Rasulullah memanggil seorang sahabat, ”Saudaraku, kemanakah fulan bin fulan ? Sudah beberapa kali sholat fardhu, saya tidak melihatnya dalam jamaah sholat ? Sahabat tersebut dengan keberanian seaadnya menjawab pertantanyaan Rasulullah, ”Yaa Rasulullah, fulan bin fulan, adalah saudara kita yang cukup fakir. Karena kefakirannya tersebut, dia harus bergantian dengan istrinya menggunakan kain untuk sholat. Kemungkinan hal tersebut, yang membuat dia tidak mampu berjamaah.” Rasulullah terdiam, hati beliau demikian masygul, ada jamaah yang tidak mampu berjamaah karena ketidak adaan sarana.
Lima belas abad lebih kemudian. Sebuah surau di lereng bukit yang tidak sesubur tanah Pulau Jawa, terlihat cukup sesak. Padahal ukuran surau itu hanya 3 x 3 m, 10 orang jamaah sholat subuh telah membuat hidup surau tersebut. Sang Ajengan, Latif, tersenyum melihat para jamaah. Subuh itu Latif bercerita tentang keutamaan mencari rizki yang halal. Semua jamaah mendengarkan dengan khusyu. Ilmu agama telah menjadi butiran air yang selalu menyejukan keilaman mereka. Ajengan telah memberi banyak tentang ilmu agama.
Diantara semua jamaah, Ajengan Latif adalah yang tersukses, ternaknya hingga puluhan ekor, kambing dan sapi. Hari ini tanpa jamaah sadari, Ajengan ingin memberikan hak masing-masing jamaah atas harta yang Allah berikan padanya. Latif ingin jamaahnya juga mampu hidup lebih layak, agar bisa beribadah lebih baik.
Setelah berdoa semua jamaah saling bersalaman dan meninggalkan surau dengan wajah cerah dan hati yang bahagia. Latif melihat satu persatu jamaah, menuruni surau, dengan langkah gagah penuh semangat dan keimanan untuk memberi yang terbaik.
Waktu berjalan lambat di semua desa, desa memang tempat yang tidak terlalu banyak kegiatan. Kegiatan utama adalah berladang dan beternak. Kegiatan “mengangon” hewan sebuah pekerjaan yang amat menyenangkan buat warga desa. Melalang menyusuri padang rumput sisi barat Gunung Tambora yang tegak menembus awan kawasan Nusa Tenggara.
Sayup-sayup dari penjuru desa, terdengar kumandang “Allahu Akbar” berkali-kali. Hampir sepuluh kali, kalimat takbir bergema. Ternyata semua jamaah surau Ajengan Latif sedang bersyukur, karena di rumah mereka telah terikat sepasang kambing, dengan sebuah surat : dari hamba Allah, ini milik Allah manfaatkan untuk kehidupanmu. Saya iklash memberikan hewan ini. Tertanda : Hamba Allah.
Lima tahun kemudian, surau itu sudah hilang. Berganti sebuah mesjid besar berukuran 10 x 10 m, dengan tembok bata, beraatap genteng dengan sarana air yang baik, taman yang terjaga keindahannya mengelilingi mesjid tersebut. Ajengan Latif mengikuti kepergian surau, beliau wafat dalam perjalanan ibadah haji. Seluruh jamaah amat kehilangan dan berjanji tetap akan meneruskan kegiatan di surau tersebut.
Kemajuan terlihat dalam kegiatan keagamaan dan jumlah jamaah. Perubahan selalu terjadi. Ada jamaah yang datang dengan anak dan istrinya, walau sudah agak jauh dari desa sebelumnya. Ikatan hati yang terbangun membuat mereka terikat dengan surau tersebut. Bahkan ada jamaah yang rela mengurus mesjid tersebut, walau tanpa bayaran. Asal bisa membersihkan lantai mesjid. Asal diperbolehkan Adzan, asal diperbolehkan menyuci sajadah atau mukena yang habis pakai.
Suara jernih anak-anak usia sekolah yang membaca Al Qur’an sehabis maghrib, atau pun selepas subuh tetap berjalan. Orang tua mereka adalah orang-orang yang dulu mendapatkan rizki, sepasang kambing. MILIK ALLAH. Karena yakin itu pemberian Allah, mereka menjaga kesehatan kambing tersebut. Kambing telah berkembang menjadi sebuah peternakan besar, semua keluar memiliki hampir 50-an ekor. Mereka mampu hidup dari pemberian tersebut.
Sepuluh tahun kemudian, cobaan makin banyak. Jamaah mulai berganti. Ada yang sudah berpulang menghadap sang Khalik. Beberapa jamaah tersisa melihat saudara-saudaranya. Kekangenan saat lima belas tahun lalu amat terasa. Tiga jamaah asli yang tersisa saling berjamaah sholat, menyelesaikan juz demi juz Al Qur’an, hingga suatu hari…..
Hadi dan Seno dua hari ini tidak melihat Jaya. Rumah Jaya memang terbilang lumayan jauh dari Mesjid, tetapi dengan kendaraan yang dipunyainya Jaya selalu sampai setengah jam sebelum adzan sholat fardhu dikumandangkan. Akhirnya dengan bersepeda motor mereka ingin mengunjungi rumah Jaya, mereka khawatir Jaya sakit. Hampir 30 menit dengan kecepatan 20km/jam, mereka berdua sampai kerumah Jaya. Usaha Jaya ternyata amat maju, rumahnya besar dan terlihat ada musholla di samping rumah.
Mereka saling berpelukan, seakan belum bertemu sekian lama. Istri Jaya mempersiapkan makan siang itu. Tercium aroma masakan membuat tergoda Hadi dan Seno. Waktu berjalan terus, berbimcang dan saling berbagi pengalaman usaha. Jaya tetap memperhatikan para pegawainya, dengan teliti dia meliat pegawai yang mengambil makanan ternak, pupuk bahkan bibit tanaman. Jumlah kambing Jaya sedemikian besar, sehingga ternak kambingnya tidak ditempatkan di rumah. Usaha Dagang Jaya, demikian papan besar terpampang depan rumah megahnya.
Hadi dan Seno, sebenarnya sudah ingin pamitan karena sholat dzuhur hampir masuk. Tetapi Jaya menahan dengan mengatakan, ”Istriku sedang masak, hasil dari pekerjaan yang Allah berikan kepada kami, hargailah,” pinta Jaya. Jaya sibuk menghitung uang yang ada di tangannya. Ratusan ribu berlembar-lembar, hasil usahanya hari ini.
Saat terdengar suara Adzan Dzuhur, Hadi dan Seno mengajak Jaya untuk ke musholla karena tidak mungkin lagi ke Mesjid Ajengan Latif,….. bagai disambar petir Hadi dan Seno mendengar kalimat Jaya, ”Sabar lah, saya kan lagi menghitung nikmat Allah, pemberian Allah, milik Allah,….. sholat kan masih ada waktu,…. menghitung uang tanggung nih,” tanpa melihat muka Seno dan Hadi.
Ternyata arti milik Allah telah berubah. Kalau saja kita sadar, bahwa tubuh kita pun milik dan titipan dari Allah, maka kita akan menjaganya, bahkan memperbaikinya. Tidak mungkin kita merusak bahkan mengurangi manfaatnya. Allah memberikan dalam keadaan baik, kenapa saat Allah mengambil dalam keadaan rusak. Paru-paru rusak karena rokok, hati rusak karena bergunjing dan hasut, kekuasaan yang menistakan, bahkan amanat yang khianat. Kambing milik Allah hanyalah untuk kehidupan duniawi, guna mendukung kehidupan akhirat. Ibadah adalah panggilan Allah, bukan panggilan duniawi.
Moga-.moga bermanfaat
blog ini dipersembahkan untuk almamater tercinta, sebagai media informasi atau pun jalinan persahabatan dengan semua siswa,orang tua, alumni atau masyarakat luas.... dari alumni SMA Negeri 8 Jakarta angkatan 1988, wangsa jaya
Showing posts with label ibadah. Show all posts
Showing posts with label ibadah. Show all posts
Friday, April 2, 2010
Hijab, ibadh dan Ikhlash
Hari ini lumayan sibuk, seharusnya. Tetapi karena saya terlalu lelah, tanpa tersa tidak maksimal akan semua yang saya kerjakan. Sehabis di pintu gerbang, dengan roni, tris, ranu, dan lain-lain, kami menuju maisng-masing proyek hari ini. Roni mau ke MHT, Tris dan Ranu piket, saya mengawal OSN di Av Grande hingga selesai. Hari ini beberapa guru salah kostum, maklumlah tanggal 31 jarang terlihat, tetapi buat saya yang honorer, tanggal demi tanggal menjadi amat penting. Bahagiannya kalau tanggal 20,…. Cihuy gajian…….
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,…. udah haji padahal, kok masih begitu,… katanya muslim kok memfitnah….. masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,…. ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang….. salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,….. serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,… sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,…. pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,……. sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,…. udah haji padahal, kok masih begitu,… katanya muslim kok memfitnah….. masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,…. ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang….. salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,….. serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,… sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,…. pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,……. sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
ibadah, hijab dan iklash
Hari ini lumayan sibuk, seharusnya. Tetapi karena saya terlalu lelah, tanpa tersa tidak maksimal akan semua yang saya kerjakan. Sehabis di pintu gerbang, dengan roni, tris, ranu, dan lain-lain, kami menuju maisng-masing proyek hari ini. Roni mau ke MHT, Tris dan Ranu piket, saya mengawal OSN di Av Grande hingga selesai. Hari ini beberapa guru salah kostum, maklumlah tanggal 31 jarang terlihat, tetapi buat saya yang honorer, tanggal demi tanggal menjadi amat penting. Bahagiannya kalau tanggal 20,…. Cihuy gajian…….
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,.... udah haji padahal, kok masih begitu,... katanya muslim kok memfitnah..... masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,.... ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang..... salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,..... serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,... sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,.... pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,....... sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,.... udah haji padahal, kok masih begitu,... katanya muslim kok memfitnah..... masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,.... ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang..... salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,..... serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,... sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,.... pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,....... sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
Label:
aktivitas,
Emosi diri,
hijab,
ibadah,
ikhash,
iman,
Islam,
Islami,
pengembangan diri
Thursday, April 1, 2010
Allah mempercayai Anda, bagaimana Anda terhadap-Nya
Rasulullah memanggil seorang sahabat, ”Saudaraku, kemanakah fulan bin fulan ? Sudah beberapa kali sholat fardhu, saya tidak melihatnya dalam jamaah sholat ? Sahabat tersebut dengan keberanian seaadnya menjawab pertantanyaan Rasulullah, ”Yaa Rasulullah, fulan bin fulan, adalah saudara kita yang cukup fakir. Karena kefakirannya tersebut, dia harus bergantian dengan istrinya menggunakan kain untuk sholat. Kemungkinan hal tersebut, yang membuat dia tidak mampu berjamaah.” Rasulullah terdiam, hati beliau demikian masygul, ada jamaah yang tidak mampu berjamaah karena ketidak adaan sarana.
Lima belas abad lebih kemudian. Sebuah surau di lereng bukit yang tidak sesubur tanah Pulau Jawa, terlihat cukup sesak. Padahal ukuran surau itu hanya 3 x 3 m, 10 orang jamaah sholat subuh telah membuat hidup surau tersebut. Sang Ajengan, Latif, tersenyum melihat para jamaah. Subuh itu Latif bercerita tentang keutamaan mencari rizki yang halal. Semua jamaah mendengarkan dengan khusyu. Ilmu agama telah menjadi butiran air yang selalu menyejukan keilaman mereka. Ajengan telah memberi banyak tentang ilmu agama.
Diantara semua jamaah, Ajengan Latif adalah yang tersukses, ternaknya hingga puluhan ekor, kambing dan sapi. Hari ini tanpa jamaah sadari, Ajengan ingin memberikan hak masing-masing jamaah atas harta yang Allah berikan padanya. Latif ingin jamaahnya juga mampu hidup lebih layak, agar bisa beribadah lebih baik.
Setelah berdoa semua jamaah saling bersalaman dan meninggalkan surau dengan wajah cerah dan hati yang bahagia. Latif melihat satu persatu jamaah, menuruni surau, dengan langkah gagah penuh semangat dan keimanan untuk memberi yang terbaik.
Waktu berjalan lambat di semua desa, desa memang tempat yang tidak terlalu banyak kegiatan. Kegiatan utama adalah berladang dan beternak. Kegiatan “mengangon” hewan sebuah pekerjaan yang amat menyenangkan buat warga desa. Melalang menyusuri padang rumput sisi barat Gunung Tambora yang tegak menembus awan kawasan Nusa Tenggara.
Sayup-sayup dari penjuru desa, terdengar kumandang “Allahu Akbar” berkali-kali. Hampir sepuluh kali, kalimat takbir bergema. Ternyata semua jamaah surau Ajengan Latif sedang bersyukur, karena di rumah mereka telah terikat sepasang kambing, dengan sebuah surat : dari hamba Allah, ini milik Allah manfaatkan untuk kehidupanmu. Saya iklash memberikan hewan ini. Tertanda : Hamba Allah.
Lima tahun kemudian, surau itu sudah hilang. Berganti sebuah mesjid besar berukuran 10 x 10 m, dengan tembok bata, beraatap genteng dengan sarana air yang baik, taman yang terjaga keindahannya mengelilingi mesjid tersebut. Ajengan Latif mengikuti kepergian surau, beliau wafat dalam perjalanan ibadah haji. Seluruh jamaah amat kehilangan dan berjanji tetap akan meneruskan kegiatan di surau tersebut.
Kemajuan terlihat dalam kegiatan keagamaan dan jumlah jamaah. Perubahan selalu terjadi. Ada jamaah yang datang dengan anak dan istrinya, walau sudah agak jauh dari desa sebelumnya. Ikatan hati yang terbangun membuat mereka terikat dengan surau tersebut. Bahkan ada jamaah yang rela mengurus mesjid tersebut, walau tanpa bayaran. Asal bisa membersihkan lantai mesjid. Asal diperbolehkan Adzan, asal diperbolehkan menyuci sajadah atau mukena yang habis pakai.
Suara jernih anak-anak usia sekolah yang membaca Al Qur’an sehabis maghrib, atau pun selepas subuh tetap berjalan. Orang tua mereka adalah orang-orang yang dulu mendapatkan rizki, sepasang kambing. MILIK ALLAH. Karena yakin itu pemberian Allah, mereka menjaga kesehatan kambing tersebut. Kambing telah berkembang menjadi sebuah peternakan besar, semua keluar memiliki hampir 50-an ekor. Mereka mampu hidup dari pemberian tersebut.
Sepuluh tahun kemudian, cobaan makin banyak. Jamaah mulai berganti. Ada yang sudah berpulang menghadap sang Khalik. Beberapa jamaah tersisa melihat saudara-saudaranya. Kekangenan saat lima belas tahun lalu amat terasa. Tiga jamaah asli yang tersisa saling berjamaah sholat, menyelesaikan juz demi juz Al Qur’an, hingga suatu hari.....
Hadi dan Seno dua hari ini tidak melihat Jaya. Rumah Jaya memang terbilang lumayan jauh dari Mesjid, tetapi dengan kendaraan yang dipunyainya Jaya selalu sampai setengah jam sebelum adzan sholat fardhu dikumandangkan. Akhirnya dengan bersepeda motor mereka ingin mengunjungi rumah Jaya, mereka khawatir Jaya sakit. Hampir 30 menit dengan kecepatan 20km/jam, mereka berdua sampai kerumah Jaya. Usaha Jaya ternyata amat maju, rumahnya besar dan terlihat ada musholla di samping rumah.
Mereka saling berpelukan, seakan belum bertemu sekian lama. Istri Jaya mempersiapkan makan siang itu. Tercium aroma masakan membuat tergoda Hadi dan Seno. Waktu berjalan terus, berbimcang dan saling berbagi pengalaman usaha. Jaya tetap memperhatikan para pegawainya, dengan teliti dia meliat pegawai yang mengambil makanan ternak, pupuk bahkan bibit tanaman. Jumlah kambing Jaya sedemikian besar, sehingga ternak kambingnya tidak ditempatkan di rumah. Usaha Dagang Jaya, demikian papan besar terpampang depan rumah megahnya.
Hadi dan Seno, sebenarnya sudah ingin pamitan karena sholat dzuhur hampir masuk. Tetapi Jaya menahan dengan mengatakan, ”Istriku sedang masak, hasil dari pekerjaan yang Allah berikan kepada kami, hargailah,” pinta Jaya. Jaya sibuk menghitung uang yang ada di tangannya. Ratusan ribu berlembar-lembar, hasil usahanya hari ini.
Saat terdengar suara Adzan Dzuhur, Hadi dan Seno mengajak Jaya untuk ke musholla karena tidak mungkin lagi ke Mesjid Ajengan Latif,..... bagai disambar petir Hadi dan Seno mendengar kalimat Jaya, ”Sabar lah, saya kan lagi menghitung nikmat Allah, pemberian Allah, milik Allah,..... sholat kan masih ada waktu,.... menghitung uang tanggung nih,” tanpa melihat muka Seno dan Hadi.
Ternyata arti milik Allah telah berubah. Kalau saja kita sadar, bahwa tubuh kita pun milik dan titipan dari Allah, maka kita akan menjaganya, bahkan memperbaikinya. Tidak mungkin kita merusak bahkan mengurangi manfaatnya. Allah memberikan dalam keadaan baik, kenapa saat Allah mengambil dalam keadaan rusak. Paru-paru rusak karena rokok, hati rusak karena bergunjing dan hasut, kekuasaan yang menistakan, bahkan amanat yang khianat. Kambing milik Allah hanyalah untuk kehidupan duniawi, guna mendukung kehidupan akhirat. Ibadah adalah panggilan Allah, bukan panggilan duniawi.
Moga-.moga bermanfaat
Lima belas abad lebih kemudian. Sebuah surau di lereng bukit yang tidak sesubur tanah Pulau Jawa, terlihat cukup sesak. Padahal ukuran surau itu hanya 3 x 3 m, 10 orang jamaah sholat subuh telah membuat hidup surau tersebut. Sang Ajengan, Latif, tersenyum melihat para jamaah. Subuh itu Latif bercerita tentang keutamaan mencari rizki yang halal. Semua jamaah mendengarkan dengan khusyu. Ilmu agama telah menjadi butiran air yang selalu menyejukan keilaman mereka. Ajengan telah memberi banyak tentang ilmu agama.
Diantara semua jamaah, Ajengan Latif adalah yang tersukses, ternaknya hingga puluhan ekor, kambing dan sapi. Hari ini tanpa jamaah sadari, Ajengan ingin memberikan hak masing-masing jamaah atas harta yang Allah berikan padanya. Latif ingin jamaahnya juga mampu hidup lebih layak, agar bisa beribadah lebih baik.
Setelah berdoa semua jamaah saling bersalaman dan meninggalkan surau dengan wajah cerah dan hati yang bahagia. Latif melihat satu persatu jamaah, menuruni surau, dengan langkah gagah penuh semangat dan keimanan untuk memberi yang terbaik.
Waktu berjalan lambat di semua desa, desa memang tempat yang tidak terlalu banyak kegiatan. Kegiatan utama adalah berladang dan beternak. Kegiatan “mengangon” hewan sebuah pekerjaan yang amat menyenangkan buat warga desa. Melalang menyusuri padang rumput sisi barat Gunung Tambora yang tegak menembus awan kawasan Nusa Tenggara.
Sayup-sayup dari penjuru desa, terdengar kumandang “Allahu Akbar” berkali-kali. Hampir sepuluh kali, kalimat takbir bergema. Ternyata semua jamaah surau Ajengan Latif sedang bersyukur, karena di rumah mereka telah terikat sepasang kambing, dengan sebuah surat : dari hamba Allah, ini milik Allah manfaatkan untuk kehidupanmu. Saya iklash memberikan hewan ini. Tertanda : Hamba Allah.
Lima tahun kemudian, surau itu sudah hilang. Berganti sebuah mesjid besar berukuran 10 x 10 m, dengan tembok bata, beraatap genteng dengan sarana air yang baik, taman yang terjaga keindahannya mengelilingi mesjid tersebut. Ajengan Latif mengikuti kepergian surau, beliau wafat dalam perjalanan ibadah haji. Seluruh jamaah amat kehilangan dan berjanji tetap akan meneruskan kegiatan di surau tersebut.
Kemajuan terlihat dalam kegiatan keagamaan dan jumlah jamaah. Perubahan selalu terjadi. Ada jamaah yang datang dengan anak dan istrinya, walau sudah agak jauh dari desa sebelumnya. Ikatan hati yang terbangun membuat mereka terikat dengan surau tersebut. Bahkan ada jamaah yang rela mengurus mesjid tersebut, walau tanpa bayaran. Asal bisa membersihkan lantai mesjid. Asal diperbolehkan Adzan, asal diperbolehkan menyuci sajadah atau mukena yang habis pakai.
Suara jernih anak-anak usia sekolah yang membaca Al Qur’an sehabis maghrib, atau pun selepas subuh tetap berjalan. Orang tua mereka adalah orang-orang yang dulu mendapatkan rizki, sepasang kambing. MILIK ALLAH. Karena yakin itu pemberian Allah, mereka menjaga kesehatan kambing tersebut. Kambing telah berkembang menjadi sebuah peternakan besar, semua keluar memiliki hampir 50-an ekor. Mereka mampu hidup dari pemberian tersebut.
Sepuluh tahun kemudian, cobaan makin banyak. Jamaah mulai berganti. Ada yang sudah berpulang menghadap sang Khalik. Beberapa jamaah tersisa melihat saudara-saudaranya. Kekangenan saat lima belas tahun lalu amat terasa. Tiga jamaah asli yang tersisa saling berjamaah sholat, menyelesaikan juz demi juz Al Qur’an, hingga suatu hari.....
Hadi dan Seno dua hari ini tidak melihat Jaya. Rumah Jaya memang terbilang lumayan jauh dari Mesjid, tetapi dengan kendaraan yang dipunyainya Jaya selalu sampai setengah jam sebelum adzan sholat fardhu dikumandangkan. Akhirnya dengan bersepeda motor mereka ingin mengunjungi rumah Jaya, mereka khawatir Jaya sakit. Hampir 30 menit dengan kecepatan 20km/jam, mereka berdua sampai kerumah Jaya. Usaha Jaya ternyata amat maju, rumahnya besar dan terlihat ada musholla di samping rumah.
Mereka saling berpelukan, seakan belum bertemu sekian lama. Istri Jaya mempersiapkan makan siang itu. Tercium aroma masakan membuat tergoda Hadi dan Seno. Waktu berjalan terus, berbimcang dan saling berbagi pengalaman usaha. Jaya tetap memperhatikan para pegawainya, dengan teliti dia meliat pegawai yang mengambil makanan ternak, pupuk bahkan bibit tanaman. Jumlah kambing Jaya sedemikian besar, sehingga ternak kambingnya tidak ditempatkan di rumah. Usaha Dagang Jaya, demikian papan besar terpampang depan rumah megahnya.
Hadi dan Seno, sebenarnya sudah ingin pamitan karena sholat dzuhur hampir masuk. Tetapi Jaya menahan dengan mengatakan, ”Istriku sedang masak, hasil dari pekerjaan yang Allah berikan kepada kami, hargailah,” pinta Jaya. Jaya sibuk menghitung uang yang ada di tangannya. Ratusan ribu berlembar-lembar, hasil usahanya hari ini.
Saat terdengar suara Adzan Dzuhur, Hadi dan Seno mengajak Jaya untuk ke musholla karena tidak mungkin lagi ke Mesjid Ajengan Latif,..... bagai disambar petir Hadi dan Seno mendengar kalimat Jaya, ”Sabar lah, saya kan lagi menghitung nikmat Allah, pemberian Allah, milik Allah,..... sholat kan masih ada waktu,.... menghitung uang tanggung nih,” tanpa melihat muka Seno dan Hadi.
Ternyata arti milik Allah telah berubah. Kalau saja kita sadar, bahwa tubuh kita pun milik dan titipan dari Allah, maka kita akan menjaganya, bahkan memperbaikinya. Tidak mungkin kita merusak bahkan mengurangi manfaatnya. Allah memberikan dalam keadaan baik, kenapa saat Allah mengambil dalam keadaan rusak. Paru-paru rusak karena rokok, hati rusak karena bergunjing dan hasut, kekuasaan yang menistakan, bahkan amanat yang khianat. Kambing milik Allah hanyalah untuk kehidupan duniawi, guna mendukung kehidupan akhirat. Ibadah adalah panggilan Allah, bukan panggilan duniawi.
Moga-.moga bermanfaat
Label:
Emosi diri,
ibadah,
kambing,
milik Allah,
pengembangn diri,
resonansi
Subscribe to:
Posts (Atom)