Showing posts with label guru. Show all posts
Showing posts with label guru. Show all posts

Thursday, November 25, 2010

Selamat Hari Guru, bukan hari PGRI


Untuk semua guru, guru yang mengajar saat TK hingga kuliah, guru yang mengajar di mesjid dan surau, guru yang bertemu saat di perjalanan dalam obrolan, guru yang memberi saran dan kritik dalam hidup, semua orang tua yang sebenarnya adalah guru pertama kita. Selamat menjadi teladan, semoga Allah memberikan kemudahan, rahmat, ampunan dan kasih sayang.

Thursday, October 7, 2010

Kenali Cara Guru Mendidik Anak di Sekolah

SUGIHARTO/SURYA DAILY

Kamis, 7/10/2010 | 06:42 WIB

KOMPAS.com - Waktu yang digunakan anak Anda di sekolah tak sebentar. Jadi, pastikan anak mendapat pendidikan yang tepat dan mampu mendukung tumbuh-kembang anak. Dalam memilih sekolah, orangtua juga perlu menanyakan kualitas gurunya.

Caranya, kenali karakter guru anak Anda di sekolah melalui latar belakangnya. Bukan hanya dari latar belakang pendidikannya, tetapi juga dari ekspektasinya terhadap Anda sebagai orangtua maupun anak sebagai muridnya. Sejumlah pertanyaan bisa Anda ajukan kepada guru anak di sekolah. Tujuannya untuk memastikan anak Anda dididik oleh orang yang tepat.

Cara mengajar
Seperti apa cara mengajarnya? Apa yang paling disukai guru dari kegiatan mengajar?

Pertanyaan ini bisa diajukan untuk mengetahui apakah cara mendidik anak di rumah bisa sejalan dengan didikan guru di sekolah. Kesesuaian cara mendidik ini membantu menyelaraskan pengasuhan di rumah dan di sekolah.

Kurikulum
Seperti apa kurikulum yang diterapkan? Aktivitas seperti apa yang dijalankan di sekolah?

Memilih sekolah dengan kurikulum yang mendukung tumbuh-kembang anak memang tak mudah. Namun setidaknya, dengan menanyakan kurikulum yang dijalankan guru, ekspektasi Anda terpenuhi. Walaupun tak sepenuhnya memenuhi keinginan, setidaknya mendekati harapan.

Kebutuhan anak
Kebutuhan apa saja yang harus dipersiapkan anak sebelum masuk kelasnya?

Guru yang memiliki rencana pendidikan yang baik tentunya sudah menyiapkan berbagai informasi detail. Termasuk kebutuhan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menjalani program di kelasnya. Dari sini Anda bisa mengenali seperti apa kredibilitas pengajar.

Tes masuk sekolah
Perhatian dari orangtua atas pendidikan anak juga diperlukan. Anda juga perlu aktif menanyakan tes masuk sekolah yang akan dilalui anak. Tanyakan, apakah anak Anda akan melalui sejumlah tes? Jika iya, apakah orangtua boleh membantu mempersiapkannya, atau sebaiknya anak mandiri?

Setiap sekolah memiliki sistem berbeda. Anda sebagai orangtua juga perlu melakukan penyesuaian. Jika peran aktif Anda tak diperlukan, saatnya menjauh. Bisa jadi, guru atau sekolah sedang ingin mengajarkan anak mandiri tanpa bantuan orangtuanya.

Ekspektasi terhadap anak
Bentuk perhatian yang bisa diberikan orangtua adalah mendukung anak melakukan pencapaian. Tanyakan kepada pengajar, peningkatan atau pencapaian apa yang diharapkan dari anak Anda. Dengan tujuan pendidikan yang jelas, orangtua bisa memberikan dukungan kepada anak untuk mencapai harapan bersama.

Evaluasi pendidikan
Seperti apa model evaluasi di sekolah? Apakah melalui sejumlah tes tertulis atau penilaian atas partisipasinya dalam berbagai kegiatan? Pertanyaan ini juga perlu diajukan, terutama bagi orangtua yang merasa tak efektif jika evaluasi hanya dilakukan dengan tes tertulis saja. Metode evaluasi berkaitan dengan sistem pendidikan, apakah sesuai dengan ekspektasi Anda atau tidak.

Cara mendisiplinkan anak
Anda dan suami tentunya punya cara efektif mendisiplinkan anak. Orangtua juga perlu mengetahui bagaimana pengajar menerapkan kedisiplinan terhadap anak. Tanyakan metode guru atau sekolah dalam mengajarkan disiplin kepada murid.

Cara komunikasi dengan guru
Orangtua berhak mengawasi berjalannya proses belajar-mengajar. Tanyakan kepada pengajar, cara komunikasi seperti apa yang memungkinkan bisa dilakukan. Keterbukaan antara orangtua dan guru bermanfaat untuk kepentingan pendidikan anak. Namun, tak semua pengajar bersedia dihubungi langsung secara personal. Agar lebih etis, tanyakan apakah pengajar bersedia dihubungi orangtua jika ada kebutuhan atau pertanyaan menyangkut pendidikan anak.

Thursday, August 26, 2010

Kekuatan cinta sang guru

Written by Rizal Dharma S., Guru Sosial SDIT NF

Monday, 17 May 2010 10:03

Cinta. Kata yang dilahirkan dengan beragam makna. Banyak definisi, karena kata tersebut memang memiliki beragam interpretasi. Cinta memiliki kelaziman, bahwa mencintai siapapun dan apapun akan berbuah loyalitas terhadap apa yang dicintainya.

Jika cinta kita tujukan terhadap Allah, maka akan lahir sebuah pengabdian yang luar biasa. Menempatkan sang Maha Kuasa diatas segalanya. Namun jika cinta kita tujukan terhadap selain Allah, maka cinta kita terhadap siapapun dan apapun adalah cinta yang akan menambah kecintaan kita terhadap Allah SWT.

Menjadi seorang guru membutuhkan kekuatan cinta. Tak cukup berbekal kemampuan akademis dan paedagogis semata, karena tantangan yang dihadapi saat mengajar memang luar biasa jika harus diukur secara kualitas dan kuantitas. Semua pasti sudah memahami, semua orang yang terlibat dan memiliki profesi sebagai guru pasti telah memiliki cinta untuk profesinya. Namun terkadang, cinta itu harus diuji saat berhadapan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi, dan tentunya yang tersulit ketika menghadapi anak yang belum tergali potensinya ditambah selimut malas melekat pada dirinya. Cinta guru dipertaruhkan pada profesinya, menghadapi tantangan yang luar biasa sulitnya akan membiaskan niatnya ketika memutuskan menjadi seorang guru.

Jika kita menengok sejarah jauh kebelakang, maka kita akan mendapati bagaimana kekuatan cinta yang lahir dari seseorang mampu membuat sesuatu yang hampir tidak mungkin secara logika menjadi mungkin terjadi. Selalu membekas dalam ingatan kita, bagiamana Rasulullah selalu memberi makan dengan cara yang berbeda untuk seorang pengemis yahudi buta, padahal balasan yang Rasul terima ialah cacian.

Hari itu di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis yahudi buta yang selalu berkata kepada orang-orang, “Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila. Dia itu penyihir. Jika kalian mendekatinya maka kalian akan terpengaruh olehnya.”

Tak ada seorang pun yang lewat melainkan telah mendengarkan ocehannya tersebut. Begitu pula pada seseorang yang selalu menemuinya setiap hari di sana, memberinya makanan, hingga menyuapinya. Pengemis buta itu selalu menghina dan merendahkan Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di hadapan orang yang menyuapinya itu. Tapi orang itu hanya diam, terus menyuapi pengemis buta itu hingga makanannya habis.

Hingga akhirnya beberapa saat kemudian Rasulullah wafat. Kesedihan menaungi hati para sahabatnya. Suasana duka pun berlangsung amat lama bagi mereka. Seseorang yang begitu mereka cintai, mereka segani, dan begitu mereka taati telah pergi dari sisi mereka.

Hari-hari mereka lewati begitu berat tanpa Rasulullah. Mereka akan selalu mengenang kebersamaan mereka dengan beliau semasa hidupnya. Mereka tidak akan pernah melupakannya.

Begitulah yang tengah terjadi pada diri Abu Bakar Ash Shiddiq, seorang sahabat beliau yang mulia. Dia tidak akan pernah bisa melupakan kenangan bersama Rasulullah. Justru dia dengan semangat menjalankan ibadah-ibadah sunnah yang dahulu sering dilakukan Rasulullah, tentu saja di samping ibadah-ibadah yang wajib.

Suatu hari, dia pernah bertanya kepada Aisyah, putrinya, “Wahai, putriku, apakah ada amalan yang sering dilakukan Rasulullah yang belum pernah kulakukan?”

“Ya, ada, Ayah,” jawab Aisyah.

“Apa itu?” tanya Abu Bakar lagi dengan penuh rasa penasaran.

Aisyah pun mulai bercerita.

Keesokan harinya, Abu Bakar berniat menunaikan amalan itu. Dia pergi menuju sudut pasar Madinah dengan membawa sebungkus makanan. Kemudian dia berhenti di depan seorang pengemis buta yang tengah sibuk memperingatkan orang-orang untuk menjauhi Muhammad. Betapa hancur hati Abu Bakar menyaksikan aksi pengemis itu yang begitu lancang menghina Rasulullah di hadapan banyak orang. Tapi dia mencoba untuk bersabar.

Abu Bakar lalu membuka bungkusan makanan yang dibawanya dari rumah. Kemudian dia mengajak pengemis itu duduk dan langsung menyuapi pengemis itu dengan tangannya.

“Kau bukan orang yang biasa memberiku makanan,” kata si pengemis buta dengan nada menghardik.

Aku orang yang biasa,” kata Abu Bakar.

“Tidak. Kau bukan orang yang biasa ke sini untuk memberiku makanan. Apabila dia yang datang, maka tak susah tangan ini memegang dan tak susah mulutku mengunyah. Dia selalu menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan disuapinya ke mulutku.” Begitulah bantahan si pengemis buta.

Abu Bakar tak bisa membendung rasa harunya. Air matanya menetes tak tertahankan. Dia kemudian berkata, “Ya, benar. Aku memang bukan orang yang biasa ke sini untuk memberimu makanan. Aku adalah salah satu sahabatnya. Orang yang dulu biasa ke sini itu telah wafat.”

Abu Bakar melanjutkan perkataannya. “Tahukah kau siapa orang yang dulu biasa ke sini untuk memberimu makanan? Dia adalah Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang selalu kau hina di depan orang banyak.”

Betapa terkejutnya pengemis Yahudi yang buta itu. Dia tak dapat berkata apa-apa. Air matanya perlahan berlinang membasahi kedua pipinya. Dia baru sadar betapa hinanya dirinya yang telah memperlakukan Rasulullah seperti itu. Padahal beliau telah berbaik hati memberinya makanan setiap hari.

“Benarkah itu?” tanya si pengemis buta setelah lama merenungi apa yang telah terjadi. “Selama ini aku telah menghinanya, memfitnahnya, bahkan di hadapannya. Tapi dia tidak pernah memarahiku. Dia sabar menghadapiku dengan berbagai macam ocehanku dan berbaik hati melumatkan makanan yang dibawanya untukku. Dia begitu mulia.” Tangisnya semakin menjadi.

Pada saat itu juga, di hadapan Abu Bakar Ash Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu menyatakan ke-Islamannya.

Jika kita telisik, Rasulullah telah mengajarkan kita. Kelaziman cinta yang diberikan terhadap manusia adalah simpati yang buahnya adalah dakwah. Hasilnya : seorang pengemis yang awalnya sangat benci tehadap Muhammad berbalik pada detik berikutnya menyatakan diri ingin mengikuti agama Muhammad SAW. Sekali lagi cinta membuktikan kelaziman, cinta Muhammad berbalas cinta sang pengemis buta. Apabila cinta Muhammad adalah simpati yang buahnya adalah dakwah, maka cinta sang pengemis buta terhadap Muhammad adalah kemesraan yang buahnya adalah mengikuti Muhammad.

Meminjam sedikit kutipan dari novel ketika cinta bertasbih, maka akan kita dapati bahwa cinta itu adalah kekuatan yang mampu mengubah duri menjadi mawar, mengubah cuka menjadi anggur, hinngga akhirnya mengubah musibah menjadi muhibah. Tapi Qudamah punya pendapatnya sendiri, menurutnya cinta mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut.

Maka, jika guru memiliki cinta dalam dirinya, pada detik itu pula ia akan mampu merubah murid yang malas menjadi rajin, murid yang belum tergali potensinya menjadi pintar, murid yang belum disiplin menjadi disiplin, dan murid yang sangat tergantung hidupnya menjadi murid yang mandiri.

Tuesday, March 16, 2010

Tuhan Sembilan Senti (Puisi Taufiq Ismail tentang bahaya rokok)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, Di sawah petani merokok, di pabrik

via Tuhan Sembilan Senti (Puisi Taufiq Ismail tentang bahaya rokok).

TUHAN SEMBILAN SENTI
(Puisi Taufiq Ismail Tentang Bahaya Rokok)
http://sekolahku.info/2009/11/tuhan-sembilan-senti-puisi-taufiq-ismail-tentang-bahaya-rokok/

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,


Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
Rokok hukumnya haram!

Rokok hukumnya haram!

25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghada

Tuesday, January 19, 2010

Murdiyanto, Guru yang Berani Ungkap Pemotongan Tunjangan

Murdiyanto, Guru yang Berani Ungkap Pemotongan Tunjangan

Senin, 18 Januari 2010 | 19:32 WIB



IGNATIUS SAWABI


Ilustrasi: Murdiyanto mengaku telah terjadi pemotongan tunjangan terhadap guru yang lolos uji sertifikasi di kabupaten tersebut sebesar Rp 50 ribu perguru setiap bulan


TERKAIT:





SEMARANG, KOMPAS.com - Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan menelusuri dugaan pemotongan terhadap tunjangan sertifikasi di Kabupaten Sukoharjo yang diungkapkan oleh Murdiyanto, seorang guru di SMP Negeri 1 Mojolaban, Sukoharjo.


"Kalau salah harus dibuktikan dulu, jangan main pecat"

-- Kunto Nugroho/Kadisdik Pemprov Jateng



Kepala Dinas Pendidikan Pemprov Jateng Kunto Nugroho di Semarang, Senin (18/1/2010), meminta pernyataan Murdiyanto tentang dugaan pemotongan tunjangan sertifikasi di Sukoharjo tersebut. Dikatakan pemotongan yang sebesar Rp 50 ribu perguru setiap bulan itu untuk ditelusuri kebenarannya.

Selain itu, Kunto juga meminta pihak Dinas Pendidikan Pemkab Sukoharjo tidak menjatuhkan sanksi berupa pemecatan kepada Murdiyanto sebelum dibuktikan terlebih dahulu pernyatannya. "Kalau salah harus dibuktikan dulu, jangan main pecat," katanya.

Dia mengatakan, penelusuran dugaan pemotongan tunjangan tersebut dilakukan agar seluruh permasalahan menjadi jernih. Jika dugaan benar, kata Kunto, seluruh pihak yang terlibat di dalamnya akan dijatuhi sanksi, sebab praktik semacam itu jelas sebagai suatu penyimpangan.

Sebelumnya, Murdiyanto mengaku telah terjadi pemotongan tunjangan terhadap guru yang lolos uji sertifikasi di kabupaten tersebut. Dia mengatakan, potongan itu mencapai Rp 50 ribu perguru setiap bulan. Atas laporan tersebut, Dinas Pendidikan Pemkab Sukoharjo mengancam akan memecat Murdiyanto dari status PNS.

Pihak dinas pendidikan setempat berpendapat, Murdiyanto telah mempermalukan institusi tempatnya bekerja, melanggar Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 Tentang Disiplin PNS.

Monday, January 26, 2009

Menyikapi Ujian Perguruan Tinggi

Sabtu kemaren mungkin masa yang paling krusial. Bagaimana tidak ada 7 siswa dan 4 pasangan orang tua yang hadir ke ruang BK. Pertanyaan yang sama, kondisi siswa dalam menghadapi Ujian Perguruan tinggi. Kepindahan SMA Negeri 8 Jakarta, menungsi ke Pusdiklat danjadwal ujian perguruan tinggi tahun ini menjadi pembicaraan dan diskusi lumayan panjang. Mental siswa yang mulai terganggu, kenyamanan dan tentunya harapan-harapan ke depan yang semestinya menjadi perhatian kita semua.

Jadwal ujian perguruan tinggi tahun ini memang berbeda sekali. Tahun lalu, setelah USM ITB, menyusul UM UGM, UMB UI, UM UNDIP, SMUP Unpad dan terakhir SNMPTN. Tahun ini UI benar-benar melakukan kecepatan penuh di belokan, bayangkan saja ITB yang buka pendaftaran pertama tapi dilibas oleh UI dengan pendafatran lebih cepat tutup dan ujian lebih awal sehingga, siswa menjadi terguncang. Untuk SMA Negeri 8 Jakarta, harus diakui ITB tetap menjadi skala prioritas, kecuali untuk Pendidikan Dokter, Akuntansi dan Komunikasi UI. Karena dulu UI juga banyak mengadakan seleksi, siswa tetap dalam kondisi aman. Sekarang dengan satu seleski dapat untuk ujian Reguer, paralel, vokasi, tentunya membuat kesiapan para siswa menjadi lebih apa adanya.

Bayangkan saja jika nanti pengumuman SIMAK UI yang diperkirakan ada sebelum USM ITB, bagaimana dengan siswa yang berharap masuk UI teryata gagal, maka kesempatannya hanya SNMPTN. Untuk yang diterima pun akan sedikit labil, karena boleh jadi itu bukan pilihan utamannya, mereka menanti STEI ITB.

Untuk mengurangi kondisi itu, maka saya coba sampaikan beberapa hal yang mungkin berguna untuk angkatan 2009. Terpaksa saya sampaikan di facebook, rasanya kalian tahu lah semua informasi perguruan tinggi tidak dapat saya akses di SMA Negeri 8 Jakarta, saya hanya membaca di web dan sedikit diskusi dengan teman-teman di BTA.

Hitung Waktu
Predisksi waktu yang ada dengan kesiapan kalian. Hitungan saya sekitar 35 hari lagi kalian akan berjuang di SIMAK UI. Berapa nilai Try out kalian, hitung degan waktu yang ada mampu tidak untuk meningkatkannya. Jadi buat resolusi sebulan ke depan.

Materi
Ini bukan saatnya mengajar "baca " materi. Itu salah, amat salah, kalau kalian masih berprisnip minggi ini bahas biologi, minggu depan bahas fisika. ITU SALAH. Belajar dari kesalahan. Uji coba soal, lihat kemampuan kalian, catat yang salah. Itulah daftar ketidak mampuan kalian. Orang yang mampu belajar dari ketidak ammpuan akan behasil ketimbang orang yang tidak tahu ketidak mampuannya.

Belahar kelompok
Harus. Lebih banyak belajar bareng makin tahu, kita banyak kurang dibanding teman-teman kita. Menginap di rumah teman atau kost salah satu kondisi yang baik. Kita akan terkondisi oleh suasan kompetisi dan pembelajaran. Cari soal milik teman, copy dan kerjakan mandiri setelah itu adu argumen. Sehinga kecapatan kalian menjawab soal bukan lagi 5 menit per soal tapi, 2 bahkan 1,5 menit. Hhhehehhehehee

Kenyamanan
Berberapa dari kalian melarikan diri tidak belajar di sekolah. Ini hal yang normal setiap tahun. Tinggal kita menyikai dengan benar. Kalau nggak nyaman, cari solusi yang membuat kamu berkonsentras dengan nyaman.

Dukungan
Dari Sekolah, no way. Dari kamu, teman dan keluarga. Sholat tahajjud bareng, berdoa bareng dan saling mendoakan. Mama atau papa kamu akan selalu mendukung kamu.

Keyakinan
Yakini kamui akan lulus ujian masuk perguruan tinggi.

Friday, January 23, 2009

Pemimpin Umat


Kalian semua adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri, dan ingat setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Sebuah kalimat yang selalu kita ingat saat ada pelantikan sebuah organisasi, minimal kita diingatkan bahwa ada pertanggung jawaban dari semua kegiatan/ kepemimpinan kita. Biasanya pemimpin yang baru dilantik sedemikian cerianya, karena begitu dihormati dan dipuja. Padahal banyak orang berilmu amat menolak untuk menjadi pemimpin bagi sebagian orang lain. Karena boleh jadi di mata Allah ada yang lebih baik dari dirinya.


Hal ini ditegaskan oleh salah seorang khalifah,”Saya bukan orang yang terbaik diantara kalian, saya hanyalah orang yang terpilih. Belum tentu yang tidak terpilih adalah orang yang tidak baik. Oleh karenanya bantu saya dan ingatkan saya. Luruskan saya jika saya menyimpang.” Seorang sahabat yang amat menyintai saudaranya tersebut dan tahu akan beban tanggung jawab dihadapan Allah kelak, dia menjawab,”Yaa, khalifah. Jika engkau menyimpang, saya akan meluruskan dengan pedang ini,” seraya menghunus pedang yang telah menewaskan kaum kafir di masa Rasulullah. Sang khalifah dengan tersenyum, berkata,”Terima kasih saudaraku, engkau telah menetapkan aku sebagai saudara di syurga kelak.”



Picik kah kisah di atas, tentu tidak. Malahan itulah pemimpin yang dihormati, dia rela mati ditangan saudaranya karena salah memimpin. Bantu, ingatkan dan luruskan. Begitu banyak pemimpin yang takut tidak berhasil dalam kepemimpinannya justru melakukan tindakan-tindakan yang membuat saudaranya bukan mau membantu, bukan mau mengingatkan, bahkan boleh jadi amat ketakutan untuk meluruskan. Sedemikian kuatnya arogansi sang pemimpin, sehingga menjadi ananiyah. Dirinya adalah yang HARUS PALING.



Tanpa sadar pemimpin kurang melihat tanda-tanda ketidak puasan, bahkan sudah tidak mampu melihat dengan mata hati, begitu banyak rakyatnya yang terzalimi oleh pola kepemimpinannya. Umar ibn Khatab selalu menangis di malam hari, dalam ketenangan tahajjud, bertemakan sajadah apa adanya, hanya untuk mengevaluasi dosa apa yang telah dia lakukan hari ini ? Apakah ada rakyat terzalimi oleh kata-kata, ungkapan dan bahkan mungkin bercandanya beliau ?



Yang amat rasulullah hindari adalah memanggil saudaranya seiman dengan gelaran-gelaran yang buruk. Bayangkan jika semua panggilan kita membahagiakah saudara-saudar kita, seperti halnya rasulullah memanggil,”khumairah,” kepada salah seorangg istrinya. Semua makhluk ciptaan Allah Azza Wajjalah. Manusia adalah makhluk sempurna. Saya sedih ketika pulang ke rumah membawa cerita kepada bunda di rumah. “Tadi teman-teman guru di sekolah sedih, karena di bilang bloon.” Ibu saya tidak bersekolah, punya keinginan tapi tidak ada kemudahan saat itu. Beliau belajar mengaji dari desa Kalisube di Banyumas, menempuh 2,5 jam per jalanan melewati pematang sawah, semak belukar dan pingggiran hutan, hanya punya tekad agar anak-anaknya tidak mempunyai kelemahan yang disandangnya, kurang pandai karena kondisi. Hampir 72 tahun usia beliau, menghidupi tujuh putri dan dua putra, termasuk saya.


“Kamu, tidak marah nak ? ….. Udah kamu doakan orang tersebut agar sadar akan kekhilafannya ? …… Kamu kirimkan saja Al Fatihah, semoga Allah tidak menarik rahmat darinya,” kata ibu pelan seraya menyentuh keningku, Walau usia saya 41 tahun, saya yang belum punya tanggungan, masih bisa bermanja-manja dengan bunda.



Semoga bunda tidak tersinggung, juga teman-teman guru dan tentunya guru-guru yang telah mengajar saya ketika SMA. Masih ada bu Astri, bu Ferry, bu Nurlela, bu Cut, pak Ugi, pak Warno, bu Sri Hastuti, pak Raziek, pak Ali Muntoro, bu Tatik, pak Priyohadi, pak Udi, mereka semua yang secara langsung mengajar saya. Semoga mereka tetap mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah. Mendidik dan membesarkan saya, di SMA Negeri 8.



Ada satu cerita lain yang harus menjadi renungan kita. Terinspirasi oleh guru-guru yang saya sebutkan di atas. Sampai hari ini, tampilan mereka tidak berubah. Kemakmuran kalau dihitung dari jumlah limpahan kemudahan di dunia, rasanya mereka belum mencapai hal itu. Mereka bahagia dengan yang Allah limpahkan saat ini. Karena setahu saya mereka memang guru sesungguhnya, produk lama dengan visi sepanjang masa, Guru mendidik bukan membodohi, jika seorang guru menjadi pemimpin dan membodohi, hal itu pasti lebih fatal. Audzubillah min dzalik.



Suatu saat, datanglah seorang anak kepada ayahnya. Ayahnya sedang mengerjakan pekerjaan kantor.


“Asslamu’alaikum.”


“Wa’alailum salam warahmatulahi wabarakatuh, silakan masuk. Oh kamu nak….. Ada apa kok mampir ke tempat ayah ?”


Anak tersebut mendekati ayahnya, mencium tangan ayahnya, dan berkata,” Yah,…. Saya mau bicarakan masa depan saya,….. boleh yah?”. Dengan sigap, pegawai kantor tersebut mematikan lampu dan menarik anaknya duduk di lantai tidak mempersilakan anak tersbeut duduk di sofa empuk depan meja kerjanya. “Yah, kenapa lampunya dimatikan dan kenapa kita duduk di bawah, padahal ada kursi kosong di ruang ini.”


Dengan suara perlahan, pegawai tersebut mendekatkan mulutnya ke telinga putranya,”Anakku, bukan karena ayah marah kamu datang dan bertanya seperti itu. Ayah senang kamu berkunjung. Persoalannya adalah, ini kantor pemerintah, semuanya dibiayai pemerintah untuk kepentingan rakyat. Kamu memang termasuk rakyat, tetapi kamu hadir untuk mempertanyakan sesuatu yang menjadi persoalan keluarga kita. Ayah tidak mau kita menggunakan fasilitas Negara untuk kepentingan kita,……”. Anak itu memeluk ayahnya dan meminta maaf karena takut dialah yang menyebabkan ayahnya masuk neraka.



17 Januari 2009, sabtu kampus ui depok.

Friday, December 5, 2008

Ini mah sotoy, hehehehhe

Cerita dari tetangga ...

Pola Pikir Seorang Guru dan murid

Seorang Guru SD kelas 2 sedang menerangkan soal Matematika, kemudian guru itu menunjuk salah satu muridnya untuk menjawab pertanyaan.

"Amin... coba jawab pertanyaan ibu, kalo ada 5 ekor burung di pagar kemudian seorang pemburu menembak mati salah satu dari burung tersebut, sekarang berapa sisa burung yang ada di pagar?", tanya Bu Guru.
"Abis dong bu...", jawab Amin dengan yakin.
"Salah Min.. coba kamu pikir lagi jawabannya", bantah Bu Guru.
"Iya bu.. jawabannya abis..!", Amin mencoba mempertahankan pendapatnya.
"Ya sudah, tolong kamu jelasin kenapa jawaban kamu begitu..!"
"Begini bu.. khan ada 5 ekor burung.. di tembak satu.. terus darahnya kemana-mana khan bu.. trus temen-temennya jadi panik dan pada ngabur.. jadi burung yang tinggal di pagar itu nggak ada lagi.", jawab Amin.
"Sebenarnya jawaban itu bukan yang ibu minta, jawaban yang benar adalah 4, tapi Ibu suka cara kamu berpikir..", kata Bu Guru.

"Bu guru boleh tanya ga?", teriak Amin.
"Silahkan Amin.. mau tanya apa?", jawab Bu Guru.
"Ada 3 Cewek lagi makan ice cream. Cewek Pertama makan dengan cara jilatin ice creamnya, Cewek Kedua makan dengan cara menggigit ice creamnya, trus Cewek Ketiga makan dengan cara ngemutin tuh ice cream. Pertanyaannya, yang mana diantara 3 Cewek tersebut yang sudah menikah?", tanya Amin.
Ibu guru kaget sejenak tetapi karena tidak mau mengecewakan muridnya, ibu guru menjawab, "Yang sudah menikah adalah Cewek yang ngemut ice creamnya..".
"Salah bu.. yang sudah menikah adalah cewek yang pakai cincin kawin.
Tapi tidak apa-apa.. saya suka cara ibu berpikir.."

--------------- .....-------------------

Saya cukup kaget dengan tulisan tersebut yang dikirimkan seorang teman ke milis alumni. Buat dia mungkin menjadi lucu ketika tulisan tersebut bisa membuat kita tersenyum dan mungkin tertawa. Dan tentunya akan semakin membuat tertawa kadang yang menjadi objek akhirnya sebuat jabatan profesioanal, seorang guru. Hahaha, sedemikian kerdilnya kita, yang pernah merasakan tangan dingin para guru, kemarahan seorang guru, bahkan mungkin nasehat dari seorang guru. Seorang teman sesama alumni, saat diskusi dengan para guru SMA Negeri 8 Jakarta, di pertengahan oktober 2001, menyatakan "bapak, ibu tak mungkin lah saya duduk berjauhan dengan bapak atau ibu. Kalau pun ada persoalan, itu adalah antara kami, para murid bapak- ibu sekalian. Buat kami tidak ada mantan bapak-ibu guru kami. Sampai kapan pun kami tetap murid bapak - ibu guru, ......" dan seterusnya.

Mungkin kalimat yang disampaikan Mas Sugiharjo, Alumni Smandel '82, merupakan salah satu bagian dari momen  kehidupan saya yang akhirnya mengambil profesi sebagai guru. Saya tetap bangga dengan Bapak Lono Suparno kepala sekolah SDN Cikini 05 yang banyak memberikan saya ilmu saat saya harus mengejar beasiswa supersemar, bu Ida Faridah yang mengajar dengan tensi tinggi agar muridnya berkonsentrasi di kelas 5, bu Sitorus dengan suara yang keras di kelas 4 mampu membuat saya terbangun dari permaina dan obrolan setiap hari di kelas, bu Asni yang mengajar di kelas 1 dan 2 mengajar membaca dan berhitung dengan sabar walau saya masuk SD sudah bisa membaca koran Sinar Harapan terutama kolom Strategi Perang dan Militer, dan Pak Udin yang menuntaskan kewajiban belajar saya di kelas 6 dengan prestasi tertinggi.

Tulisan ini juga mengingat kepada para orang pintar negeri ini untuk tidak memanfaatkan guru sebagai bagian dari kampanye yang tidak mendidik. Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah harian Ibukota, untungnya koran dengan tiras tidak seperti Kompas. Ada tulisan Anas Urbaningrum, tentang profesi guru. Intinya, guru harus berterima kasih sama SBY dengan perbaikan kesejahteraan yang diadapat sekarang ini. Ini merupakan hasil dari obrolan Anas Urbaningrum di sejumlah daerah di Indonesia. Guru hanya mengeluh masalah lain, yaitu kesetaraan. Buat saya, ini kampanye mas. Memang komunitas guru bisa menjadi lumbung suara yang besar. Selain guru, mereka mengajar para siswa, yang tentunya merupakan lumbung suara pemilih muda. Dengan menyebutkan karena era SBY, tentunya guru harus sadar dong kenapa mereka mendapatkan peningkatan kesejahteraan. Hehehehe

Bapak saya adalah guru saya. Beliau wafat tahun 1992, saat saya sedang kuliah. Saya mampu menyelesaikan kuliah dengan dukungan teman-teman di BTA tempat saya mengajar. Pesan bapak saya, beberapa menit sebelum menghembuskan napas terakhir, "jaga diri baik-baik dan jadi orang yang bermanfaat." Beliau menutup matanya, bersamaan dengan azan subuh. Beliau tidak pernah mempertanyakan gaji pensiunan yang mungkin akan menjadi kecil saat diukur dari tingkat kesejateraan. Seorang Pembatu Letnan Satu (PELTU). Harus menghidupi 9 anak yang masih bersekolah.

Kesejahteraan adalah hak semua pegawai negara, dan itu kewajiban negara untuk memenuhinya.
Bapak tidak pernah mengeluh saat hidupnya. Beliau tidak marah dengan sang pemimpin saat ada kondisi Sanering, pemotongan nilai uang tahun 60-70-an.  Bunda di rumah menghitung kesejahteraan bukan dengan uang, tapi saat beliau jalan kaki dengan aman dan tenang untuk membeli sayuran untuk dijual di rumah untuk menambah penghasilan ayah. Bunda jalan kaki dari Cikini ke Manggarai membawa sayuran jam 4 - 5 pagi, tanpa gangguan berarti. Jika ada kakak yang masuk rumah sakit "Sebiset" nama lain untuk RSCM saat itu, nggak ada yang aneh-aneh. Pasien langsung masuk tanpa menanyakan,"berapa punya uang. Ada uang buat tempat tidur nggak ? Buat kelas III atau kelas II."

Bunda tidak pernah bingun mau masak apa, dan bahkan harus berpikir beli ini-itu dimana. Bahkan mengantri pula. Hahahahaha. Lagi-lagi, ada kewajiban negara dan hak warga negara.

Saya menjadi guru bukan mencari kemakmuran. Tapi saya mau membentuk anak bangsa, agar anak cucu saya dapat hidup terjamin. Dan pilihan guru bukan main-main. Kalau seorang dokter bis amemperbaiki penyakit yang terlihat, bahkan mungkin yang tak terlihat (pskis), guru adalah orang yang membentuk masa depan. Jadi jangan pernah mempermainkan guru, atau lebih baik parah menjadikan guru sebagai komoditas politik. Atau kita menutup kalimat dengan, " Salah bu.. yang sudah menikah adalah cewek yang pakai cincin kawin. Tapi tidak apa-apa.. saya suka cara ibu berpikir.." Guru aja disalahkan, heheheheheheee. Dan sebaiknya guru hanya berpikir, juga hehehheheee.

Sunday, November 9, 2008

Telur adalah kamu

Tadi pagi buka-buka folder ada cerita pembelajaran yang bagus. Ini saya dapat dari blog seorang ibu WNI yang sedang belajar di Jepang. Lupa nama blognya. Minta ijin meneruskan, bu.

Telur adalah kamu


Bagaimana guru di sekolah mengajari anak tentang kesusahpayahan orang tua mengasuh mereka sejak kecil hingga dewasa ?


Seorang ibu guru di SD Tsuhasama, di kota Sanda, Hyogo prefecture, wali kelas 3, telah mengajari saya hari ini melalui siaran NHK tentang bagaimana mengajari anak tentang kasih sayang orang tua kepada anak.  Acara NHK ini berjudul `Tamago ga oshiete kureta koto` (yang diajarkan telur kepada kita)   disiarkan pada hari ini, 1 April 2008, jam 9.55 - 10.50 pagi.


Cara pembelajaran sebagai berikut :


Ibu guru menanyakan kepada anak-anak tentang telur. Apa yang mereka bayangkan, pikirkan tentang telur.  Sebagian anak menjawab, telur adalah makanan yang tidak enak, ada yang menjawab telur adalah akachan (bayi), dan beragam jawaban yang lain.  Ibu guru kemudian dengan diskusi awal ini mengatakan sebuah statement yang membuat anak-anak terbengong : Telur adalah kamu (tamago ga jibun).


Kemudian Ibu guru menjelaskan maksud pelajaran hari ini, yaitu mereka akan belajar tentang ‘mencintai’ dan ‘dicintai’.  Sebagai bahan peraga, anak-anak diminta membuat telur-teluran dari bahan kertas yang dilunakkan dengan air sehingga menjadi seperti bubur kental, dalam bahasa Jepang disebut ‘kami nendo’.  Anak-anak kemudian membuat telur dan di dalamnya dimasukkan benda kecil yang dianggap sebagai bayi.  Ibu guru mempersilahkan mereka berkreasi dengan telurnya, baik dengan mewarnainya, menggambarinya dan beragam cara unik lainnya.


Selanjutnya Ibu guru mengatakan bahwa telur ini harus mereka anggap layaknya seorang bayi yang tengah menunggu dilahirkan.  Oleh karena itu, harus dibuatkan tempat/kotak yang baik untuk masa menunggu.  Anak-anak pun membuat kotak dari kertas yang berwarna dan model yang bermacam.


Ibu guru kemudian meminta anak-anak membawa pulang telur tersebut dan menjaganya dengan baik.  Lalu membawanya setiap hari ke sekolah.  Di rumah, beberapa anak memperlakukan telurnya seperti halnya orang tua yang memelihara anaknya.  Seorang anak blasteran Australia Jepang, bernama Tate kun, menaruh telurnya di atas meja belajar, di sebelah kotak musik yang sering diperdengarkan kepadanya ketika dia bayi.  Sambil mengerjakan PR, dia pun menyetel kotak musik tersebut dan mengalunlah musik lembut yang akan meninabobokkan bayi.  Menurut ibunya, sejak masih bayi, ibunya selalu membunyikan kotak musik itu dan Tate kun akan terlelap.


Seorang anak lagi membuatkan selimut rajutan kecil untuk telurnya, sebab ketika kecil barangkali neneknya membuat hal yang sama untuknya.  Tapi ada juga anak yang melempar-lemparkan telurnya seperti bola ketika berada di dalam kelas.  Ibu guru kemudian menanyai anak itu yang bernama, Mizutani kun, kenapa dia berlaku demikian.  Si anak tidak bisa menjawab.  Dan ibu guru kemudian menanyakan apakah ketika bayi, Mizutani kun juga diperlakukan seperti itu oleh ayah ibu ?


Karena tidak berhasil memperoleh jawabannya, ibu guru kemudian mengontak orang tua Mizutani kun dan menanyakan perihal ini. Ternyata Mizutani kun adalah anak tertua dari 4 bersaudara.  Karena kesibukan orang tuanya, di masa kecil dia hampir tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup baik dari orang tuanya.  Tapi ibunya teringat, bahwa untuk menjaga si bayi (orang Jepang punya jimat khusus untuk mamoru atau penjagaan), maka si Ibu selalu menaruh di dekat si kecil Mizutani kun, sebuah boneka teddy kecil.  Boneka kecil ini kemudian dimasukkan oleh ibunya ke dalam kotak telur Mizutani kun, dan di bawahnya dilapisi kapas untuk menghangatkan bayi dan penjaganya.


Pada hari berikutnya, Mizutani kun memperlihatkan kotaknya dan sepanjang hari dia tidak mau melepaskan dan menaruh kotak telur itu sembarangan.  Hari itu kebetulan dia bertugas untuk menyiapkan makan siang untuk rekan-rekannya, maka dia minta tolong seorang temannya untuk membawakan kotak tersebut.  Anak yang diminta pun dengan ikhlas membawanya kemana pun dia pergi dan menjaganya dengan baik.


Ibu guru kemudian menjelaskan seperti itulah ayah ibu mencintai mereka sejak bayi.  Menjaga mereka dengan penuh kasih sayang.  Kecintaan yang mulai tumbuh di dalam diri anak-anak kepada telurnya, seperti itu pulalah ayah ibu pelan-pelan tumbuh rasa cintanya kepada mereka.


Suatu hari terjadi kejadian yang menghebohkan di kelas 3.  Seorang anak menangis tertelungkup di lantai, karena telurnya pecah.  Tema ini kemudian diangkat oleh ibu guru sebagai topik tentang cinta.  Ibu guru menanyai anak-anak, jika seandainya bayi yang ditunggu-tunggu tidak jadi lahir, apa yang anak-anak rasakan ?   Sebagian besar anak menjawab sedih sekali. Seharusnya ayah ibunya lebih menjaganya dengan baik.


Setelah berlangsung kurang lebih sepekan, ibu guru melihat anak-anak mulai terbiasa membawa telur ke sekolah. Maka muncul ide untuk menanyai murid-muridnya tanggapan setelah merawat sepekan (o sewa ni natta koto).  Anak-anak menuliskan tanggapannya di kertas kecil, kemudian ibu guru meminta mereka maju ke depan membacakan tanggapannya.  Lalu ibu guru meletakkan kertas-kertas itu di sebuah lembar kertas besar dan mengelompokkan tanggapan dalam sebuah lingkaran besar.


Anak-anak menjawab dengan polos sekali.  Misalnya, karena saya selalu tidur cepat, maka saya tak sempat merawat telur, karena saya bermain terlalu banyak, jadi tidak ada waktu mengasuh telur dengan baik.  Seorang anak malah mengatakan ‘mendokusai kara’ (karena merepotkan), jadi dia tidak merawatnya. Ya, keharusan membawanya pulang pergi ke sekolah memang mendokusai.


Tapi, Ibu guru dengan cerdiknya menggiring anak-anak bagaimana mereka, walaupun sejak kecil sangat merepotkan orang tua, tapi semua orang tua tidak mengeluh dan tidak berhenti merawat mereka. Seorang anak yang duduk di belakang mengusap-usap matanya yang berair mendengar penjelasan ibu guru.


Bagian terakhir dari pelajaran telur adalah Ibu guru meminta anak-anak untuk berpisah selama seminggu dengan telurnya.  Mereka diharuskan meletakkan telur jauh dari rumah mereka.  Sebagian anak menangis sedih karena sudah merasa cinta dengan telurnya dan tidak mau berpisah.  Tapi Ibu guru ingin mengajarkan mereka bagaimana sedihnya ayah ibu ketika anak-anaknya, pada saat dewasa harus berpisah dengan mereka.



Sebuah pelajaran yang berharga sekali yang tidak hanya mengajari anak bahwa kalian harus mencintai ayah ibu karena bla bla bla…setumpuk penjelasan yang tiada dapat dimengerti anak.  Tapi pengalaman menjadi ‘orang tua’, merasakan bagaimana mencintai dan dicintai oleh orang tua, sungguh merupakan didikan yang berharga bagi anak yang tak akan lapuk ditelan usia.

Monday, October 6, 2008

Apa yang dikejar mira lesmana dan riri ?

Akhirnya saya dan teman berhasil nonton juga tuh film. Kalau baca resensi dan wawancara banyak pihak di televisi jadi ingin sekali menikmati film berbobot garapan sutradara handal. Beberapa film garapanmereka memang membuat saya terkagum-kagum. Sungguh !. Tenyata hari itu di Plaza Senayan kosong antriannya, hehehehe. Beli tiket, sholat dzuhur, makan steik dam masuk ke studio 2. Awal yang menyenangkan, "nanti jangan banyak omong atau tanya ". Itu kalimat yang saya sampaikan ke sang kekasih. Saya ingin sekali menikmati film ini.

Alurnya berjalan enak, tetapi sang kekasih mulai berceloteh mendahului alur cerita, huh menyebalkan pikirku dalam hati. Jadi ingin nonton sekali lagi tanpa di temani sang kekasih. Setelah hampir dua jam, saya baru sadar. Kenapa terlalu banyak momen, sehingga seperti potongan-potongan kisah hidup, ada hal-hal yang diubah dan hilang ( walau pun sempat nangis juga, hehehehhehe). Beberapa sisi, mira dan riri berhasil menggugat GURU. Kalimat sang maestro Ikaranagara pun membekas "Banyaklah memberi jangan banyak meminta ( smenacam itulah)".

Penontonnya penuh hari itu, dari anak usia 3 tahun hingga orang tua ( malah kebanyakan anak mungkin, karena orang tua berpikir ini film bagus untuk membangkitkan jiwa perjuangan anak. Tapi apa mereka sudah baca tuh novel, hehehehehe). Kalau 1000 guru berhasil nangis di Bandung, rasanya hari itu ada satu guru yang nangis. Tapi tangisan saya berubah karena pesan moralnya berubah. Nasionalisme. Saya takut jangan-jangan Partai Amanat Nasional akan akn menasionalisasi film ini, khan ada sekolah muhammadiyah. "Sekolah ini tidak boleh mati."

Sekolah ini bukan membuat nilai-nilai akademik, tetapi bedasarkan hati nurani. Semoga aja sekuel yang kedua nanti bisa lebih ke novel ketimbang sarat dengan muatan yang lain. Hehehhee. Saya tetap maunonton lagi.