Showing posts with label menuju sekolah bermutu. Show all posts
Showing posts with label menuju sekolah bermutu. Show all posts

Sunday, June 5, 2011

Ukhuwah perbanyak dan perluaslah

Saat jum'atan kita sering disuguhi sebuah ajaran, "bertebaranlah".... entah pagi ini kata tersebut menjadi kental dengan makna yang harus saya kaji.Awalnya memang sepele. Sepulang dari Bekasi, tepatnya ke pernikahan keponakan di Mangun Jaya Bekasi, karena terlalu lelah sampai rumah jam 17.00. Padahal berangkat dari Bekasi jam 14.00 kurang sedikit. Samapi di rumah, istri menyiapkan makan siang yang kesorean, dengan lauk rendang dari emak di Bekasi. Mantap,...Penutup makan soo pasti durian kampung yang memang tersedia di lemari es. Ada 6 butir kami makan, selebihnya untuk esok atau nanti malam.

Sehabis magrib, hampir semua stasiun televisi membedah habis Partai Demokrat. Rada pusing mendengar komen saudara-saudara di Partai Demokrat dari yang asal omong, asal jeblak, asal busnyi, hingga asal asalan. Memang sih yang berkomentar orangnya itu-itu aja,... Cuma si Sutan yang belum ngomong nih,.... hehehhe

Jam jam 20-an udah tertidur tuh. Lelah sekali,.... sampai bisa mimpi camping di Situ Gunung Cinumpang Cisaat Sukabumi. Padahal itu wilayah yang pertama kali saya datangi saat jadi pramuka di SD Cidurian 05 PT, dengan Gugus Depan 003 - 004 di tahun 1980-1981. Cuma bersepuluh Penggalang Rakit di bawah arahan sang pembina Kak Hambali. Persis nseperti saat itu, semua makanan menjadi beku dan dsulit dimakan. Minyak goreng beku. Roti yang saya bawa tertindih tubuh saya dan teman-teman. Tapi saat itu tubuh saya nggak seperti sekarang yang hampir mencapai 93. Rekornya 97 kg, moga-moga istri nggak tahu.

Terbangun jam 00.15, pertandingan sepakbola Inggris vsSwiss, tapi kurang menarik. Don Capello seperti termakan oleh sihir hizdfield.... susah banget ngejanya tuh pelatih,... mantan pelatih yang membesut bayern munchen. Akhirnya midnight show di Trans TV aja,.. ada Star Trek,... terus allien hunter dan terakhir battle star galatica...istri terbangun dan menemani nonton film tersebut,... sambil makan duren. Dari jam 01.00 hingga 03.00, makan duren dingin,.. hahahhaa.

Sehabis film barulah nyadar ternyata semua film tersebut berintikan penjelajahan ke semua ruang muka bumi,mencari kehidupan dan penghidupan. Hubungan dengan partai demokrat, yaaa dihubung-hubungkan aja. Kan dunia perpolitikan kita selalu menghubung-hubungkan. Bertebaran di muka bumi itu intinya kita mencari persaudaraan, perluas dan perbanyak. Bukan hanya 4L... loh lagi,... loh lagi. Dan hal ini yang nggak dilakukan Partai Demokrat. Partai Demokrat bukan perusahaan keluarga, bukan milik ketua dewan pembina. Terjadi kesalahan fatal... lagi-lagi saya sambung-sambungkan aja... Pemimpin itu adalah amanah, bukan aminah (asal ngejblak nih). Lah kalau pemimpin sudah aminah, maka sukar sekali mencari KEBENARAN yang ada PEMBENARAN.

Aminah yang dimaksud adalah : Anak, Menantu, Ipar, Nenek, asal kenal dan handai taulan. Jika sebuah lembaga dijadikan aminah, pasti sulit berkembang, semua serba intrik. Proses pendewasaan berpikir organisasi menjadi kerdil karena komitmen dan tangggung jawab menjadi hal yang berbatasan. Hampir semua lembaga tau organisasi bermasalah jika menggunakan konsep AMINAH,.... kecuali komitmen dan tanggung jawab dipertegas.

Pelajaran berharga : " jika si X mencuri,... niscaya akan saya potong tangannya. Padahal si X tersebut adalah putranya sendiri. Selamat beraminah, dan tunggu tanggal kehancuran...

Tuesday, March 17, 2009

Tujuh Ayat Sekolah Unggul

http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=991



Hakikat pendidikan adalah mengubah budaya. Apa yang sering dilupakan banyak orang adalah bahwa sekolah-sekolah kita telah memiliki budaya sekolah (”school culture”) yaitu seperangkat nilai-nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang sudah mendarah daging dan menyejarah sejak negara ini merdeka. Tanpa keberanian mendobrak kebiasaan ini, apa pun model pendidikan dan peraturan yang diundangkan, akan sulit bagi kita untuk memperbaiki mutu pendidikan.


Sedikitnya ada lima tradisi yang membatu selama ini: (1) orang tua menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab mendidik siswa, (2) orang tua percaya bahwa program IPA lebih bergengsi daripada program IPS bagi anak mereka, (3) orang tua percaya bahwa sekolah kejuruan kurang bergengsi, (4) masyarakat percaya bahwa gelar ke(pasca)sarjanaan merupakan simbol status sosial, dan (5) pemerintah merasa paling jagoan menyelenggarakan pendidikan.


Wacana pendidikan kita kini diperkaya oleh seperangkat kosa kata yang maknanya berimpitan: sekolah percontohan, sekolah percobaan, sekolah unggul, sekolah akselerasi, dan sejenisnya. Dalam literatur internasional semua itu lazim disebut lab school, effective school, demonstration school, experiment school, atau accelerated school, dan sekolah-sekolah pun diiklankan dengan atribut-atribut magnetis itu.


Senarai kosa kata itu tidak persis bersinonim. Ada nuansa kekhasan pada masing-masing. Dari semua itu, kosa kata yang paling lazim dipakai adalah effective school atau sekolah unggul yang didasarkan atas keyakinan bahwa siswa, apa pun etnis, status ekonomi, dan jenis kelaminnya, akan mampu belajar sesuai dengan tuntutan kurikulum.


Pendekatan yang ditempuh adalah perencanaan secara kolaboratif antara guru, administrator, orang tua, dan masyarakat. Data prestasi siswa dijadikan basis untuk perbaikan sistem secara berkelanjutan. Sekolah unggul demikian memiliki sejumlah korelat atau ciri pemerlain sebagai berikut.


Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum mampu– dan memang tidak diberdayakan untuk mampu–mengartikulasikan visi dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit. Misalnya, “SMA berbasis komputer”, “SD berbasis kelas kecil”, “SMP berbasis IST (information system technology),” “SMK bersistem asrama,” “Aliyah dengan pengantar tiga bahasa,” dan sebagainya.


Konsep iman dan taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) selama ini terlalu sering dipakai sehingga maknanya tidak jelas, mengawang-awang, filosofis, dan tidak operasional. Misi adalah dua atau tiga pernyataan sebagai operasionalisasi visi, misalnya “membangun siswa yang kreatif dan disiplin,” dan sebagainya. Walau begitu, ada prioritas yang diunggulkan dalam rentang zaman secara terencana. Prioritas ini dinyatakan eksplisit dalam rencana kerja tahunan sekolah.


Untuk mengimplementasikan visi dan misi sekolah ada sejumlah langkah yang mesti ditempuh: (1) pahami kultur sekolah, (2) hargai profesi guru, (3) nyatakan apa yang Anda hargai, (4) perbanyak unsur yang Anda hargai, (5) lakukan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait, (6) buat menu kegiatan bukan mandat, (7) gunakan birokrasi untuk memudahkan bukan untuk mempersulit, dan (8) buatlah jejaring (networking) seluas mungkin.


Kedua, komitmen tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang mendidih untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum. Semuanya memiliki potensi untuk berkontribusi dalam proses pendidikan. Komitmen ini adalah energi untuk mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul.


Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala sekolah adalah “pemimpin dari pemimpin” bukan “pemimpin dari pengikut.” Artinya selain kepala sekolah ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan keputusan bersama (shared decision making). Komunikasi terus-menerus dilkukan antara kepala sekolah dan para guru untuk memahami budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila tidak dikomunikasikan terus-menerus, visi itu akan mati sendiri.


Guru juga adalah pemimpin dengan kualitas sebagai berikut: (1) terampil menggunakan model mengajar berdasarkan penelitian, (2) bekerja secara tim dalam merencanakan pelajaran, menilai siswa, dan dalam memecahkan masalah, (3) sebagai mentor bagi koleganya, (4) mengupayakan pembelajaran yang efisien, dan (5) berkolaborasi dengan orang tua, keluarga, dan anggota masyarakat lain demi pembelajaran siswa.


Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Guru memanfaatkan waktu yang tersedia semaksimal mungkin demi penguasaan keterampilan azasi. Dalam hal ini perlu dijaga keseimbangan antara tuntutan kurikulum dengan ketersediaan waktu. Kunci keberhasilan dalam hal ini adalah mengajar dengan niat akademik yang jelas dan siswa pun mengetahui niat itu. Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan (4) praktik mengajar yang adaptif dan fleksibel.


Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak opresif tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar. Siswa diajari agar berperilaku aman dan tertib melalui belajar bersama (cooperative learning), menghargai kebinekaan manusiawi, serta apresiasi terhadap nilai-nilai demokratis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa.


Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua memahami misi dan visi sekolah. Mereka diberi kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut. Dengan demikian, sekolah tidak hanya mendidik siswa, tetapi juga orang tua sebagai anggota keluarga sekolah yang dihargai dan dilibatkan.


Dengan melibatkan mereka pada kegiatan ekstra di akhir pekan (extra school) misalnya, siswa sadar bahwa orang tuanya menghargai kegiatan pendidikan, sehingga mereka pun menghargai pendidikan yang dilakoninya. Inilah contoh konkret hubungan tripatriat sekolah-siswa-orang tua. Upacara-upacara yang dihadiri orang tua sesungguhnya merupakan kesempatan untuk membangun citra sekolah dan untuk merayakan visi dan misi. Singkatnya, sekolah unggul membangun “kepercayaan” dan silaturahmi sehingga masing-masing memiliki nawaitu tinggi untuk melejitkan prestasi.


Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala. Kemajuan siswa dimonitor terus- menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Penggunaan teknologi, khususnya komputer memudahkan dokumentasi hasil monitoring secara terus- menerus.


Evaluasi penguasaan materi pelajaran secara perlahan bergeser dari tes baku (standardized norm-referenced paper-pencil test) menuju tes berdasar kurikulum dan berdasar kriteria (curricular-based, criterion-referenced). Dengan kata lain, evaluasi akan lebih berfokus pada performansi dan dokumentasi prestasi siswa sebagaimana terakumulasi dalam portofolio. Dokumentasi prestasi ini bukan hanya untuk guru, tetapi juga untuk dikomunikasikan kepada orang tua.


Sekolah sebagai sistem juga dimonitor secara berkelanjutan. Artinya sekolah tidak hanya terampil memonitor kemajuan siswa, tetapi juga siap mengevaluasi dirinya sendiri. Hasil evaluasi diri ini merupakan bahan bagi pihak lain (external evaluators) untuk mengevaluasi kinerja sekolah itu. Inilah makna akuntabilitas publik. Sekolah harus mengagendakan program rujuk mutu (benchmarking) kepada sekolah lain, sehingga sadar akan kelebihan dan kekurangan sendiri.


Model sekolah unggul seperti digambarkan di atas akan berwujud bila sekolah tidak eksklusif bak menara gading, tetapi tumbuh sebagai bagian dari masyarakat sehingga memiliki kepekaan terhadap nurani masyarakat (a sense of community). Dalam masyarakat setiap individu berhubungan dengan individu lain, dan masing-masing memiliki potensi dan kualitas yang dapat disumbangkan pada sekolah.


Dalam era reformasi tetapi juga dalam keterpurukan ekonomi sekarang ini, kita merasakan keterbatasan dana dan menyaksikan tuntutan yang semakin tinggi akan adanya otonomi sekolah, akuntabilitas publik dan tranparansi, serta adanya harapan besar dari orang tua. Bila ketujuh ayat di atas dilaksanakan, pendidikan yang diselenggarakan sekolah akan berdampak dahsyat pada pembentukan manusia kapital di tanah air.