Showing posts with label olala. Show all posts
Showing posts with label olala. Show all posts

Wednesday, October 20, 2010

0sama, 0bama, 0lala

Oleh: Gede Prama *

Mungkin sudah jadi kebiasaan tua manusia untuk bikin stigma. Bila orang terlihat cocok dengan kriteria, ia disebut baik. Tatkala tidak cocok, buruk judulnya. Perang, pertempuran, pertengkaran, semuanya bermula dari sini. Yang disebut baik jadi kawan, yang disebut munafik jadi lawan.

Padahal, dari segi yang bersangkutan lain lagi. Teroris dan orang-orang seperti 0sama bin Laden sebagai contoh juga menyebut dirinya baik. Bahkan, ada yang menyebut diri sedang berperang membela Tuhan.

0rang-orang yang dinobatkan dunia sebagai orang baik (Presiden Amerika Serikat Barack 0bama sebagai contoh karena diberi hadiah Nobel Perdamaian), jangan-jangan memiliki keraguan, apakah layak disebut baik. Buktinya, ia perlu waktu lama untuk memutuskan mengirim pasukan ke Afganistan atau tidak. Dan ujungnya semua sudah tahu, ribuan tentara dengan tidak terhitung senjata dimasukkan ke Afganistan.

Perhatikan percakapan keseharian orang Indonesia beberapa tahun terakhir. Dari cicak-buaya, Century, sampai dengan makelar kasus (markus). Mana berita mana cerita rekayasa, mana wacana mana propaganda, mana hasil penelitian mana rekayasa penjualan, semuanya campur aduk. Bagi yang sentimen akan menyebut mafialah yang melakukan, bagi yang diuntungkan akan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ini tidak saja terjadi di negara berkembang, bahkan negara yang telah mengenal peradaban lebih dulu, seperti Inggris (sebagaimana ditulis Norman Fairclough dalam Discourse and social change), juga mengalami.

Begitulah dunia dan dinamikanya. Kalau dalam geografi berlaku rumus bentuk wilayah menentukan bentuk peta, dalam kehidupan manusia (tanpa disadari sepenuhnya) berlaku rumus sebaliknya: peta (cara memandang) menentukan bentuk wilayah yang dilihat (pemahaman).

Kehidupan nyanyian

Karena tahu bahaya dikacaukan pikiran, penekun kejernihan memilih terserap dalam-dalam (menyatu) dengan kekinian, kemudian mendengarkan kehidupan sebagai nyanyian ("0lala"). Nyanyian kehidupan serupa langit, ada saatnya terang benderang cerah bercahaya (baca: bersih jernih). Ada kala kelam ditutupi awan gelap (kesedihan). Di waktu lain, langit dibungkus awan putih (kebahagiaan) . Namun, awan gelap tak membuat langit jadi hitam. Awan putih tak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Dalam meditasi, ini disebut pencerahan.

Ciri pertama, batin sudah bangun dari tidur panjang (the awakened mind). Terlalu lama batin tidur lelap bersama gonjang-ganjing pikiran. Seolah-olah gonjang-ganjing pikiran itulah kehidupan. Ciri kedua, muncul rasa lapar untuk berbakti kepada yang di atas (devotion), serta berbagi welas asih kepada semua makhluk (infinite compassion). Bagi yang telah sampai di sini mengerti, kebahagiaan tak melakukan penambahan, kesedihan tak melakukan pengurangan. Demi kasih sayang kepada semua makhluk, nyanyian suci kehidupan tetap harus didendangkan.

Jalalludin Rumi punya puisi bagus sekali: "Kehidupan serupa tinggal di losmen. Setiap hari tamunya berganti. Tapi siapa pun tamunya, jangan lupa selalu tersenyum". Thich Nhat Hanh menyebut keadaan batin seperti ini present moment wonderful moment. Bila manusia kebanyakan hanya berbahagia jika menjadi majikan, Santo Fransiscus dari Asisi justru damai tatkala menjadi pelayan. Dalam bahasa kebanyakan, orang-orang seperti ini disebut "berkorban". Namun, bagi yang melaksanakan, mereka merasa damai sekali menjaga keseimbangan alam. Kadang disebut menyatu dengan nyanyian alam. Di tengah miliaran manusia yang hanya mau menang, harus ada yang mengambil kekalahan. Dalam arus zaman yang mengagungkan kemewahan, harus ada yang mengenakan baju kesederhanaan. Ketika kehidupan bergejolak seperti samudra keriuhan, mesti ada yang istirahat dalam keheningan.

Inti jalan ini hanya satu, melihat, melakoni, mengakhiri kehidupan dengan keindahan. Inilah kehidupan sebagai kidung (nyanyian) suci. Dalam bahasa orang Hindu, ia disebut Satchittananda. Siapa saja yang senantiasa terserap jadi satu ke dalam kekinian, ia akan melihat keindahan di mana-mana.

Makanya tetua Jawa (ditiru tetua Bali) di pekarangan rumahnya sering menanam sawo kecik. Dalam bahasa Bali diterjemahkan menjadi sarwa becik (semuanya baik). Harapannya agar setiap manusia yang bertumbuh di rumah bisa melihat bahwa semuanya baik. Karena demikianlah, orang-orang yang memperlakukan kehidupan sebagai nyanyian suci mengisi kesehariannya dengan praktik kesadaran dan keindahan. Bangun tidur sebagai contoh, dimulai dengan bergumam pelan: "Hidup adalah sebuah pilihan lengkap dengan konsekuensinya. Bila memilih kemarahan, penderitaan akibatnya. Jika mengisi kehidupan dengan welas asih, maka kebahagiaan hadiahnya".

Membuka pintu sebagai contoh lain, kelompok ini akan melafalkan renungan: "Pikiran berisi terlalu banyak burung riuh bernyanyi. Tuhan ditabrakkan dengan setan, orang baik dimusuhkan dengan orang munafik. Dengan membuka pintu ini, biarlah burung-burung riuh itu lepas ke angkasa. Menyisakan batin sunyi-sepi yang menyentuh hati". Bila dilanda sial, ia akan memanggil guru di dalam diri: "Guru terima kasih terus-menerus membimbing. Dalam sukacita guru sedang memotivasi. Dalam dukacita guru sedang mengajarkan untuk selalu rendah hati".

Dalam kehidupan yang diisi praktik kesadaran mendalam, semua tempat jadi tempat suci. Semua suara (termasuk pujian dan cacian) jadi mantra suci. Semua ciptaan jadi makhluk suci.

Sebagai hasil dari praktik mendalam seperti ini, manusia tak saja bisa tersenyum dengan bibir, juga bisa tersenyum dengan mata (baca: memandang semua dengan senyuman). Kadang ada yang menyebutnya memandang kehidupan dengan pandangan mendalam karena penuh pengertian dan permakluman. Hidup sesungguhnya serangkaian kidung suci. Cuma, semakin lama semakin sedikit yang menyanyikan kidung suci kehidupan. Dan di tengah hamparan samudra tangisan di mana-mana (bencana alam, bom teroris, bunuh diri, kriminalitas, korupsi, dan lain-lain), alangkah menyejukkan bila sebagian pojokan kehidupan mendendangkan nyanyian.

*) Gede Prama, Penulis Buku Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering into the Ultimate Healing

0sama, 0bama, 0lala

-- Khalil Gibran dalam ‘Sang Nabi’

Di satu ruko di pinggir Jakarta, seorang gadis tengah asyik menggesek biola. Tangan dan jari-jarinya belumlah sempurna memencet senar biolanya. Pantat biola sering jatuh dari pundaknya yang kecil. Maklum, usianya masih belum jauh berangkat dari angka lima. Namun dia senang tiada kepalang.

Sang ibunda mengambil kamera berponsel. Bunyi ngak-ngik-ngok menggempur telinga. Agak tidak beraturan nadanya. Namun si ibu senang dengan aksi anaknya di tempat kursus musik itu. Dia merekam aksi anak sulungnya selama tiga menit lewat sedikit. Yah, hampir tiga setengah menitlah. ”Ayah pasti senang,” katanya dengan tersenyum. Bangga sekali.

Nun jauh di timur Pulau Jawa. Ratusan kilometer dari Ibu Kota. Video berdurasi tiga setengah menit juga dibuat seseorang dan diunggah ke situs youtube.com. Isinya, sama-sama bocah. Tapi dia bukan bocah manis. Mulutnya disumpal sebatang rokok yang terus menyala dan omongannya itu lho, ampun, kasar dan vulgar.

Entah apa yang ada di benak si perekam dan mengunggahnya di situs video youtube.com. Jelas dia tidak sedang ingin bercanda dengan hasil rekaman video singkat itu. Namun, mungkin juga ia tidak pernah berpikir gambar hasil rekamannya itu dimaksudkan untuk memotret kelamnya sebuah negeri. 3,29 menit berlalu, negeri ini pun geger.

Berbagai berita mengabarkan tentang anak ini. Dia hidup bersama ibunya yang depresi dan tumbuh di lingkungan yang tidak bagus untuk pertumbuhannya. Kabarnya, Komnas Perlindungan Anak mendapatkan laporan sekitar 10 kasus serupa. Tapi itu mungkin yang ketahuan. Yang tidak dilaporkan?

Bisa jadi lebih. Lihatlah ke jalan-jalan. Saat berhenti di lampu merah, anak-anak yang baru berusia tiga hingga lima tahun sudah berada di sana dengan menengadah tangan, mengetuk-ngetuk jendela mobil. Sungguh pemandangan yang mengibakan.

Bocah-bocah ini tidak punya kesempatan belajar menggesek biola. Jangankan itu, untuk makan saja mereka terpaksa atau mungkin dipaksa untuk turun ke jalan. Ingus mereka belumlah kering, tapi mereka sudah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang.

Anak-anak adalah masa depan bangsa ini. Merekalah penerus negeri ini. Mereka yang kurang beruntung sejatinya menjadi urusan negara. Karena undang-undang memang mengamanahkan demikian. Namun kita semua tahu, negara ini terlalu banyak urusan yang harus ditangani.

Kita tentu bersyukur banyak orang-orang yang peduli dengan nasib buruk yang menimpa anak-anak itu. Sedikit uluran tangan pasti membantu anak-anak yang malang ini terhindar dari masalah besar. Anda pun dapat membantu mereka. Sesuai kemampuan Anda.

Tapi, bila kita tidak mampu melakukan itu, cukuplah menjaga anak-anak kita sendiri. Keluarga kita sendiri. Menghentikan semua urusan pekerjaan saat akhir pekan datang. Lalu membenamkan atau bahkan menjadi seperti diri mereka akan sangat menghilangkan kepenatan selama sepekan penuh. Jadi tak perlu ke tukang pijat.

Keluarga merupakan perhiasan yang sangat berharga. Anak-anak adalah permata yang makin membuatnya indah. Terlalu merugi untuk diabaikan.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009