Mengenang guru-guru SD Cidurian 05 Petang ( Pak Sutiman Suprayogi )
Di hari senin minggu terakhir buan April 2002, saya sempatkan untuk bertandang ke SD tercinta. Sebuah SD dibilangan Cikini, tepatnya SD Cidurian 05 Petang, komplek peserekolah dasar warga kecamatan Menteng pinggir. Menteng yang lain biasanya akan mengambil SD Besuki, SDArgentina, atai SD Cilacapnya Barack Obama. Tahun 1976 saat saya diantar ibu untuk mendaftar, bertemu dengan seorang pria kurus dengan rambut berombak lebat, mennatang kumisnya yang juga ”baplang” kata orang betawi. Namanya Pak Sutiman Suprayogi. Sebuah nama yang akan selalu saya kenang, seorang guru yang memberi cinta dan kasih ketika saya dihukum karena kenakalan teman-teman sekelas. ” Ini perbuatan siapa, nak ?”. Saya terdiam seribu bahasa, tidak mampu melihat mata beliau yang saya yakin akan tergenang oleh butiran air bening pancaran kegundahan hati. Saya tahu beliau bukan orang yang menghukum dengan berdiri di kelas dengan kaki terangkat satu dan satu tangan menunjuk ke langit-langi kelas, sementara yang satu sibuk menjewer telingan sendiri. Beliau adalah orang yang berdiskusi saat kita salah, atau khilaf karena ketidak tahuan.
Saya patut malu, semua keluarga saya terdidik oleh beliau. Delapan keluarga saya adalah lulusan SD Cidurian 05 Petang. Wajarlah mereka menegnal seklai didikan orang tua saya yang amat keras. Ujung pensil yang runcing adalah santapan paha kiri jika tidak mampu berkonsentrasi dalama mengerjakan soal. Telapak tangan yang akan terbuka menerima pukulan pengaris panjang, guru sekolah, guru ngaji bahkan Bapak di rumah. Saya malu kalau Bapak sepulang dari KOMDAK ( Polda Metro Jaya, nama pada saat itu) jika tahu saya mengecewakan guru di sekolah.
Setelah berpikir cukup lama, dengan keringat ketakutan, saya berusaha memandang wajah pak Sutiman Suprayogi, saya terperanggah. Beliau tersenyum, memegang kedua pundak saya dengan jalinan kasih. ” Ayo, nak. Bapak yakin kamu dapat menjelaskannya.” Seakan mendappatkan angin segar, kucuran kalimat yang dingin itu membuat kekuatan pada lidah dan bibir ini. ”Salah saya, Pak. Sebagai ketua kelas saya tidak memperingatkan teman-teman melakukan hal itu. Hukumlah saya, pak. Karena tidak berfungsi dengan sebenarnya.” Beliau makin melebarkan senyumnya. ”Anakku, mulai hari ini hingga 4 hari ke depan, kamu wajib merapihkan perpustakaan sekolah di depan ruang kepala sekolah. Saya minta harus rapih dan bersih.” Saya bahagia karena dihukum merapihkan tata letak buku dan ruangan 3 x 4 sebuah perpustakaan mini milik sekolah. ”Iya, pak. Saya terima hukuman tersebut.”
Setahun kemuadian saya terpilih sebagai siswa dengan peminjaman buku perpustakaan terbanyak untuk seluruh siswa pada komplek SD tersebut. Sayalah yang mengusulkan majalah intisari masuk ke ruang perpustakaan SD. Intisari adalah salah satu nmajalah ilmiah yang saya kenal mulai kelas 3 SD, dan Bapak selalu mengajak saya untuk membeli majalah Intisari bekas di sepanjang jalan kKramat Raya dari Bioskop Rivoli hingga Senen. Saya mendapatkan hukuman yang justru membuat saya tergila-gila akan buku, majalah EPPO, Intisari, cerpen Anita, koran Kompas dan Sinar Harapan, hingga Komik silat Djair, Api di Bukit Menoreh, Sabuk Sosro Naga Geni, bahakan cerita sastra Nh. Dini, Hamka dan lain-lain.
Terima kasih yaaa Bapakkuu,... cerita ini adalah salah satu bagian dari kehidupan saya yang tercatat di buku harian,... semoga tetap ada pahala buat para guru yang mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Amin
blog ini dipersembahkan untuk almamater tercinta, sebagai media informasi atau pun jalinan persahabatan dengan semua siswa,orang tua, alumni atau masyarakat luas.... dari alumni SMA Negeri 8 Jakarta angkatan 1988, wangsa jaya
Showing posts with label kenangan. Show all posts
Showing posts with label kenangan. Show all posts
Wednesday, June 2, 2010
Monday, December 1, 2008
Masa Indah
Entah sudah berapa lama saya harus menekur kehidupan ini. Semakin saya menyempatkan mengenang masa lalu, ternyata begitu banyak kenangan indah yang bukan hanya enak untuk dikenang, tetapi juga begitu banyak pelajaran yang membentuk pribadi yang fana ini. Peristiwa demi peristiwa silih berganti, baik yang sedih maupun gembira, bahkan mungkin menyakitkan dan mengiris hati. Begitu banyak sahabat dan teman yang berpulang menghadap sang Khalik, begitu banyak sahabat yang melanglang buana mengejar asa dan cinta, banhkan mungkin sahabat yang punya kemarahan karena dulunya saya tanpa sadar menyakiti mereka. Saya baru sadar bahwa saya dapat seperti ini, juga karena pertemanan dengan mereka. Pastilah ada kontribusi mereka terhadap pembentuk pribadi dan karakter saya sekarang. Terima kasih teman, terima kasih sahabat.
Minggu ini memang saya dedikasikan hari-hari saya untuk mengenang teman-teman semua. Teman-teman di SDN Cikini 05 Petang (Jl. Cidurian No.2 Menteng Jakarta Pusat), saya masih teringat dengan Bachtiarudin yang sekarang sedang sibuk mengurus Satelit ( salah seorang teman yang banyak menginspirasi saya, bayangkan dari keluarga yang hanya mempunyai lang rokok, tapi mampu menjadi juragan bajaj dan mapan seperti sekarang ini, wow ente mempunyai keluarga pejuang. Saya ingat selalu memangil kamu, boktoroyodon, hehehe, terpengaruh cergam di POSKOTA), ada wahyudi, ada nurhasnah, Ai, Wenda youpita Tirtoren orang cantik dari menado, ada dedi yang punya kampung kenari tempat kita sama-sama belajar silat betawi, hehehee. Saya akan sempatkan cerita tentang kemah kita pertama kali di Cinumpang Cisaat Sukabumi 28 tahun yang lalu, nantinya hehehe.
Hanya saya dan Bachtiarudin yang berhasil masuk ke SMP Negeri 1 Jakarta, di Cikini Raya 87, sebuah sekolah favorite di Jakarta masa itu. Gudang artis dan anak pintar Jakarta. Biasanya lulusannya hanya akan tersebar di SMA Negeri 3 Teladan, SMA Negeri 4 dan 7 Gambir. Tapi nyatanya memang berbeda pas angkatan saya. Kelas satu saya mengenal Era, Wenny, IGN Budi, Parintosa, Pontjo Djuli, Endang Mawardi, Paulina, Baby Ulifia, Ira Koesno, Djarot Handoko. Selalu aktif di kepramukaan. Kak Fauzie Abdul Fatah sang pembina yang banyak sekalai memberikan diskusi hangat tentang pembentukan kedewasaa berpikir dan mengakomodir keinginan diri, serta berjuang dengan potensi yang ada. Ada kak Ozie (kami memanggilnya), semua masalah menjadi bisa ditaklukan. Sempat masuk kelas anak berbakat, 28 orang anak yang harus belajar trigonometri hingga kalkulus, padahal masih SMP kelas 2, hehehehe. Membuat percobaan jembatan wheatstone, dan yang lain-lain, hehehe. Jadi ingat bu Meta Sitohang, yang membuat saya cinta akan BIOLOGI. Teknik beliau untuk menghapal, tak ada yang mengalahkan. Sampai hari ini, saya masih mampu menjelaskan proses pencernaan darei mulut hingga pembuangan, sedetil 25 tahun yang lalu bu. Semoga Allah memberik kesehatan buat ibu. Pak Busra yang mengajarkan matematik, sedemikian mudahnya. Sampai Almarhum Bapak saya menganggumi beliau. Mr Bambang Herjito, kok bisa pak ya, fisika jadi lumer di otak, hehehehehe. Dan tentunya seorang nenek yang mengajarkan dengan hati mrs Tati Sugiarti, bahasa inggris tulen. Untuk yang ini memang berbeda, hijrahnya beliau menjadi lebih Islami, membuat saya berkunjung kembali saat SMA kelak. Masih tinggal di depan gedung pola, bu ?.
Selanjutnya nantiakan akan saya bawa ke masa SMA, sebuah sekolah yang membuat saya percaya diri.
Minggu ini memang saya dedikasikan hari-hari saya untuk mengenang teman-teman semua. Teman-teman di SDN Cikini 05 Petang (Jl. Cidurian No.2 Menteng Jakarta Pusat), saya masih teringat dengan Bachtiarudin yang sekarang sedang sibuk mengurus Satelit ( salah seorang teman yang banyak menginspirasi saya, bayangkan dari keluarga yang hanya mempunyai lang rokok, tapi mampu menjadi juragan bajaj dan mapan seperti sekarang ini, wow ente mempunyai keluarga pejuang. Saya ingat selalu memangil kamu, boktoroyodon, hehehe, terpengaruh cergam di POSKOTA), ada wahyudi, ada nurhasnah, Ai, Wenda youpita Tirtoren orang cantik dari menado, ada dedi yang punya kampung kenari tempat kita sama-sama belajar silat betawi, hehehee. Saya akan sempatkan cerita tentang kemah kita pertama kali di Cinumpang Cisaat Sukabumi 28 tahun yang lalu, nantinya hehehe.
Hanya saya dan Bachtiarudin yang berhasil masuk ke SMP Negeri 1 Jakarta, di Cikini Raya 87, sebuah sekolah favorite di Jakarta masa itu. Gudang artis dan anak pintar Jakarta. Biasanya lulusannya hanya akan tersebar di SMA Negeri 3 Teladan, SMA Negeri 4 dan 7 Gambir. Tapi nyatanya memang berbeda pas angkatan saya. Kelas satu saya mengenal Era, Wenny, IGN Budi, Parintosa, Pontjo Djuli, Endang Mawardi, Paulina, Baby Ulifia, Ira Koesno, Djarot Handoko. Selalu aktif di kepramukaan. Kak Fauzie Abdul Fatah sang pembina yang banyak sekalai memberikan diskusi hangat tentang pembentukan kedewasaa berpikir dan mengakomodir keinginan diri, serta berjuang dengan potensi yang ada. Ada kak Ozie (kami memanggilnya), semua masalah menjadi bisa ditaklukan. Sempat masuk kelas anak berbakat, 28 orang anak yang harus belajar trigonometri hingga kalkulus, padahal masih SMP kelas 2, hehehehe. Membuat percobaan jembatan wheatstone, dan yang lain-lain, hehehe. Jadi ingat bu Meta Sitohang, yang membuat saya cinta akan BIOLOGI. Teknik beliau untuk menghapal, tak ada yang mengalahkan. Sampai hari ini, saya masih mampu menjelaskan proses pencernaan darei mulut hingga pembuangan, sedetil 25 tahun yang lalu bu. Semoga Allah memberik kesehatan buat ibu. Pak Busra yang mengajarkan matematik, sedemikian mudahnya. Sampai Almarhum Bapak saya menganggumi beliau. Mr Bambang Herjito, kok bisa pak ya, fisika jadi lumer di otak, hehehehehe. Dan tentunya seorang nenek yang mengajarkan dengan hati mrs Tati Sugiarti, bahasa inggris tulen. Untuk yang ini memang berbeda, hijrahnya beliau menjadi lebih Islami, membuat saya berkunjung kembali saat SMA kelak. Masih tinggal di depan gedung pola, bu ?.
Selanjutnya nantiakan akan saya bawa ke masa SMA, sebuah sekolah yang membuat saya percaya diri.
Subscribe to:
Posts (Atom)