blog ini dipersembahkan untuk almamater tercinta, sebagai media informasi atau pun jalinan persahabatan dengan semua siswa,orang tua, alumni atau masyarakat luas.... dari alumni SMA Negeri 8 Jakarta angkatan 1988, wangsa jaya
Sunday, September 12, 2010
Pemimpin yang adil penghuni syurga
Banyak nasehat beliau, tetapi yang paling saya kenang adalah : sampaikan hewan kurban ke rumah-rumah penduduk yang termasuk fakir miskin, jangan kumpulkan mereka di sekolah. Malu rasanya kalau fakir miskin dibariskan hanya untik 1 -2 kg daging kambing atau sapi.
Entah beberapa tahun yang lalu, terdengar heboh : 3 orang tewas mengantri zakat di kabupaten x di Jawa Timur. Berita itu sedemikian menusuk hati. Bayangkan mereka meregang nyawa hanya karena zakat fitrah, yang seharusnya menjadi hak mereka. Sebuah pertarungan yang sia-sia. Akhir berita, yang memberi zakat dan panitia diputuskan bersalah dan ditahan, karena lalai sehingga berakibat kepada keselamatan orang lain.
Syahdan kata hikayat, berabad-abad yang lalu seorang khalifah yang telah merasa berhasil akan kepemimpinannya, berusaha mencari info secara langsung. Sang khalifah dengan penyamaran yang tidak diketahui para pengawalnya berjalan-jalan di wilayah perkampungan sebuah wilayah. Jalan demi jalan, perumahan demi perumahan telah dia lalui, semua orang tertidur pulas, mungkin karena kemakmuran telah membuat penduduk nyaman untuk hidup. Tetapi kenyataan memang selalu tidak sama dengan yang kita pikirkan. Measuki perkampungan berikut, sang khalifah mendengar tangis anak kecil dan sebuah gubuk yang masih terlihat terang, dengan perapian yang masih menyala.
Tangisan anak kecil tersebut mengundang sang khalifah untuk berkunjung ke rumah tersebut. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terbukalah pintu gubuk itu. Tampak seorang tua rentah, dengan wajah yang masih mampu bertahan hidup mempersilakan sang khalifah masuk. Singkat pembicaraan, obrolan semakin lama, sang khalifah bertanya : sedang masak apa ? Orang tua tersebut tersenyum dengan wajah tuanya, : saya sedang memasak batu, saya berharap anak-anak dapat tertidur pulas karena menunggu batu ini matang. Karena mereka tidak tahu yang saya masak adalah batu.
Sang khalifah terkaget-kaget. Bahkan lebih kaget saat orang tua tersebut menyampaikan keluhannya tentang sang khalifah. ”mungkin sang khaifah sedang tertidur karena kecapaian mengurus bangsa dan negara ini.” Tanpa berlama-lama, sang khalifah berpamit pulang untuk menuju baitul mal. Sang penjaga sangat bingung karena sang khalifah bermalam-malam mengambil satu karung gandum, memanggul karung tersebut menuju gubuk tersebut. Sang khalifah sadar, ternyata rakyat yang dia pimpin masih ada yang miskin dan menjadi tanggung jawabnya. Yang lebih menyakitkan orang tua tersebut harus berbohong kepada anak-anaknya, tentunya sang khalifah tidak ingin dimurkai Allah di padang Masyar kelak.
Dua setengah prosen adalah kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita. Itu adalah hak fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil dan lainnya. Nilainya kecil, tetapi dihadapan Allah itu adalah penghapus dari kotoran dalam rizqi kita. Muhammad adalah orang yang tidak pernah menghardik anak yatim, beliau bahkan memuliakannya. Bahkan beliau mengangkat mereka menjadi anak sendiri.
Kematian seorang anak manusia demi uang seratus ribu atau pun lebih kecil dari itu, mengumpulkan fakir miskin dalam acara apa pun tidak pernah diajarkan rasulullah. Seharusnya kita malu mengumpulkan saudara kita untuk berbarisa, datangi, berikan hak mereka, insya Allah berkah. Pemimpin yang adil, akan tertidur pulas saat dia tahu seluruh rakyatnya telah makan, pemimpin yang adil akan berpakaian indah setelah tahu seluruh rakyatnya tidak kedingiinan dan masuk angin karena tidak ada selembar kain pun yang menutup tubuhnya.
Andaikan BAZIS berjalan dengan benar, semua umat mengumpulkan zakat dengan tidak mengharapkan untuk dilihat orang sehingga menaikkan citra, rasanya keiklashan akan menjadi modal dasar pemimpin yang adil penghuni syurga Allah. Jangan ada lagi seorang ibu yang menggendong mayat anaknya di kereta api, jangan ada lagi anak manusia di neger ini ditanyakan ada uang jaminan saat masuk ICU rumah sakit manapun, jangan ada lagi seorang siswa SD dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah dengan bayaran sekolah. Jangan ada ketakutan dicaci maki anak bangsa, jangan sampai Allah yang melaknat kita. Semoga jadi bahan renungan.
Saturday, September 11, 2010
Pemimpin yang adil penghuni syurga
Banyak nasehat beliau, tetapi yang paling saya kenang adalah : sampaikan hewan kurban ke rumah-rumah penduduk yang termasuk fakir miskin, jangan kumpulkan mereka di sekolah. Malu rasanya kalau fakir miskin dibariskan hanya untik 1 -2 kg daging kambing atau sapi.
Entah beberapa tahun yang lalu, terdengar heboh : 3 orang tewas mengantri zakat di kabupaten x di Jawa Timur. Berita itu sedemikian menusuk hati. Bayangkan mereka meregang nyawa hanya karena zakat fitrah, yang seharusnya menjadi hak mereka. Sebuah pertarungan yang sia-sia. Akhir berita, yang memberi zakat dan panitia diputuskan bersalah dan ditahan, karena lalai sehingga berakibat kepada keselamatan orang lain.
Syahdan kata hikayat, berabad-abad yang lalu seorang khalifah yang telah merasa berhasil akan kepemimpinannya, berusaha mencari info secara langsung. Sang khalifah dengan penyamaran yang tidak diketahui para pengawalnya berjalan-jalan di wilayah perkampungan sebuah wilayah. Jalan demi jalan, perumahan demi perumahan telah dia lalui, semua orang tertidur pulas, mungkin karena kemakmuran telah membuat penduduk nyaman untuk hidup. Tetapi kenyataan memang selalu tidak sama dengan yang kita pikirkan. Measuki perkampungan berikut, sang khalifah mendengar tangis anak kecil dan sebuah gubuk yang masih terlihat terang, dengan perapian yang masih menyala.
Tangisan anak kecil tersebut mengundang sang khalifah untuk berkunjung ke rumah tersebut. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terbukalah pintu gubuk itu. Tampak seorang tua rentah, dengan wajah yang masih mampu bertahan hidup mempersilakan sang khalifah masuk. Singkat pembicaraan, obrolan semakin lama, sang khalifah bertanya : sedang masak apa ? Orang tua tersebut tersenyum dengan wajah tuanya, : saya sedang memasak batu, saya berharap anak-anak dapat tertidur pulas karena menunggu batu ini matang. Karena mereka tidak tahu yang saya masak adalah batu.
Sang khalifah terkaget-kaget. Bahkan lebih kaget saat orang tua tersebut menyampaikan keluhannya tentang sang khalifah. ”mungkin sang khaifah sedang tertidur karena kecapaian mengurus bangsa dan negara ini.” Tanpa berlama-lama, sang khalifah berpamit pulang untuk menuju baitul mal. Sang penjaga sangat bingung karena sang khalifah bermalam-malam mengambil satu karung gandum, memanggul karung tersebut menuju gubuk tersebut. Sang khalifah sadar, ternyata rakyat yang dia pimpin masih ada yang miskin dan menjadi tanggung jawabnya. Yang lebih menyakitkan orang tua tersebut harus berbohong kepada anak-anaknya, tentunya sang khalifah tidak ingin dimurkai Allah di padang Masyar kelak.
Dua setengah prosen adalah kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita. Itu adalah hak fakir miskin, yatim piatu, ibnu sabil dan lainnya. Nilainya kecil, tetapi dihadapan Allah itu adalah penghapus dari kotoran dalam rizqi kita. Muhammad adalah orang yang tidak pernah menghardik anak yatim, beliau bahkan memuliakannya. Bahkan beliau mengangkat mereka menjadi anak sendiri.
Kematian seorang anak manusia demi uang seratus ribu atau pun lebih kecil dari itu, mengumpulkan fakir miskin dalam acara apa pun tidak pernah diajarkan rasulullah. Seharusnya kita malu mengumpulkan saudara kita untuk berbarisa, datangi, berikan hak mereka, insya Allah berkah. Pemimpin yang adil, akan tertidur pulas saat dia tahu seluruh rakyatnya telah makan, pemimpin yang adil akan berpakaian indah setelah tahu seluruh rakyatnya tidak kedingiinan dan masuk angin karena tidak ada selembar kain pun yang menutup tubuhnya.
Andaikan BAZIS berjalan dengan benar, semua umat mengumpulkan zakat dengan tidak mengharapkan untuk dilihat orang sehingga menaikkan citra, rasanya keiklashan akan menjadi modal dasar pemimpin yang adil penghuni syurga Allah. Jangan ada lagi seorang ibu yang menggendong mayat anaknya di kereta api, jangan ada lagi anak manusia di neger ini ditanyakan ada uang jaminan saat masuk ICU rumah sakit manapun, jangan ada lagi seorang siswa SD dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah dengan bayaran sekolah. Jangan ada ketakutan dicaci maki anak bangsa, jangan sampai Allah yang melaknat kita. Semoga jadi bahan renungan.
Wednesday, April 14, 2010
Sabar,... masa depan adalah tujuan, masa lalu adalah kenangan dan masa kini adalah perjalanan
Kasus teman-teman akhwat di SMAN 68 yang berujung keluarnya para akhwat dari sekolah di tahu 1987-an akhir. Peristiwa penarikan jilbab di sekitar Kuningan Setiabudi. Bahkan issu Jilbab beracun. Lucunya masa itu banyak ikhwan yang membungkus Al Qur;an terjemahannya dengan wanitaIran berjilbab panjang menyandang M-16 atau Ak 47.Entah mengapa sosok wanita berjilbab saat itu menjadi primadona para ikhwan di hampir semua remaja mesjid SMA.
Setelah menjadi guru di SMANDEL, saya makin bangga bertemu dengan teman-teman atau adik kelas yang dulu berjuang untuk menutup aurat tubuhnya, untuk mnyelamatkan saudaranya dari neraka. Masa jahil mereka, tanpa jilbab adalah hal yang harus saya lupakan. Yang mesti diingat adalah perjuangan mereka memutuskan mengggunakan perintah Allah sebagai jalan hidup, pilihan hidup, be a good moeslem or die as syuhada,....
Beberapa menit yang lalu saya meilihat salah satu saudara saya begitu bangganya memperlihatkan auratnya saat masa-masa jahiliyah. Saya tercenung, apa ada yang salah? Kenapa kita tidak melupakan masa lalu yang mungkin akan menyakitkan kita, karena dosa-dosa kita pada-Nya ? Sebandingkah dengan kenangan yang kita dapatkan ? Lagi-lagi sebandingkah ?
Tahun 2002, saya mengenal seorang akhwat yang memilih memakai cadar,... karena malu dengan dosa masa lalu. Dia rela kehilangan semua pertemanannya, semua masa indah bahkan semua mantan-mantan pacarnya. Biarlah saya kehilangan dunia saya, tetapi saya tidak kehilangan rahmat Allah. Sampai hari ini, dia masih sering menulis di salah satu majalah islam ternama. Beberapa bukunya tentang pergaulan pria-wanita memang tidak selaku novel-novel percintaan islami. Buatnya yang hitam dan putih,.. jangan diabu-abukan.
Saya telah menghapus kenanganya saat SMA, saya hanya ingat dia tahun 2000-an, dan yang terbayang oleh saya sekarang ini hanyalah jilbab dan cadarnya,... subhanallah...
Tiap Pribadi Unik Sekali
Tentunya teman-teman pernah mendengar cerita tentang seorang nenek tua yang menangis di sebuah surau, karena dia tidak bisa lagi menyapu membersihkan halamana mesjid, karena pohon dekat mesjid ditebang sang marbot, atau cerita seorang teman yang membantu teman dengan menyelipkan uang di tas, saat temannya tertidur, atau seorang tamu Allah yang selalu meletakkan uang di bawah tikar/sajadah mesjid sehabis sholat dzuhur. Kisah ini mungkin agak berbeda.
Ikhwan, pria kurus kering, hitam legam terbakar matahari, adalah seorang pemuda yang selalu tertidur di pojok belakang mesjid. Sehabis mengantar Koran pagi hari, bahkan tepatnya subuh hari, Ikhwan selalu mampir ke mesjid, menukar waktunya dengan berjual beli kepada Allah.
Saat usianya beranjak 7 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Kebakaran di kampung Bulak telah menelan semua keluarga dan tetangganya. Maklumlah rumah petakan, belakan pasar Klender Jakarta Timur. Mulailah Ikhwan hidup sebatang kara. Pak Haji Badri pemilik salah satu kios di Jatinegara-lah yang menyelamatkan Ikhwan dari kesendirian hidup.
Sudah hampi sepuluh tahun Ikhwan menjadi marbot tambahan, di mesjid tua Jatinegara Kaum. Sehabis sholat subuh, ikhawn akan mengayu sepedanya menuju pasar Sunan Giri untuk mengambil Koran pagi. Ikhwan akan menyusuri jalan-jalan bernama ikan di Rawamangu. Hingga pukul 7, keringat akan menemani pagi yang selalu memberi harapan. Ikhwan belajar menabung seperti yang diajarkan oleh Pak Haji.
Pak Haji Badri menabung dari kecil, hingga mampu mempunyai kios seperti sekarang ini. “Menabung untuk masa depanmu.” Itulah kalimat yang selalu dia dengar. Ikhwan telah melakukannya hamper 10 tahun. Setiap hari, sehabis mengantar Koran, dia selalu menabung.
Dua hari ini Ikhwan terserang flu, lumayan berat. Tetapi denga tekad yang kuat dia tetap melakukan sholat malam, dzikir hingga subuh pagi itu. Saat pak Haji Badri menyampaikan Kuliah Subuh, Ikhwan masih tegar duduk dengan kopiah tua dan sarung yang tidak pernah tersetrika. Tetapi tetap bersih karena selalu dicuci olehnya sendiri. Hampir 30 menit Kuliah Subuh diberikan. Setelah selesai, semua jamaah saling bersalaman, berpelukan dan mendoakan untuk kebaikan hari ini dan esok. Semua jamaah telah berdiri dan berputar bersalaman,.... kecuali seorang jamaah. Ikhwan. Dia masih terduduk dengan kepala tertunduk ke depan, jemarinya masih memegang untaian tasbih. Beberapa kali panggilan dari pak Haji Badri dan jemaah lain, tidak membuatnya terbangun. Khawatir tertidur pulas, Pak Haji Badri mendekatinya dan duduk di sebelah Ikhwan. Pak Haji lama terdiam, dan terdengar tangis kecil seorang muslim tangguh. Jamaah lain tersadar telah terjadi sesuatu. Pak Haji masih memegang tangan yang telah berubah dingin. Ikhwan telah pergi menghadap sang Khalik.
Pagi itu pun berubah, mesjid menjadi ramai oleh kesibukan para jamaah untuk menguburkan Ikhwan. Dengan seijin Kepala DKM, ruang marbot tempat lemari Ikhwan berada dibuka, untuk mengetahui mungkin ada hal-hal yang dipesankan oleh almarhum, atau mungkin masalah hutang piutang yang belum terbayarkan. Pak Haji Badri telah menyatakan akan membayar semua hutang Ikhwan kepada siapa pun. Saat lemari terbuka, terlihat beberapa pakaian, dengan beberapa buku dan kitab kuning. Pak Haji sempat kaget dengan jumlah pakaian yang ada. Tidak mampu membeli atau memang tidak mau membeli.
Terliha ada tumpukan amplop, yang tertutup rapi. Ada kalimat di setiap bagian depan amplop. Untuk Bu Ijah, penjual gado-gado di Pasar Waru. Untuk Pak Karyo, petugas kebersihan. Untuk Pak Alim, marbot mesjid. Untuk Dik Seno, siswa SD Negeri 12 Rawamangun. Dan lain-lain. Jumlah amplop tersebut hampir 50 buah. Pak Haji Badri kebingungan, ”Apa Ikhwan banyak hutang ?”. Pak Haji meminta warga lain, untuk mencari pemilik amplop-amplop tersebut. Sehingga hak orang-orang itu sampai.
Jam 09.00, berkumpulah ke 50 orang tersebut. Pak Haji menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran mereka, serta memohon maaf atas ketidaknyamanan hari ini. Terutama atas kelakuan Ikhwan. Para warga yang 50 orang tersebut bingung, Ikhwan itu siapa dan ada apa mereka dikumpulkan ? Karena suasana gaduh akhirnya pak Haji Badri menjelaskan duduk perkaranya. Dan semua warga melihat jenazah Ikhwan yang belum dikebumikan karena menunggu proses hutang piutang itu selesai. Warga makin bingung. Apalagi setelah pak Haji Badri membagikan Amplop. Pak Haji menjelaskan, ” Amplop ini pesannan almarhum untuk bapak ibu, mungkin hutan atau apa. Saya hanya menyampaikan.” Pak Haji menjelaskan hal tersebut sambil membuka penutup mayat. Semua warga terkaget dan berdesah , ” si tukang koran.”
Karena merasa makin bingung, warga membuka amplop tersebut. ”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih ibu, yang telah memberikan saya air minum. Pagi ini, selasa 12 januari 1998. Semoga uang ini dapat menebus air yang saya minum.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih bapak marbot, yang telah membangunkan saya untuk sholat subuh. Subuh, Minggu 18 januari 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih Pak Karyo, yang telah membantu saya saat terjatuh dari sepeda di Jalan Gurame. Senin, 16 February 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.” Dan seterusnya, seterusnya....
Pak Haji Badri menangis sejadi-jadinya. Ikhwan telah melakukan pelajaran yang diberiaknnya melebih apa yang dipikirkannya. Pak Haji menabung bertahun-tahun hanya menadapatkan kios, sementara Ikhwan menabung bukan untuk mendapatkan kios,... dia membangun rumah di surga. Membayar semua kebaikan orang di bumi. Bukan membayar hutang di akherat, yang akhirnya hanya akan terbayarkan oleh amal kebaikan kita. Ikhwan menabung di Bank Allah. Janji Allah pasti.
Friday, April 2, 2010
Hijab, ibadh dan Ikhlash
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,…. udah haji padahal, kok masih begitu,… katanya muslim kok memfitnah….. masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,…. ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang….. salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,….. serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,… sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,…. pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,……. sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
ibadah, hijab dan iklash
Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.
Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.
Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.
Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,.... udah haji padahal, kok masih begitu,... katanya muslim kok memfitnah..... masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.
Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,.... ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang..... salah ah.
Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,..... serammmmmm.
Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.
Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,... sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,.... pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,....... sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.
Thursday, February 26, 2009
Kisah Hamba Sahaya dan Tuhannya
Hari itu, kira-kira 2 tahun yang lalu, Cak Kadir yang selalu mengantar Pak Somad ke kantor pusat tidak hadir, Pak Somad marah sekali, walau pun dia berusaha menahannya, tetapi tetap saja keluar kalimat yang tidak semestinya. Untungnya Pak Somad langsung mengucapkan istighfar. Sang istri hanya mengelus bahu Pak Somad untuk sabar, mungkin Cak Kadir ada gangguan di jalan. Akhirnya dengan kekesalan yang cukup mengganggu konsentrasi, Pak Somad naik taksi Express. Sepanjang jalan pak Somad berusaha menghilangkan kekesalan hati dengan mengobrol dengan sopir taksi tersebut. " Aslinya mana mas ?", kalimat pembuka yang pasti akan dijawab jujur oleh sopir kendaraan manapun. Tanpa sadar pak Somad mengeluarkan uneg-unegnya kepada sopir tersebut mengenai Cak Kadir. Hingga kahir perjalanan, selesai pula cerita pak Somad kepada sopir taksi, orang yang baru dikenalnya tetapi telah tahu sedikit tentang sisi kehidupannya.
Kepemimpinan pak Somad memang membawa hasil yang bagus untuk keluarga, kelimpahan rizki karena jabatan beliau juga karena doa dari istri dan anak-anaknya di rumah. Harus diakui semakin kita mendapatkan rahkmat dari Allah, jabatan dan kemudahan hidup, maka akan semkain banyak pula godaan yang datang. Begitu pun dengan pak Somad. Gaji yang rutin diterima menjadi bernilai kecil ketika dia mendapatkan bonus atau pun apa namanya dari rekanan-rekanan bisnis yang selama ini selalu datang ke kantor. Mulai ada godaan untuk membuat proyek, membuat proposal dan kegiatan-kegiatan sosial atau pun pelatihan. Hampir semua ide pak Somad diterima oleh jajaran Direksi Kantor Pusat. Apalagi pak Somad mulai membagi-bagi "kue".
Tahun berganti tahun, pak Somad dikenal Mentri dan di proyeksikan untuk menjadi direktur utama BUMN. Beberapa kali pak Mentri mengundangnya untuk bertukar pikiran. Kesibukan demi kesibukan, membuat pak Somad yakin bahwa semua hal bisa dicapai dan diraih, dengan kerja keras dan persekawanan. Koneksi harus dijaga, itu pikir pak Somad. Mulailah kesibukan menjamu tamu ini-itu, rekanan ini-itu. Dan semua itu butuh dana yang tidak sedikit. Mulanya memanga hanya sekedar makan siang di Restoran Sederhana Tebet, berlanjut ke Starbug dan seterusnya. Hanya Allah yang tahu.
Hingga suatu hari, pak Somad sadar bahwa itu semua harus ada dana tersendiri. Dana Pembinaan, semacam itulah. Maka terjadilah pembicaraan dengan bendahara untuk menyisihkan dari semua pos kepada dana tersebut. Sang Bendahara karena tahu posisi pak Somad yang sudah dikenal menteri, memberi ijin. Mulai saat itu amat berlimpagh hidup pak Somad, mudah mendapatkan uang dari mana pun, mudah meminta dari mana pun, bahkan dengan kewenangannya pak Somad mampu menggeser siapa pun orang yang tidak disukainya.
Pak Somad mulai jarang pulang ke rumah, jarang berjamaah dengan anak dan istri, jarang berkumpul dengan warga sekitarnya. Hingga akhirnya pak Somad tertangkap tangan di sebuah hotel dengan rekan-rekan bisnis sedang berpesta ria, shabu-shabu. Beberapa wanita nakal pun tertangkap. Tayangan televisi menunjukkan muka pak Somad yang masih dalam keadaan mabuk. Sang istri jatuh terjerembab melihat berita televsi pagi hari, pingsang tidak diketahui siapapun.
Hari ini pak Somad merafalkan Al Fatihah, berusaha mengerti makna dan artinya. Allah memberi perimbangan hidup seperti halnya surat Al Fatihah. Empat ayat pertama untuk Allah, berupa pujian dan sanjungan, berupa pernyataaan keyakinan akan kekuasaan Allah. Sedangkan ayat ke lima merupakan ayat pernyataan kita untuk melakukan sesuatu. Tetapi dengan kalimat "Hanya kepada Mu kami menyembah, dan hanya kepada Mu kami mohon pertolongan".
Sembahlah Allah, setelah silakan meminta pertolongan dan itu hanya kepada Nya. Pak Somad telah membalikan ayat ini, dia begitu yakin bahwa mampu mengambil rizki seseorang karena kekuasaannya. Karena kewenangannya, karena kedekatannya dengan atasan. Padahal Allah bisa mencabut apa pun dari seseorang atau kaum, jika Allah memang berkenan.
Monday, February 2, 2009
Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku
Friday, January 23, 2009
Pemimpin Umat
Kalian semua adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri, dan ingat setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Sebuah kalimat yang selalu kita ingat saat ada pelantikan sebuah organisasi, minimal kita diingatkan bahwa ada pertanggung jawaban dari semua kegiatan/ kepemimpinan kita. Biasanya pemimpin yang baru dilantik sedemikian cerianya, karena begitu dihormati dan dipuja. Padahal banyak orang berilmu amat menolak untuk menjadi pemimpin bagi sebagian orang lain. Karena boleh jadi di mata Allah ada yang lebih baik dari dirinya.
Hal ini ditegaskan oleh salah seorang khalifah,”Saya bukan orang yang terbaik diantara kalian, saya hanyalah orang yang terpilih. Belum tentu yang tidak terpilih adalah orang yang tidak baik. Oleh karenanya bantu saya dan ingatkan saya. Luruskan saya jika saya menyimpang.” Seorang sahabat yang amat menyintai saudaranya tersebut dan tahu akan beban tanggung jawab dihadapan Allah kelak, dia menjawab,”Yaa, khalifah. Jika engkau menyimpang, saya akan meluruskan dengan pedang ini,” seraya menghunus pedang yang telah menewaskan kaum kafir di masa Rasulullah. Sang khalifah dengan tersenyum, berkata,”Terima kasih saudaraku, engkau telah menetapkan aku sebagai saudara di syurga kelak.”
Picik kah kisah di atas, tentu tidak. Malahan itulah pemimpin yang dihormati, dia rela mati ditangan saudaranya karena salah memimpin. Bantu, ingatkan dan luruskan. Begitu banyak pemimpin yang takut tidak berhasil dalam kepemimpinannya justru melakukan tindakan-tindakan yang membuat saudaranya bukan mau membantu, bukan mau mengingatkan, bahkan boleh jadi amat ketakutan untuk meluruskan. Sedemikian kuatnya arogansi sang pemimpin, sehingga menjadi ananiyah. Dirinya adalah yang HARUS PALING.
Tanpa sadar pemimpin kurang melihat tanda-tanda ketidak puasan, bahkan sudah tidak mampu melihat dengan mata hati, begitu banyak rakyatnya yang terzalimi oleh pola kepemimpinannya. Umar ibn Khatab selalu menangis di malam hari, dalam ketenangan tahajjud, bertemakan sajadah apa adanya, hanya untuk mengevaluasi dosa apa yang telah dia lakukan hari ini ? Apakah ada rakyat terzalimi oleh kata-kata, ungkapan dan bahkan mungkin bercandanya beliau ?
Yang amat rasulullah hindari adalah memanggil saudaranya seiman dengan gelaran-gelaran yang buruk. Bayangkan jika semua panggilan kita membahagiakah saudara-saudar kita, seperti halnya rasulullah memanggil,”khumairah,” kepada salah seorangg istrinya. Semua makhluk ciptaan Allah Azza Wajjalah. Manusia adalah makhluk sempurna. Saya sedih ketika pulang ke rumah membawa cerita kepada bunda di rumah. “Tadi teman-teman guru di sekolah sedih, karena di bilang bloon.” Ibu saya tidak bersekolah, punya keinginan tapi tidak ada kemudahan saat itu. Beliau belajar mengaji dari desa Kalisube di Banyumas, menempuh 2,5 jam per jalanan melewati pematang sawah, semak belukar dan pingggiran hutan, hanya punya tekad agar anak-anaknya tidak mempunyai kelemahan yang disandangnya, kurang pandai karena kondisi. Hampir 72 tahun usia beliau, menghidupi tujuh putri dan dua putra, termasuk saya.
“Kamu, tidak marah nak ? ….. Udah kamu doakan orang tersebut agar sadar akan kekhilafannya ? …… Kamu kirimkan saja Al Fatihah, semoga Allah tidak menarik rahmat darinya,” kata ibu pelan seraya menyentuh keningku, Walau usia saya 41 tahun, saya yang belum punya tanggungan, masih bisa bermanja-manja dengan bunda.
Semoga bunda tidak tersinggung, juga teman-teman guru dan tentunya guru-guru yang telah mengajar saya ketika SMA. Masih ada bu Astri, bu Ferry, bu Nurlela, bu Cut, pak Ugi, pak Warno, bu Sri Hastuti, pak Raziek, pak Ali Muntoro, bu Tatik, pak Priyohadi, pak Udi, mereka semua yang secara langsung mengajar saya. Semoga mereka tetap mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah. Mendidik dan membesarkan saya, di SMA Negeri 8.
Ada satu cerita lain yang harus menjadi renungan kita. Terinspirasi oleh guru-guru yang saya sebutkan di atas. Sampai hari ini, tampilan mereka tidak berubah. Kemakmuran kalau dihitung dari jumlah limpahan kemudahan di dunia, rasanya mereka belum mencapai hal itu. Mereka bahagia dengan yang Allah limpahkan saat ini. Karena setahu saya mereka memang guru sesungguhnya, produk lama dengan visi sepanjang masa, Guru mendidik bukan membodohi, jika seorang guru menjadi pemimpin dan membodohi, hal itu pasti lebih fatal. Audzubillah min dzalik.
Suatu saat, datanglah seorang anak kepada ayahnya. Ayahnya sedang mengerjakan pekerjaan kantor.
“Asslamu’alaikum.”
“Wa’alailum salam warahmatulahi wabarakatuh, silakan masuk. Oh kamu nak….. Ada apa kok mampir ke tempat ayah ?”
Anak tersebut mendekati ayahnya, mencium tangan ayahnya, dan berkata,” Yah,…. Saya mau bicarakan masa depan saya,….. boleh yah?”. Dengan sigap, pegawai kantor tersebut mematikan lampu dan menarik anaknya duduk di lantai tidak mempersilakan anak tersbeut duduk di sofa empuk depan meja kerjanya. “Yah, kenapa lampunya dimatikan dan kenapa kita duduk di bawah, padahal ada kursi kosong di ruang ini.”
Dengan suara perlahan, pegawai tersebut mendekatkan mulutnya ke telinga putranya,”Anakku, bukan karena ayah marah kamu datang dan bertanya seperti itu. Ayah senang kamu berkunjung. Persoalannya adalah, ini kantor pemerintah, semuanya dibiayai pemerintah untuk kepentingan rakyat. Kamu memang termasuk rakyat, tetapi kamu hadir untuk mempertanyakan sesuatu yang menjadi persoalan keluarga kita. Ayah tidak mau kita menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan kita,……”. Anak itu memeluk ayahnya dan meminta maaf karena takut dialah yang menyebabkan ayahnya masuk neraka.
17 Januari 2009, sabtu kampus ui depok.
Thursday, January 22, 2009
Allah Maha Mengetahui
Mungkin kita sudah terbiasa mendengar kemampuan Allah yang satu itu, dari sekian banyak kemampuan Allah yang ada. Ada banyak hal yang mau saya tuntaskan dalam lembaran-lembaran berikut, bukan curhat. Lebih kepada sesuatu yang menjadi pelajaran buat saya, karena banyak hal kejadian dalam hidup yang membuat saya makin yakin akan kekuasaan Allah tersebut.
Tidak seperti biasanya pagi itu, seorang karyawan datang dan bicara,”Pak, tahun depan tidak mengajar lagi ?” Saya tersenyum mendengarnya. Seorang karyawan sampai tahu akan nasib saya itu surprise banget. “Insya Allah, Allah yang akan menentukan hal tersebut,” jawab saya seraya masih berpikir panjang lebar dalam dan luas. “Semangat, ya Pak.” Inilah kalimat yang membuat saya tersentak. Dia begitu yakin, dan memberi sesuatu dorongan moril buat saya untuk menghadapinya. Dalam hati saya mengucapkan, “ Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik),
Tahun 1986-1987 saya cukup aktif membuat bulletin jum’at untuk mesjid smandel, yang sekarang bernama Darul Irfan, nama yang gagah dan tinggi. Sering menginap di mesjid membuat saya mengenal ajaran agama Islam. Salah satu tulisan LJ saya sadur dari majalah Islam saat itu.
Malam itu, di sebuah rumah terdengar keributan. Tepatnya di dapur, yang bersebelahan dengan kamar tidur utama. Maklulah, keluarga ini termasuk miskin dalam kategori orang kebanyakan. Tanpa penerangan, sang istri terus memeluk erat suaminya yang tergolong berusia tua. Sang suami pun dengan kondisi tubuhnya, hanya mampu memeluk istrinya, memejamkan mata dan bibinya terus mengicapkan beristighfar kepada Allah. Mereka berdua juga melafadzkan : Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir, terus menerus. Kalimat tersebut semakin kuat dan keras, menimbangi ributnya dapur mereka. Itu pasti bukan segerombolan tikus yang berpesta pora, tetapi kawanan rampok yang memasuki dapur-dapur penduduk. Setelah beberapa lama, suara ribut menghilang dan tergantikan oleh desiran angin malam yang menerobos masuk. Kedua suami istri tersebut tetap tidak berani untuk bangkit. Adzan subuh, membuat suami istri ini tersadar dari ketakutan, dan bangun untuk menunaikan kewajibannya kepada Allah.
Lampu centir yang terisi minyak tanah beberapa sendok dinyalakan. Meraka kaget karena perabotan mereka hancur dan hilang. Beras dan sisa sayuran lenyap. Mereka menyebut nama Allah sekeras-kerasnya. Setelah beberapa saat sang suami berusaha merapihkan dapur tersebut. Tetap dalam keprihatinan, sang suami tersenyum, seraya berkata,”Bu, Allah masih melindugi kita. Beras dan beberapa peralatan kita hilang dicuri orang. Tetapi Allah masih menjaga iman kita. Sesungguhnya itu nikmat yang paling tinggi Allah berikan kepada kita.” Kedua suami itu pergi ke musholla untuk sholat, walau terpaksa harus bergantian, karena sarungnya cuma satu. Untungnya mukena tidak termasuk yang dicuri pula.
Kisah itu kembali teringat oleh saya. Kalau pun saya kehilangan pekerjaan, saya masih punya iman dalam hidup ini. Saya tidak menjual iman saya demi mempertahankan sesuap nasi. Beberapa kali saya pernah kehilangan pekerjaan, setiap kehilangan, ternayata Allah memberikan yang baru. Hingga hari ini Alhamdulillah saya masih bisa beribadah dan memenuhi kewajiban saya. Makan seadanya pernah saya alami, bahkan 3 minggu hanya bertemankan singkong rebus di kost saat kuliah juga saya nikmati. Allah terlalu baik untuk hidup dan iman saya.
Hampir dua minggu ini memang saya merasa tidak nyaman. Pilihan hidup semakin banyak. Pertarungan antar kepentingan semakin deras dan cukup signifkan. Juli 2002, saya memenuhi undangan Pak Sugiharto untuk mengajar SMA Negeri 8 Jakarta. Tahun 1995 memang saya sempat mengajar satu angkatan, tetapi saya tetap berkiprah di BTA. Lembaga yang membesarkan dan memberi kedewasaan saya dalam hidup. Banyak hal yang berbeda di SMA Negeri 8 saat itu, dibanding saat saya bersekolah. Kebanggan saya adalah masih bisa bertemu dengan guru-guru yang dulu mengajar saya. Meminta maaf dan mohon petunjuk, adalah hal yang saya lakukan pertama kali kepada mereka. Karena tidak ada mantan guru, selamanya mereka adalah guru saya.
Masa Pak Triyana, setelah masa tugas Pak Sugiharto ada beberapa guru terkena rasionalisasi. Saya sedih kehilangan beberapa teman mengajar. Tetapi saya bangga sama mereka, tetap tegar hingga keluar surat keputusan tersebut. Allah masih memberi pertolongan untuk saya.
Tahun berganti tahun, hingga akhirnya terdengar kabar yang menyesakkan buat saya. Sebuah sms,” sebenarnya mrs…. Baik, Cuma setelah bertemu dengan si wangsa menjadi buruk. Karena salah gaul……. Dst dst.” SMS itu menceritakan pertemuan oknum bla-bla, dengan beberapa teman guru. Saya langsung mengucapkan istighfar. Ya Allah kenapa orang tersebut bukan langsung menegur saya. Itu bisa menjadi ghibah dan fitnah. Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik). Ternyata orang yang berhubungan dengan saya mejadi tidak baik, salah gaul. Astaghfirullah.
Satu malam tanpa tidur dan hanya mengadu kepada Allah, Hasbunallahu wa ni’mal wakil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir.” (Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, Allah adalah pelindung dan penolong yang baik), jadi selama ini saya mengajar, dimata oknum bla-bla justru akan menghasilkan keburukan.
Malam itu Allah memberi kekuatan kepada saya untuk mengenang semua aktivitas saya di SMA Negeri 8 Jakarta. Memang ada buku harian yang selalu saya buat dari masa SMP, tetapi malam itu Allah memberikan secara nyata, live dan detail. Sedih, bahagia, terharu, bahkan perasaan yang paling tidak saya sukai, membalas. Kirim doa kebaikkan untuk mereka, yakini mereka tetap saudara kita, seiman.
Tokh masih ada pengadilan Allah di padang masyar kelak, terhadap semua yang kita kerjakan. Siang menjadi Jundi dan malam menjadi sufi. Tetapi jangan mempermainkan Allah. Jika kita melihat kemunafikan, katakan sejujurnya. Kebenaran itu berat dan sulit, tetapi Allah akan membimbing kita. Saya ingin menutup 4 – 5 bulan ini di SMA Negeri 8, bahkan boleh jadi 4 – 5 hari ke depan dengan prasangka baik. Bukan kalimat dari lagu, tidak ada dusta diantara kita, tetapi tidak ada dusta diantara saya dan Allah, antara Anda dengan Allah. Allah maha mengetahui, dan Allah pemilik hari pembalasan.
Sunday, January 18, 2009
Menjaga Harta atau dijaga Ilmu sama halnya menjaga Jabatan atau dijaga oleh kewibawaan pemimpin
Jum’at itu memang tidak ada hal yang berbeda, seperti jum’at-jum’at lalu. Penceramah yang menjelaskan kutbah hari itu, suara anak-anak di sisi kiri dan lantai 2 mesjid atau sesekali orang dewasa yang mengobrol. Mungkin menjadi tidak biasa ketika seorang siswa datang ke saya. Sambil menyalami dan mencium tangan, “Pak boleh tanya nggak?” Akhirnya kami mengobrol panjang lebar tentang ilmu dan amal jariah. Lumayan, hingga bel berbunyi, sekitar 20 menit, malah saya yang banyak masukan dari siswa tersebut. Jadi malu amal ibadah selama ini.
Amal jariah akan menolak bala, itu hal yang selalu kita ketahui dan sering menjadi nasehat kita kepada teman-teman. Sebuah kalimat indah yang mungkin agak sukar untuk kita pratekkan setiap saat, bahkan yang paling mudah, setiap hari. Tetapi banyak rekan yang mungkin akan kecewa ketika telah sedemikian banyak memberikan amal jariah, kok tetap ada musibah yang terkena. Badan terserang penyakit, hati yang gundah gulana, bahkan ada keluarga yang terkena musibah. Apakah tidak ikhlash ? Sudah pasti ikhlash, karena itu cuma 2,5% dari pendapatan kantong kita. Jadi tidak besar dan tidak mengganggu aktivitas keuangan kita.
Ali bin Abi Thalib pernah ditanya keuatamaan ilmu dibanding harta. Jawaban Ali, Ilmu akan menjaga kita, tetapi kita harus menjaga harta. Sebuah kalimat yang harus kita renungkan amat dalam. Bahkan harus kita pikirkan dalam keheningan malam. Selama ini kita menjaga harta atau ilmu yang menjaga kita ?
Ilmu memang menjadi bahasa yang dapat diterima dimanapun, makanya orang berilmu akan diterima dimanapun. Seorang berilmu akan menjadi sumber pembelajaran, akan dihormati dan bahkan akan diberi kemudahan hidup, oleh manusia lain bahkan Allah telah menjamin itu. Orang berimu itu dihargai beberapa derajat lebih tinggi dari yang lain. Semakin banyak ilmu, maka seorang manusia akan semakin dijaga oleh ilmunya. Bayangkan ketika seseorang yang mau berbuat nista, maka ilmu yang dimimilikinya akan mengatakan,”jangan lakukan”. Seorang berilmu akan yakin, Allah tidak akn pernah tidur dan akan lengah akan apa perbuatan kita.
Ilmu akan menjaga kita, akan menjaga perbuatan kita, akan menjaga keinginan kita bahkan akan menjaga pandangan orang-orang terhadap kita. Cobalah kita mulai menilai diri kita, selama ini ilmu kita menjaga kita atau kita manfaatkan utuk menutup mata hati kita ? Kok ? Seorang tidak berilmu ketika melakukan kejahatan, akan mudah sekali ditebak. Ujung-ujungnya mungkin hanya untuk mengisi perut, heheheheh. Tetapi ketika seseorang yang berilmu melakukan tindakan yang tidak baik, implikasinya banyak sekali. Ternyata ilmunya telah menutup mata hantinya, ternyata tujuannya bukan untuk perut pasti lebih dari itu.
Seorang teman sering mengeluh kok belum jadi PNS, padahal sudah sholat tahjjud, sholat dhuha, beramal jariah dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, apakah Allah mengadakan sholat sunah tersebut untuk hal itu ? Atau sedemikian piciknya kita hanya berpikiran bahwa dengan hal tersebut Allah akan memberikan apa yang kita inginkan. Pada hal doa yang belum terwujud, bukan karena Allah tidak mendengar doa, bukan karena Allah marah, tetapi justru karena Allah sayang sama kita. Kita belum mampu mendapatkan cobaan yang lebih dari jabatan atau kesenangan hidup lebih dari yang kita peroleh sekarang ini.
Persoalan akan lebih krusial ketika seseorang memperebutkan jabatan, mempertahankan jabatan atau bahkan merasa jabatannya adalah kekuasaan, maka orang ini sedang berusaha menjaga hartanya. Boleh jadi mereka berpikir, kemudahan hidup indentik dengan harta, dan harta yag melimpah identik dengan jabatan dan kekuasaan, Jadi harus diperjuangkan dengan segala hal. Astaghfirullah, ……. Lebih banyak orang di dunia ini ketakutan kehilangan jabatan daripada kehilangan amanah. Ketakutan tidak dipandang orang lagi, ketakutan tidak bisa membiayai istri dan keluarga berjalan-jalan atau berbelanja atau mungkin takut anak tidak akan bisa bersekolah.
Padahal harta Allah berikan agar kita melihat sekeliling kita untuk berderma, masih adakah orang yang masih sulit beribadah karena tidak mempunyai kain sarung yang bersih, sholatnya terganggu tidak bias khusyu’ karena anak istrinya belum makan di rumah, atau mungkin anaknya sedang sakit.
Ternyata ilmu adalah hal yang utama Allah berikan, jika kita memanfaatkan ilmu untuk kebaikan, maka ilmu akan menjaga kita hingga bisa ke syurga. Kita akan tersenyum menghadap sang Khalik. Tetapi jika ilmu kita salah gunakan, yang kita dapatkan harta, yang boleh jadi harus kita jaga. Jangan sampai kita pucat pasih menghadap Allah di padang Masyar, begitu harus mempertanggung jawabkan harta kita.
Semoga saja pemilu bisa memilih pemimpin yang adil di mata Allah dan rakyat.
Ilmu lebih dekat ke Syurga.
Bekasi, 11 Januari 2009, berkah hujan menghampiri rumahku.
Friday, January 9, 2009
Jangan melawan Hukum Allah
Hukum Allah akan berlaku untuk semua, termasuk Anda !
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
QS. Yasin (36) :33 - 40
Berhagialah kita manusia ketika kita diciptakan, bayangakan sebagai makhluk sempurna. Banyak makhluk yang Allah ciptakan, juga sempurna. Tetapi terbatas pada fungsinya masing-masing. Malaikat diciptakan Allah dengan kesempurnaan, tugasnya menuriti perintah Allah dan beribadah sepanajnag masa, sementara Syaitan juga senpurna dengan fungsingnya menggoda manusia untuk berbuat jahat. Tidak ada syaithan yang baik. Kesempurnaan manusia diberikan Allah akal sehinga bisa memilih, mau jadi malaikat atau syaithan.
Dengan Akal manusia bisa memilih, dalam waktu 24 jam, mereka mau bertindak sebagai apa, malaikat atau syaithan ? Setiap hari manusia berjuang untuk mengisi hidupnya, dan setiap hari pula manusia kan tergelincir atau tidak, mereka yang merasakan. Tetapi terkadang manusia bisa menjadi lebih syaithan ketika fungsi syaithan yang menggoda manusia berbuat jahat, mereka tularkan kepada orang lain untuk berbuat jahat. Oleh karena peran menjadi ulama akan berat sekali, seorang pembunuh hanya akan dihukum karena pembunuhan, tetapi seorang ulama yang salah memberikan fatwa akan dihukum juga atas umat yang melakukan sesuatu karena fatwa yang salah.
Seorang manusia ketika dia bekerja, maka Allah telah menetapkan manzilah dan hasil dari buah tangan kita. Tentunya itu karena Ridho Allah. Surat Yasin cuku gamblang menjelaskan, bulan dan matahari mempunyai garis edar sendiri. Garis edar tersebut dapat terus bergerak karena keduanya mempunyai "kekuatan hukum tetap" yang telah disepakati. Jika manusia juga bekerja dengan manzilah-manzilah tersebut, maka kehidupan akan harmonis. Semua merasa mendapatkan sesuatu sesuai dengan usahanya. Tetapi ketika matahari merasa paling berkuasa, bahkan mungkin karena bentuknya yang besar, power yang besar dan dia menarik bulan tidak sesuai dengan hukum, maka akan terjadi "kekuatan hukum yang berubah -ubah". Jika ini terjadi, bersiaplah akan terjadi benturan.
Terkadang manusia juga berusaha nmenjadi matahari, merasa besar dan berkuasa. Karena merasa mempunyai power yang besar mampu mengeser apa pun dnegan gravitasinya. Allah memberikan kekuatan lain kepada benda-benda lain sekitar matahri untuk mengurangi kekuatan gravitasi matahari tersebut. Berputarlah sesuai hukum pula. Bekerjalah kamu sesuai TUPOKSI masing-masing. Tugas pokok dan fungsi merupakan manzilah-manzilah untuk kita semua.
Usaha manusia harus sesuai manzilah, karena Allah akan memberikan dua hal, hasil usaha karena kerja keras dan pahala karena bekerja sesuai aturan. Jika manzilah kita langgar, kita mendapatkan sesuatu dengan "memnafaatkan manzilah dan kekuatan hukum yang berubah-ubah" maka yang kita dapatkan hasil usaha dan laknat. Bukan hanya dari Allah, juga kan dapat umpatan dari makhluk sekitar kita. Makhluk sekitar kita yang terimbas oleh manzilah tersebut tentunya menjadi makhluk teraniaya, maka Allah memberikan kekuatan lain kepada mereka. Doa yang makbul diijabah Allah.
Banyak pempimpin yang jatuh bukan karena ketidakmampuan mereka memimpin, tetapi lebih karena egoisme syaithan yang harusnya mereka tekan atau kurangi. Pemimpin jatuh karena keinginan-keinginan mereka manklukanmanzilah dan hukum tetap Allah. Ketika pemimpin jatuh maka pengikutnya yang mengikutinya akan pula menpatkan "hasil usaha tangan mereka". Jangan pernah menggunakan kalimat, " Lebih baik menjadi raja di neraka, ketimbang menjadi rakyat jelatah di surga".
Seorang sufi wanita pernah menuliskan sesuatu kalimat yang mungkin membuat kita berpikir berulang-ulang akan ketaqwaan sufi ini. "Saya senang masuk neraka dengan ridho Allah daripada masuk surga dengan murka Allah". Rabiah Al Adawiyah menuliskan itu untuk mengingatkan para pemimpin dan para insan. Kenapa kita tidak ingin Allah meridhoi kita dalam keseharian kita.
Terakhir, ayat-ayat tersebut juga menuliskan semuanya akan kembali ke awal. Manusia yang datang dan pergi akan sama seperti kedatangan dan kepergiannya. Anda datang dengan kebohongan, maka anda harus menutup dengan kebohongan pula. Anda memimpin dengan kebohongan, maka Allah akan membalasnya. Be a good moslems, or die as syuhada.
Buku harian, 5 Agustus 2008, peraduan ku, tempat sholat dan ibadahku.
Sunday, January 4, 2009
Pemimpin lurus, menenangkan hati
27 Desember, ketika jalur Gaza di bombardir, saya sedang sibuk dengan TeSIS di Subang. Ingatan kemabali terhenyak, kenapa bisa terulang kembali pembataian tersebut. Saat melepas teman-teman yang akan ke afghanistan, di suatu pesantren di wilayah ciputat, saya sedih tak mampu serta. Ketika bosnia bergolak, lagi-lagi hanya melepas kepergian beberapa teman. Dan mereka Syuhada. Poso dan Ambon, makin menjadi-jadi ghirah ini bergolak. Perjuangkan agamamu.
Saya baru sadar ketika Buya Hamka keluar dari Majelis Ulama Indonesia, salah seorang ulama yang menegaskan hatinya, bukan agen pemerintah. Bukan corong pemerintah.
Tulisan ini tidak membicarakan Palestina, Bosnia, Ambon, Poso atau apa pun yang berhubungan dengan hal itu. Saya bercermin terhadap hal ini. Kalau saja pemimpin mengerti akan hakekat kepemimpinanya, maka Alla akan menolongnya. Begitu banyak orang yang berebut jadi pemimpin, tokh akhirnya mati dalam keadaan memperebutkan 'kursi'. Saya teringat ketika membaca sirah sahabat, ketika salah seorang khalifah yang terpilih berkata," saya hanyalah orang yang terpilih diantara kalian, saya bukan yang terbaik diantara kalian. Jika saya salah, luruskan saya." Seorang sahabat berkata," Saya akan luruskan kamu dengan pedang saya."
Begitu juga ketika seorang khalifah mengirimkan sebuah "hadiah" kepada pemimpin sebuah pasukan. Kahlifah mengirimkan sebuah tulang dengan torehan pedang, sebuah garis lurus. Pemimpin pasukan tersebut sadar, sebuah tulang adalah lambang kematian, dan garis lurus adalah perintah, harus hidup yang lurus sebagai seoran pemimpin. Pemimpin yang baik adalah yang disegani karena tegas, bukan ditakuti. Pemimpin yang menggunakan kekuatannya dengan menakuti-nakuti wargannya bahkan dengan kewenanggannya, akan bisa dilihat keruntuhannya.
Namrud dan Fir'aun adalah dua sosok besar yang ditakuti, tokh jatuh juga. Adolf Hitler juga demikian, Nero yang membakar kota Roma, bahkan George w. Bush terhina ketika sebuah sepatu melayang kewajahnya. Cobalah simak sebuah cerita kartun tentang presiden Uni Sovyet yang dengan peawat Helikopter membagikan uang dengan menyebarkannya. Warga Uni Sovyet, bukan berebut dengan Rubel tersebut, tapi berteriak, " Mr. Presiden, ayo lopmpat dari Helikopter. Itu Lebih berharga dari uang-uang tersebut."
Jabatan adalah amanat. Tambahan tugas dari Allah untuk kita. Karena Allah akan meminta pertanggung jawaban hal itu. Berepa banyak orang pintar yang menolak jabatan, karena mereka berpikir, untuk menyelamatkan diri mereka saja dari jilatan api neraka jika dibandingkan dengan amall ibadah mereka saja belum cukup. Apalagi harus menanggung "DOSA_DOSA" orang yang teraniaya karena tidak mampu mendapatkan makanan, pegawai yang dimarahi istri-istri mereka, karena gaji tidak mencukupi. Sementara sang pemimpin, hanya dengan bermodalkan jabatannya mampu mengeruk keuntungan. Pemimpin adalah orang yang paling taqwa. Perjuangan mereka di siang hari, harus membuat semua warga yang dipimpinnya berkerja dengan baik, dan malammnya mereka tertidur pulas, karena makanan untuk esok masih ada. Pemimpin di malam hari akan menangis kepada Allah tentang apa yang dilakukannya hari ini. Berapapa maksiat yangd ia lakukan, berapa hak orang lain yang dia ambil, bahkan berapa banyak dia merusak ketenangan hati sehingga orang tidak khusyu' beribadah.
Semua orang takut kehilangan jabatan, karena jabatan identik dengan kemakmuran. Pikir mereka makmur, maka ibadah akan lancar. Padahal kemakmuran adalah cobaan paling ringan buat orang berilmu. Cobaan terberat orang berilmu adalah memberi fatwa yang benar.
Kemakmuran datang dari Allah, bukan dari pemimpin. Indah sekali senyum kita ketika bertemu sang pemimpin. Wangi parfum dan berpakaian indah. Tapi ketika adzan sholat, kita tampil apa adanya. Bahkan tidak setiap saat kita julurkan tangan kita ke kotak amal. Kita lebih takut pemimpin marah.
Jadilah pemimpin yang merupakan kepanjangan tangan-tangan Allah. Menjadi pelindung agar umat masuk surga. Jangan takut kehilangan jabatan, karena jabatan bukan pahala, jabatan adalah cobaan.
Hanya Allah yang benar.
Saturday, December 6, 2008
Organisasi beda dengan gerombolan
Masa SMA adalah pembentukan karakter kedua. Entah mengapa saya memilih Kerohanian Islam, mungkin karena haus akan siraman rohani. Tetapi karen Rohis adalah oraganisasi di bawah OSIS, maka saya juga dikenalkan akan POAC-nya Jhon R,Terry. Ada banyak organisasi di 8, semuanya mempunyai karakter tersendiri. Alhamdulillah di Rohis, saya mengenal 3AR, Segar - Pintar dan Benar. Rohis membentuk saya dengan nilai-nilai keislaman, yangjujur pada saat itu Islam masih menjadi "barang " menakutkanuntuk sebagian orang. Bayakan itu masa 80-an dan Rezim sedemikian takut dengan yangberbauh Islam dan Mesjid.
Tetapi ada satu hal yang harus dipahami, organisasi lembga yang jelas dan resmi. Sehingga kaderisasi pun ditujukan agar organisasi mampu berdiri tegak setaip saat karena ada jiwa-jiwa muda yang darahnya mengalir dengan kuat untuk mengembangkan organisasi. Suasa kekeluargaan dibangun dengan hati dan kepercayaan , bukan dengan kekerasan dan ketakutan. Organisasi identik dengan komunitas kelas, ketika kelas dibangun dengan guru yang menakutkan maka yang ada adalah kaderisasi yang akan menghancurkan sendi-sendi organisasi.
Kemaren saya dapat pengalaman yang amat berharga. Bahwa tidak ada dalam organisasi itu senioritas angkatan. Semua adalah anggota organisasi, jika ada sebuah angkatan yang masih merasa perlu menggunakan kekuatan, maka sebenarnya kita telah menghancrkan organisasi, menuju gerombolan. Islam dengan tegas menyatakan bahwa dihadapan Tuhan semua manusia sama, hanya orang yang beramal saleh yang membedakan. Kok kita manusia berusaha membedakan manusia. Sewaktu kuliah saya berusaha menegrti kenapa senior sedemikian menunjukkan jati dirinya, ternyata senior yang paling galak berhubungan erat dengan tingkat kemampuan akademiknya. Mereka demikian karena, suatu saat akan mengambil mata kuliah bersama adik kelas. Yang nota bene pernah "dikerjain".
Organisasi adalah membentuk hati, sekolah juga membentuk hati, negara juga seharusnya membentuj hati. Apalagi hanya sebuah organisasi di sekolah.
Jika kita mendengar ada siswa senior yang menghancurkan adiknya, yakini bahwa hati senior telah ditanami prinsip bahwa oragnisasi adalah kekerasan. NBMD.
Saturday, November 1, 2008
Pornografi bukan semata urusan agama
Dampak negatif meruyaknya pornografi seperti semakin meluasnya perilaku seksual bebas, pelecehan seksual, perilaku seks menyimpang, penyebaran HIV/AIDS, seks permisif di kalangan generasi muda, dan aborsi, sudah banyak dirasakan masyarakat. Tanpa menyandarkan pada argumen teologis tertentu, pornografi menjadi problem kemanusiaan yang semestinya menjadi agenda bersama seluruh komunitas agama. Rekomendasi Sidang Tahunan MPR melalui TAP MPR No. VI Tahun 2002 kepada presiden agar mengambil langkah mencegah pornografi harus menjadi stimulasi lahirnya regulasi yang mengatur secara jelas masalah pornografi.
Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan Ade Armando, ketua Jurusan Komunikasi FISIP UI dan aktivis LSM yang gencar memerangi pornografi, pada 15 Mei 2003:
Seberapa kronis kondisi real pornografi di Indonesia saat ini?
Sangat serius. Misalnya, Associated Press (AP) pernah menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi "surga pornografi berikutnya" (the next heaven of pornography) . Dua negara yang disebut AP adalah Indonesia dan Rusia. Indonesia jauh lebih serius dari Thailand, karena di Thailand sudah ada penataan yang sangat serius. Saat ini, di Thailand industri pornografi ilegal sudah semakin sempit. Nah, Indonesia dianggap sangat bebas, terutama kalau bicara masalah VCD porno. Juga karena Indonesia yang tidak mengatur adanya regulasi internet sama sekali.
Sekarang yang kita punyai menyangkut regulasi soal internet hanya berdasarkan KUHP pasal 282 tentang kesusilaan. Itupun terkait dengan larangan menyebarkan sesuatu yang melanggar susila dengan definisi yang amat longgar sekali. Selain itu, pasal 282 KUHP itu hanya menyebutkan larangan menyebarkan sesuatu yang membangkitkan birahi remaja.
Anda ingin mengatakan bahwa pasal-pasal dalam KUHP menyangkut kesusilaan itu tidak memadai?
Tergantung kita mau melihatnya dari segi mana. Justru kalau sekadar untuk menghabisi segala bentuk pornografi tanpa pandang bulu, (pasal KUHP) itu bisa dipakai. Itupun jika polisinya mau. Tapi itu bisa kontraproduktif.
Apa raison d'etre dari RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi?
Rancangan yang dimasukkan Departemen Agama (Depag) dan dibantu Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu bertajuk RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Sementara yang dibuat Badan Legislatif (Baleg) namanya hanya RUU Anti-Pornografi.
Ada situasi yang chaotic, sehingga adanya RUU Anti-Pornografi susah dibendung. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, perlu diakui, industri pornografi dalam skala global itu tumbuh terus, terutama sejak tahun 1990-an. Di Indonesia, industri pornografi disebut secara khusus karena dia bisa diakses oleh siapapun. Dan tak ada regulasi sama sekali. Sekalipun kita bicara tentang negara-negara Eropa Barat yang sangat bebas dalam nilai-nilai seksualnya, mereka memproduksi pornografi, tapi dijual di tempat-tempat khusus. Tidak sembarang orang bisa membelinya.
Kedua, masalah harga dari produk pornografi yang murah sekali. VCD porno di Glodok, Jakarta, dengan uang sepuluh ribuan bisa dapat tiga atau empat keping. Dalam tingkat kevulgaran pornografi juga luar biasa. Harga semurah itu bisa terjadi karena teknologinya yang sangat murah. Anda tahu, kepingan VCD itu sangat murah. Jadi dengan margin keuntungan yang rendah pun, karena jumlah pembeli yang banyak, mereka bisa juga untung. Hal ini yang tak terjadi di Eropa Barat.
Bagaimana membatasi pornografi ini, karena definisi pornografi itu sendiri tidak jelas?
Bila kita kembali ke istilah generik pornografi, secara sederhana, berasal dari dua kata yang berarti "gambar" dan "pelacuran." Tapi, dalam perkembangannya, definisi pornografi yang bisa diterima oleh masyarakat modern adalah materi-materi dalam media massa yang membangkitkan gairah atau syahwat seksual. Itu definisi yang paling sederhana.
Adapun definisi yang dipakai dalam RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi sangatlah detail. RUU yang dikeluarkan Depag ini memang ambisius karena mencakup semua hal. RUU ini betul-betul untuk membersihkan semua jenis pornografi dan -jangan salah- juga pornoaksi.
Lantas apa definisi pornoaksi itu sendiri?
Jika pornografi itu ter-cover di media, baik berupa gambar, grafis atau bisa juga suara di radio. Cakupan pornografi terkait dengan media. Adapun pornoaksi menyangkut concern yang sama seriusnya tentang perilaku masyarakat sehari-hari. Misalnya, pertunjukan live show atau striptease (tari telanjang) sebagaimana yang digambarkan dalam buku Jakarta Under Cover (2003) karangan Moammar Emka.
Apakah buku seperti "Jakarta Under Cover" itu nanti bisa terjaring dengan RUU itu?
Bisa jadi. Memang ada persoalan penafsiran. Ada yang lebih tegas misalnya, bila ada gambar payudara. Jadi pornografi yang tersiar melalui audio-visual jauh lebih mudah ketimbang yang berupa teks atau suara. Itu problem yang mengandung jebakan-jebakan tertentu. Sebetulnya RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi yang sekarang dibuat pun belum tentu memuaskan. Masih ada celah-celah kelemahannya.
Bagaimana jika kita belajar dari pengalaman negara lain dalam mengatur masalah pornografi?
Ada beberapa contoh. Ada negara yang menghabisi pornografi sama sekali. Kalaupun masih tersisa, pornografi berada di wilayah yang ilegal. Misalnya, Arab Saudi dan Iran. Negara yang agak bergerak ke arah sana, tapi masih membuka kemungkinan lain adalah Malaysia. Kalau kita lihat negara-negara Barat, kita jumpai mereka masih mempunyai regulasi tentang pornografi.
Di negara-negara Barat ada larangan dalam artian tidak bisa dijual secara bebas. Kalaupun diizinkan, tetap dengan operasi, distribusi dan pasar terbatas. Atau dengan penonton, konsumen dan pembaca terbatas. Kalau kita bikin perbandingan seperti itu, maka yang bisa diterima semua kalangan di sini adalah yang berada di tengah-tengah. Singapura itu keras sekali dalam menangani masalah pornografi.
Saya tidak menjumpai barang-barang pornografi yang dijual secara terbuka di Singapura?
Ya. Majalah Playboy dan Penthouse tidak akan dapat ditemukan di Singapura. Tapi Singapura tetap terbuka untuk akses ke MTV. Di TV kabel Singapura, Britney Spears dimungkinkan untuk ditonton. Tapi Britney Spears sudah dianggap sebagai sesuatu yang tak boleh disiarkan di TV Malaysia. Di Indonesia masih boleh kan? Meskipun demikian gambar-gambar yang benar-benar seronok masih sulit ditemukan pada tabloid-tabloid di sini.
Bahkan Singapura mengeblok akses ke situs-situs internet yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Singapura. Salah kita selama ini adalah menganggap bahwa tak ada yang bisa diregulasi dari internet. Jadi ada sebuah list tentang hal-hal yang terlarang dalam soal pornografi dan ada hal yang masih dimungkinkan. Beda dengan Eropa Barat yang hanya membatasi distribusi, peredarannya dan akses terhadap terhadap pornografi.
Intinya, bentuk regulasi antarberbagai negara itu berbeda-beda?
Bahkan di Amerika Serikat (AS), regulasi soal pornografi antarnegara- negara bagian saja berbeda-beda. Ada yang disebut standarkomunitas. Karena itu, menarik bila AS kita tiru dalam hal tertentu. AS itu negara yang sangat luas dan relatif heterogen, sehingga standar komunitas antara satu wilayah dengan wilayah lainnya berbeda-beda. Di Utah yang sangat konservatif, kita tidak bisa menemukan media porno seperti majalah Playboy. Sangat berbeda dengan San Francisco.
Sementara kecenderungan di Eropa Barat yang sangat liberal membuat diadakannya red district atau red zone. Karena di Indonesia tak ada regulasi pornografi, maka disebut sebagai the heaven of pornography. Anda bisa memperoleh di mana pun dan tidak ada pembatasan atas siapa pun untuk mengedarkan pornografi.
Kalau kita mengatasi pornografi dan pornoaksi secara eksesif, apalagi misalnya, berbasis doktrin Islam, apakah tidak kontraproduktif?
Saya setuju dengan argumen Anda. Kita sulit meniru Malaysia yang jelas dasar negaranya adalah Islam. Karena itu, masalah pornografi di Indonesia harus kita sikapi tanpa menyebut dasar agama. Perlu apresiasi dan toleransi pada pihak-pihak yang barangkali menjadi konsumen pornografi. Juga di sini ada pihak yang memproduksi pornografi. Karena negara ini sangat plural dan multikultural, maka standar penilaian terhadap pornografi bisa bermacam-macam.
Barangkali tidak terlalu realistis hendak menerapkan standar buat perangkat peraturan perundangan yang menyamakan saja seluruh aspek yang dianggap pornografi. Artinya, segenap materi yang di media massa yang membangkitkan syahwat, di mana standar agama tertentu punya kriteria yang sangat ketat, lantas tidak dibolehkan sama sekali, barangkali itu tidak realistis.
Bagaimana jika RUU Anti-Pornografi itu diterapkan dalam kasus Inul?
Jadi segala hal yang membangkitkan syahwat kemudian harus dilarang semuanya justru akan kontraproduktif. Kalau ada pasal-pasal seperti itu dalam RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, saya khawatir, malah akan terjadi debat berkepanjangan, sehingga meng-counter sebuah proses yang sudah sangat sehat, yaitu melahirkan undang-undang yang akan mengatur masalah pornografi. Alih-alih kita mendapatkan undang-undang yang dapat memproteksi kita semua dari bahaya pornografi, RUU itu malah tidak kunjung selesai karena kita juga mengatur bagaimana perilaku orang sehari-hari.
Mengapa semua hal harus diandalkan pada pemerintah untuk mengurusnya?
Pornografi itu bukan urusan agama saja. Bahkan di negara-negara yang sangat sekuler pun, ada pengaturan masalah pornografi. Yang penting pornografi itu tidak merugikan masyarakat. Sebagian pihak menganalogikan pornografi dengan narkoba. Tapi sebetulnya analogi itu kurang tepat karena pornografi tidak tunggal, meski ada juga pornografi yang levelnya setingkat narkoba. Maka dari itu harus ada pornografi yang dilarang sama sekali.
Maksudnya, harus ada kesepakatan tentang gradasi pornografi. Harus ada pornografi yang jelas disepakati oleh siapapun sebagai sesuatu yangtidak boleh sama sekali. Misalnya, pornografi di mana model yang tampil disiksa, atau pornografi yang melibatkan anak-anak atau berhubungan dengan binatang. Itu bisa disepakati bersama. Bangsa ini bisa bersepakat tentang hal-hal yang tidak boleh sama sekali. Di luar itu ada hal-hal debatable. Misalnya, goyangan Inul yang dianggap sebagian pihak mengandung unsur pornografi. Nah, apakah Inul ini akan dilarang sama sekali? Apakah tampilannya di media saja yang dibatasi? Ataukah Inul boleh tampil dengan pembatasan-pembatas an?
Jadi harus ada regulasi, dan regulasi itu yang mengeluarkan adalah pemerintah. Jangan kontradiktif juga mengatakan bahwa pemerintah tak boleh campur tangan dalam urusan masyarakat ini. Masalahnya siapa yang menjamin regulasi itu akan berjalan? Pemerintah juga kan. Maka perlu ada penataan dan aturan yang jelas, misalnya dalam masalah VCD porno. Saya kasih contoh sederhana saja. Buku tentang teknik bersenggama, misalnya. Bolehkah buku itu beredar di sebuah negara? Nah, kalaupun boleh, buku jenis itu mesti ditaruh di tempat khusus semacam adult book (bacaan dewasa), misalnya. Bukannya ditaruh di bagian best seller.
Dalam penerapannya, regulasi soal pornografi apakah bisa dilakukan secara beragam?
Bentuk regulasi itu bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain. Undang-undangnya memang berlaku secara nasional, tapi tentang materi yang dilarang itu mesti lebih dahulu diperjelas. Misalnya, pornografi yang melibatkan anak, berhubungan dengan binatang dan mengandung unsur kekerasan, harus dilarang di seluruh Indonesia.
Tapi ada juga pengaturan pornografi yang lebih detail. Misalnya dalam hal distribusi. Bagaimana mengatur distribusi agar tayangan-tayangan pornografi itu tidak menggangu kalangan beragama. Kaum beragama di Padang dengan Bali, tentu saja, punya standar komunitas yang tidak sama. Masalah distribusi bisa berbeda teknisnya antara satu daerah dengan daerah lain.
Referensi: http://islamlib. com/id/index. php?page= article&id= 323
10 Kekeliruan dalam Wacana Anti RUU Pornografi
Ditulis pada Oktober 5, 2008 oleh ade armando
Seusai Ramadhan ini, DPR akan membicarakan kembali RUU Pornografi yang kontroversial. Ada harapan,RUU ini bisa disahkan menjadi UU sebelum akhir tahun. Kritik terhadap draft RUU yang beredar sudah banyak terdengar. Sebagian kritik bahkan sampai pada tahap "Hanya satu kata – Lawan!". Sembari mengakui bahwa RU tersebut masih mengandung beberapa hal yang perlu diperebatkan, saya merasa salah satu persoalan yang mendasari ketajaman kontroversi adalah adanya kekeliruan mendasar dalam mempersepsikan dan menilai RUU ini. Saya ingin berbagi pandangan tentang apa yang saya lihat sebagai 10 kekeliruan mendasar dalam kritik terhadap RUU. Laporan lebih lengkap tentang RUU Pornografi ini sendiri akan dimuat dalam Majalah Madina edisi Oktober ini.
Rangkaian kekeliruan cara pandang tersebut adalah:
1. RUU Pornografi ini bertentangan dengan hak asasi manusia karena masuk ke ranah moral pribadi yang seharusnya tidak diintervensi negara.
Argumen ini memiliki kelemahan karena isu pornografi bukanlah sekadar masalah moral. Di berbagai belahan dunia, perang terhadap pornografi dilancarkan karena masalah-masalah sosial yang ditimbulkannya. Pornografi diakui – bahkan oleh masyarakat akademik—sebagai hal yang berkorelasi dengan berbagai masalah sosial.
Kebebasan yang dinikmati para pembuat media pornografis adalah sesuatu yang baru berlangsung sekitar 30-40 tahun terakhir. Sebelumnya untuk waktu yang lama, masyarakat demokratis di berbagai belahan dunia memandang pornografi sebagai "anak haram" yang bukan hanya mengganggu etika kaum beradab tapi juga dipercaya membawa banyak masalah kemasyarakatan.
Saat ini pun, industri pornografi yang tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir dipercaya mendorong perilaku seks bebas dan tidak sehat yang pada gilirannya menyumbang beragam persoalan kemasyarakatan: kehamilan remaja, penyebaran penyakit menular melalui seks, kekerasan seksual, keruntuhan nilai-nilai keluarga, aborsi, serta bahkan pedophilia dan pelecehan perempuan. Sebagian feminis bahkan menyebut pornogafi sebagai "kejahatan terhadap perempuan".
Karena rangkaian masalah ini, plus pertimbangan agama, tak ada negara di dunia ini yang membebaskan penyebaran pornografi di wilayahnya. Bentuk pengaturannya memang tak harus dalam format UU Pornografi, namun dalam satu dan lain cara, negara-negara paling demokratis sekali pun mengatur soal pornografi.
Di sisi lain, argumen bahwa soal "moral" seharusnya tidak diatur negara juga memiliki kelemahan mendasar. Deklarasi Univeral Hak-hak Asas Manusia (ayat 29), misalnya, secara tegas menyatakan bahwa pembatasan terhadap kebebasan berekspresi dapat dilakukan atas dasar, antara lain, pertimbangan moral dalam masyarakat demokratis. Hal yang sama tertuang dalam amandemen Pasal 28J UUD 1945. Dengan begitu, kalaupun RUU ini menggunakan pendekatan moral pun sebenarnya tetap konstitusional.
2. RUU ini memiliki agenda penegakan syariah.
Tuduhan ini sulit diterima karena RUU ini jelas memberi pengakuan hukum terhadap sejumlah bentuk pornografi. RUU ini menyatakan bahwa yang dilarang sama sekali, hanyalah: adegan persenggamaan, ketelanjangan, masturbasi, alat vital dan kekerasan seksual. Pornografi yang tidak termasuk dalam lima kategori itu akan diatur oleh peraturan lebih lanjut.
Dengan kata lain, RUU ini sebenarnya justru mengikuti logika pengaturan distribusi pornografi yang diterapkan di banyak negara Barat. Mengingat ajaran Islam menolak semua bentuk pornografi, bila memang ada agenda Syariah, RUU ini seharusnya mengharamkan semua bentuk pornografi tanpa kecuali.
Dengan RUU ini, justru majalah pria dewasa seperti Popular, FHM, ME, Playboy (Indonesia) akan memperoleh kepastian hukum. Mereka diizinkan ada, tapi pendistribusiannya akan diatur melalui peraturan lebih lanjut.
Memang benar bahwa kelompok-kelompok yang pertama berinsiatif melahirkan RUU ini, sejak 1999, adalah kelompok-kelompok Islam. Begitu juga dalam prosesnya, dukungan terhadap RUU ini di dalam maupun di luar parlemen, lazimnya datang dari komunitas muslim. Dalam perkembangan terakhir, bahkan pembelahannya nampak jelas: Konnferensi Waligereja Indonesia dan Persatuan Gereja Indonesia meminta agar RUU tidak disahkan; Majelis Ulama Indonesia mendukung RUU.
Namun kalau dilihat isi RUU, agak sulit untuk menemukan nuansa syariah di dalamnya. Ini yang menyebabkan Hizbut Tahrir Indonesia secara terbuka mengeluarkan kritik terhadap RUU yang dianggap mereka sebagai membuka jalan bagi sebagian pornografi. Bagaimanapun, HTI juga secara terbuka menyatakan dukungan atas pengesahannya dengan alasan "lebih baik tetap ada aturan daripada tidak ada sama sekali".
3. RUU ini merupakan bentuk kriminalisasi perempuan.
Tuduhan ini sering diulang-ulang sebagian feminis Indonesia. Tapi, sulit untuk menerima tuduhan ini mengingat justru yang berpotensi terkena ancaman pidana adalah kaum lelaki. RUU ini mengancam dengan keras mereka yang mendanai, membuat, menawarkan, menjual, menyebarkan dan memiliki pornografi. Mengingat industri pornografi adalah industri yang dibuat dan ditujukan kepada (terutama) pria, yang paling terancam tentu saja adalah kaum pria.
RUU ini memang juga mengancam para model yang terlibat dalam pembuatan pornografi. Namun ditambahkan di situ bahwa hanya mereka yang menjadi model dengan kesadaran sendiri yang akan dikenakan hukuman. Dengan begitu, RUU ini akan melindungi para perempuan yang misalnya menjadi "model" porno karena ditipu, dipaksa, atau yang gambarnya diambil melalui rekaman tersembunyi (hidden camera).
Para pejuang hak perempuan juga lazim berargumen bahwa RUU ini membahayakan kaum perempuan karena banyak model yang terjun ke dalam bisnis pornografi karena alasan keterhimpitan ekonomi. Sayangnya, kalau dilihat muatan pornografi yang berkembang di Indonesia, argumen itu nampak tidak berdasar. Para model pornografi itu tidak bisa disamakan dengan para pekerja seks komersial kelas bawah yang tertindas. Para model itu mengeruk keuntungan finansial yang besar dan sulit untuk membayangkan mereka melakukannya karena keterhimpitan dalam struktur gender yang timpang.
4. Definisi pornografi dalam RUU sangat tidak jelas.
Secara ringkas, definisi pornografi di dalam RUU ini adalah: "materi seksualitas melalui media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat".
Para pengeritik RUU menganggap, definisi ini kabur karena penerapannya melibatkan tafsiran subjektiif mengenai apa yang dimaksudkan dengan "membangkitkan hasrat seksual" dan "melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat". Karena kelemahan itu, para pengeritik menganggap RUU sebaiknya ditunda atau dibatalkan pengesahannya.
Kritik semacam ini tidak berdasar karena definisi soal pornografi yang lazim berlaku di seluruh dunia – kurang lebih – seperti yang dirumuskan dalam RUU itu. Ensiklopedi Encarta 2008, misalnya menulis pornografi adalah film, majalah, tulisan, fotografi dan materi lainnya yang eksplisit secara seksual dan bertujuan untuk membangkitkan hasrat seksual. English Learner's Dictionary (1986-2008) mendefinisikan pornografi sebagai literatur, gambar film, dan sebagainya yang tidak sopan (indecent) secara seksual.
Di banyak negara, pengaturan soal pornografi memang lazim berada dalam wilayah multi-tafsir ini. Karena itu, pembatasan tentang pornografi bisa berbeda-beda dari tahun ke tahun dan di berbagai daerah dengan budaya berbeda. Sebagai contoh, pada tahun 1960an, akan sulit ditemukan film AS yang menampilkan adegan wanita bertelanjang dada, sementara pada abad 21 ini, bagian semacam itu lazim tersaji di film-film yang diperuntukkan pada penonton 17 tahun ke atas. Itu terjadi karena batasan "tidak pantas" memang terus berubah.
Soal ketidakpastian definisi ini juga sebenarnya lazim ditemukan di berbagai UU lain. Dalam KUHP saja misalnya, definisi tegas "mencemarkan nama baik" atau "melanggar kesusilaan" tidak ditemukan. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah sidang pengadilan. Ini lazim berlaku dalam hukum mengingat ada kepercayaan pada kemampuan akal sehat manusia untuk mendefinisikannya sesuai dengan konteks ruang dan waktu.
5. RUU ini mengancam kebhinekaan
Cara pandang keliru ini nampaknya bisa terjadi karena salah baca. Dalam draft RUU yang dikeluarkan pada 2006, memang ada pasal-pasal yang dapat ditafsirkan sebagai tidak menghargai keberagaman budaya. Misalnya saja, aturan yang memerintahkan masyarakat untuk tidak mengenakan pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh yang sensual seperti payudara, paha, pusar, baik secara keseluruhan ataupun sebagian.
Ini memang bermasalah karena itu mengkriminalkan berbagai cara berpakaian yang lazim di berbagai daerah. Tak usah di wilayah yang dihuni masyarakat non-muslim; di wilayah mayoritas muslim pun, seperti Jawa Barat, kebaya dengan dada rendah adalah lazim. Hanya saja, pasal-pasal itu seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah karena sudah dicoret dari RUU yang baru.
Begitu juga dengan kesenian tradisional yang lazim menampilkan gerak tubuh yang sensual, seperti jaipongan. Dalam RUU yang baru, tak ada satupun pasal yang menyebabkan kesenian semacam itu akan dilarang. RUU ini bahkan menambahkan klausul yang menyatakan bahwa pelarangan terhadap pornografi kelas berat (misalnya mengandung ketelanjangan) akan dianulir kalau itu memiliki nilai seni-budaya.
6. RUU ini akan mengatur cara berpakaian.
Sebagian pengeritik menakut-nakuti masyarakat bahwa bila RUU ini disahkan, perempuan tak boleh lagi mengenakan rok mini atau celana pendek di luar rumah. Ini peringatan yang menyesatkan. Tak satupun ada pasal dalam RUU ini yang berbicara soal cara berpakaian masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
7.RUU ini berpotensi mendorong lahirnya aksi-aksi anarkis masyarakat.
Para pengecam menuduh bahwa RUU ini akan membuka peluang bagi tindak anarkisme masyarakat, mengingat adanya pasal 21 yang berbunyi: "Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi."
Tuduhan ini agak mencari-cari, karena dalam pasal berikutnya, RUU menyatakan bahwa "peran serta" masyarakat itu hanya terbatas pada: melaporkan pelanggaran UU, menggugat ke pengadilan, melakukan sosialisasi peraturan, dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat.
Dengan kata lain, justru RUU ini memberi batasan yang tegas terhadap kelompok-kelompok yang senang main hakim sendiri bahwa dalam alam demokratis, peran serta itu tak boleh ditafsirkan semena-mena.
8. RUU ini tidak perlu karena sudah ada perangkat hukum yang lain untuk mengerem pornografi.
Para pengeritik lazim menganggap RUU ini sebagai tak diperlukan karena sudah ada KUHP yang bila ditegakkan akan bisa digunakan untuk mengatur pornografi.
Argumen ini lemah karena sejumlah hal. Pertama, KUHP melarang penyebaran hal-hal yang melanggar kesusilaan yang definisinya jauh lebih luas daripada pornografi. KUHP pun menyamaratakan semua bentuk pornografi. Selama sesuatu dianggap "melanggar kesusilaan", benda itu menjadi barang haram yang harus dienyahkan dari Indonesia. Dengan demikian, KUHP justru tidak membedakan antara sebuah novel yang di dalamnya mengandung muatan seks beberapa halaman dengan film porno yang selama dua jam menghadirkan adegan seks. Dua-duanya dianggap melanggar KUHP.
RUU ini, sebaliknya, membedakan kedua ragam pornografi itu. Media yang menyajikan adegan pornografis kelas berat memang dilarang, tapi yang menyajikan muatan pornografis ringan akan diatur pendistribusiannya.
Lebih jauh lagi, sebagai produk di masa awal kemerdekaan, KUHP memang nampak ketinggalan jaman. Terhadap mereka yang membuat dan menyebarkan hal-hal yang melanggar kesusilaan, KUHP hanya memberi ancaman pidana penjara maksimal 18 bulan dan denda maksimal empat ribu lima ratus rupiah! KUHP juga tidak membedakan perlakuan terhadap pornografi biasa dan pornografi anak.
9. RUU Pornografi tidak perlu, yang diperlukan adalah mendidik masyarakat.
Para pengecam menganggap bahwa sebuah pornografi tidak diperlukan karena untuk mencegah efek negatif pornografi yang lebih penting adalah memperkuat kemampuan masyarakat untuk menolak dan menseleksi sendiri pornografi. Jadi yang diperlukan adalah pendidikan melek media dan bukan Undang-undang.
Argumen ini lemah karena bahkan para pendukung mekanisme pasar bebas pun, lazim mempercayai arti penting aturan. Bila pornografi memang dipercaya mengandung muatan yang negatif (misalnya mendorong perilaku seks bebas, melecehkan perempuan, mendorong kekerasan seks, dan sebagainya), maka negara lazim diberi kewenangan untuk melindungi masyarakat dengan antara lain mengeluarkan peraturan perundangan yang ketat.
Di Amerika Serikat, sebagai contoh sebuah negara yang demokratis, terdapat aturan yang ketat terhadap pornografi yang dianggap masuk dalam kategori cabul (obscene). Di sana pun, masyarakat tak diberi kewenangan untuk menentukan sendiri apakah mereka mau atau tidak mau menonton film cabul, karena begitu sebuah materi pornografis dianggap `cabul', itu akan langsung dianggap melanggar hukum.
Pendidikan untuk meningkatkan daya kritis masyarakat tetap penting. Namun membayangkan itu akan cukup untuk mencegah efek negatif pornografi, sementara gencaran rangsangan pornografi berlangsung secara bebas di tengah masyarakat, mungkin adalah harapan berlebihan.
10. RUU ini mengancam para seniman.
Tuduhan bahwa RUU ini akan mengekang kebebasan para seniman juga mencerminkan kemiskinan informasi para pengecam tersebut. RUU ini justru memberi penghormatan khusus pada wilayah kesenian dan kebudayaan, dengan memasukkan pasal yang menyatakan bahwa pasal-pasal pelarangan pornografi akan dikecualikan pada karya-karya yang diangap memiliki nilai seni dan budaya