak mampu makai. Untung ada laptop yang sezaman ama gw, saya mampu mengetik deh. Lama-lama udah mulai enak, printer nya nggak connect. Belum diinstall, hehehehhe. Parah, dan pastinya makin marahhhhh. Pantes dibawaain cd installnya !!!! Hingga jam 24 saya baru bisa mengetik dan print hingga kelompok 20 padahal ada 43 kelompok. Saat kelompok 15 diprint, tinta printer setiap halaman carttridgenya harus digoyang-goyang inul. Jangan-jangan gw lagi dikerjaain nih, tapi harus tetap semangat. Walau bukan bagian perlengkapan, harus sabar menerima kenyataan ini.

Pak Edy berusaha menemani saya, karena beliau tahu pasti saya tidak tidur untuk menuntaskan penghuni rumah agar esok pak roni bisa jalan menyerahkan uang makan dan jumlah siswa per rumah. Tetapi Tuhan maha adil, jam 01.00 saya tertidur pulas beralaskan tikar di depan laptop. Jam 3 saat alarm HP bunyi, saya kembali mengerjaan pekerjaan yang tertunda. Hingga subuh.

Jam 7 saat semua teman sudah mandi, saya masih tertidur karena memang baru 3 jam tidur. Tetapi berkas sudah komplit semua. Jam 8 saya siap-siap berangkat ke Bandung, karena panitia ternyata belum mencetak Spanduk Tema dan Spanduk Selamat Datang. Di posko, pak edy, mas zul dan pak roni berbagi data dan uang untuk 3 RT, yaitu RT 09, RT 010 dan RT 011.

To be continue

Saturday, December 20, 2008

Siapkan alat penelitian

Bisa dibilang sulit, tapi rasanya bisa kok dicoba untuk membuatnya. Dibilang mudah, pas baru coba, kena deh memang agak sukar. Intinya, tanamkan jiwa adventure, bahwa semua harus dicoba, ketika mencoba akan ada hasil bernilai baik atau pun bernilai buruk, tetapi kita akan mendapatkan sejuta keindahan dunia penelitian, tantangan yang amat banyak dipengaruhi di luar prediksi kita. Jangan pernah mencoba meramal, karena kalau kita sesuai azas penelitian, JUJUR, maka akan banyak pelajaran berharga yang kita dapatkan. Hehehehee.

Hal yang paling utama adalah, bahwa kita buat semacam "perangkap atau kerangkeng" yang membuat persoalan menjadi dimengerti oleh yang bukan meneliti. Cari di pendahuluan hal-hal yang mendasari penelitian, kaji hal-hal yang membuat orang menjadi paham, bisa dengan metiode tanya ke teman, "loh tahu nggak tentang ....., coba gimana cara loh mendapatkan penegrtian tersebut......" semacam itulah.
Terusa, buat semacam orang bingung lagai belajar, mencoba menerka, tetapi terkaan yang mendekati sasaran. Ingat tidak waktu belajar fisika, saat anak panah menuju titik tujuan. Mana yang bagus, menyebar ke semua tempat tetapi ada yang mengenai sasaran, atau tidak kena sasaran tetapi anak panah berkumpul pada tempat yang relatif sempit. Maunya sih, sempit di sasaran utama, tapi itu sukkkkkaaaaaar.
Try error harus dilakukan, lepaskan sejumlah pernagkap ke orang-orang yang belum eprnah tahu penelitian kalian, apa tanggapan mereka. Terutama kuisioner, ingat penelitian sosial kekuatannya di kuisioner. Kalu sejumlah orang mengerti, maka dpat dipastikan alat uji penekitian kamu berhasil guna.