Showing posts with label kritik dan berpikir. Show all posts
Showing posts with label kritik dan berpikir. Show all posts

Sunday, January 3, 2010

Menuai Kritik, Menjawab Kritik

”Anda dapat menuliskan apa saja, tapi hanya dengan menerima kritik, maka dunia akan tahu bahwa Anda dapat menulis lebih baik lagi.”
-- Oliver Goldsmith, penulis dan penyair, 1730-1774

KUPING jadi merah. Mata terasa panas. Hati pun mendidih. Itulah gejala saat kritik mengena. Seperti pukulan uppercut mengenai ulu hati. Tak enak rasanya. Hasilnya ada dua: kembali bangkit dan membenahi semua kekurangan seperti yang dilontarkan dalam kritik. Atau sebaliknya, ada yang langsung lunglai, lemas bagaikan tak bersendi. Ya, suatu kritik, pedas atau tidak, ternyata tak semua orang dapat mengelolanya dengan baik.

Itulah efek dari kritik. Semua tergantung pada orang yang menerima kritik itu. Telinga yang tidak sensitif bisa membuat segalanya berantakan. Sekadar menyebut contoh, mengenai apa yang dilakukan pelatih sepak bola Steve McClaren. Pelatih Tim Inggris tersebut berkali-kali diberi masukan, saran, dan pendapat, namun toh dia tetap dablek. Hasilnya, Inggris knock out. Tersisih dari ajang Piala Eropa tahun 2008. Akibatnya? Seluruh rakyat Inggris menangis.

Sebaliknya, Raymond Domenech, pelatih sepak bola Prancis begitu meresapi kritik yang berhamburan ke arahnya. Tim Ayam Jantan asuhannya dikritik tak memiliki kepemimpinan di lapangan hijau. Kritik itu ditindaklanjutinya. Dia pun memanggil kembali Zinedine Zidane, pemain gaek. Hasilnya sungguh memukau, Tim Perancis melaju hingga final Piala Dunia 2006 di Jerman.

Mari kita kembali ke dunia nyata. Kritik bukanlah hal yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Bos yang selalu memaksakan kehendak tanpa mau menerima masukan dari karyawan, Pemda yang tak mampu mengatasi banjir yang terjadi dari tahun ke tahun, atau Walikota yang tak juga mampu membenahi jalan yang bopeng, patutlah disembur kritik. Tujuannya tentulah mulia, untuk mengubah keadaaan menjadi lebih baik. Itulah maksud dan tujuan sesungguhnya dari sebuah kritik.

Apa saja yang di depan mata bisa menjadi bahan kritik. Sampah yang menumpuk, kemacetan di jalan, dan semua hal yang terlihat atau terdengar. Kritik seperti kripik, renyah dan enak dikunyah, meski belum tentu orang lain bisa menerimanya. Apapun kritik dan entah dengan cara bagaimanapun kritik itu sampai hingga ke telinga, haruslah disikapi dengan bijak.

Bagaimana kalau kita sendiri yang mendapat kritik? Belum tentu kita menerima dengan lapang dada. Seorang pembuat film di negeri ini shock ketika karyanya dibantai habis oleh seorang wartawan di media massa. Upaya yang dibuat berhari-hari, bahkan berminggu-minggu akhirnya kandas di tangan seorang kritikus. Salahkah dia kalau kemudian mutung? Wajar saja. Namun, seperti mendapatkan pujian, menerima kritik merupakan bagian lain dari suatu hasil karya. Seperti setelah membuat kue, kita tinggal menunggu ocehan orang: enak atau bikin muntah.

Jadi, apa pun tindakan dan perbuatan yang kita lakukan, sudah semestinya akan disertai dengan pendapat pro atau kontra. Masalahnya, bagaimana kita bisa mengelola kritik itu menjadi suatu penuntun untuk mencapai hasil yang lebih baik atau malah sebaliknya bikin kita tengkurap dan ogah bangun lagi.

Seburuk apa pun kritik yang sampai ke telinga kita, semestinya disikapi dengan dua hal. Kritik merupakan bagian dari satu upaya penyempurnaan. Dan, ini yang juga penting, rasa sayang dari orang-orang sekitar kita. Mereka atau entah siapapun itu orangnya, ingin kita bisa bertindak lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Tak usah sempurna: tapi paling tidak bisa mendekati sesuai dengan kritik yang mereka sampaikan.

Kritik merupakan bagian dari proses belajar agar seseorang menjadi bertanggung jawab atas tindakan dan ucapannya. Kualitas hidup seseorang pada akhirnya juga ditentukan bagaimana ia menanggapi kritik tersebut. Karena ia menyadari, bahwa dengan kritik itulah, ia dapat memperbaiki kualitas hidupnya menjadi lebih baik. Menyerap kritik yang disampaikan pihak lain, membuat kita juga bisa memberikan kritik di lain hari pada orang lain dengan jalan yang lebih elegan, dan tentunya, membawa kebaikan untuk semua. Semoga. (241108)

Sumber: Menuai Kritik, Menjawab Kritik oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta

Thursday, March 5, 2009

Kritik bagian penting dalam berpikir

http://vibizlearning.com/new/knowledge/kritik,_bagian_penting_dalam_berpikir

Kala kita menyaksikan pertandingan sepak bola, dengan mudahnya kita memberi komentar, begitu juga dalam bermain golf dengan mudah kita juga bias melakukan kesalahan yang sama. Dalam kehidupan pribadi, sangatlah gampang melemparkan kritik, tudingan dan komentar – komentar yang bersifat menyerang. Sikap dan ciri – ciri lingkungan atau individu yang rentan dan sulit menerima kritik seperti berikut :




  1. Individu yang berhasil atau merasa selalu berhasil dikarenakan memang dia sudah membuktikan dia berhasil, namun dia lupa bahwa dia tidak mungkin bekerja sendiri dan tanpa masukan.

  2. Individu yang arogan, yang merasa dirinya adalah yang terbaik, dia adalah manusia megalomania, dia lupa bahwa banyak orang yang lebih baik. Individu tersebut akan kesepian (lonely).

  3. Individu yang otokratik, merasa dialah penguasa tertinggi di jabatannya dan siapa berani melontarkan sedikir kritik saja akan dia singkirkan. Menurut studi, individu tersebut yang bertindak sebagai raja sesaat akan di jatuhkan oleh manusia sekitarnya yang hanya selalu meng’iyakan sewaktu dia berkuasa atau sebaliknya para oposan yang bangkit.

  4. Individu yang melihat suatu peluang dan sangat terobsesi, mereka lupa bahwa informasi diketahui masih terbatas dan perlu mendengar orang lain.

  5. Individu yang penuh kedengkian dan akan melakukan suatu tindakan balasan, mereka masuk kategori paranoid, tindakannya berlebihan dan akan menimbulkan akibat yang merugikan orang lain.

  6. Individu yang sedang mengalami stres atau dan sudah sangat terdesak (desperate), mereka akan menjadi mangsa dan peluang untuk dimanfaatkan orang lain.


Bagaimana kita menghadapi karakter – karekter tersebut, atau menyikapi bila kita sendiri masuk dalam kategori tersebut, karena kita masuk dalam jebakan berpikir hanya memuaskan kehendak dan satu arah saja (one track thinking and mind) yang menyebabkan sudut pandang menjadi terbatas?


Jika kita membaca dan mempelajari buku yang masih menjadi best seller seperti blue ocean strategy oleh CW Kim dan R. Mauborgne, Good to Great oleh Jim Colin dan Re-code your change DNA oleh DR Renald Khasali, maka kita akan membaca disana bagaimana organisasi bertumbuh secara berkelanjutan (sustain) dan terus mencari inovasi. Organisasi tersebut selayaknya hidup dengan paradigma berani melihat kelemahan, berani melihat keluar, menerima kriti, membandingkan dan berani berubah. Organisasi yang tidak berkembang mempunyai ciri – ciri :




  1. Tidak mau belajar dari lingkungan dalam paradigma yang cepat berubah.

  2. Sumber daya manusia yang hidup di zona nyaman (comfort zone).

  3. Tidak atau kurang mau mendengarkan apa yang terjadi diluar lingkungan dimana ketidakpastian (uncertainty) selalu terjadi.

  4. Kritik, saran atau masukan dianggap sesuatu yang merendahkan harga diri.