Showing posts with label Emosi diri. Show all posts
Showing posts with label Emosi diri. Show all posts

Friday, May 14, 2010

wati siswi terdidik

Wati marah-marah membanting pintu dengan keras, mengagetkan seisi penghuni rumah. Rumah yang berada di lingkungan perumhan sederahan ini makin riuh dengan teriakan ibu dari dapur yang sedang menggoreng tempe dan telur untuk sarapan pagi ini. Kemarahan Wati sedemikian besar, nomornya tidak tercantum di daftar anak yang diterima di SIMAK UI. Kemarahan tersebut hanyalah wujud kesedihan dari perjuangannya selama 3 tahun ini. Wati ingat, ketika dia berjanji sama ibu untuk belajar giat untuk menjadi seorang dokter, harapan keluarga. Kematian ayah karena paru-paru basah tidak tertolong oleh puskesmas kelurahan. Saat itulah dia berjanji untuk menjadi dokter untuk keluarga dan lingkungannya.

Ibu menggantikan tugas ayah, berjualan nasi uduk di depan ruimah. Lima mulut harus dipenuhi oleh penghasilan dari berjualan nasi uduk tersebut. Berjalan kaki ke sekolah, berangkat pagi sekali,menempuh jarak kurang lebih 3 km, tidak lah menjadi halangan buatnya. Agar ibu tidak sia-sia mendidik dan membesarkannku. Itu kalimat yang selalu menjadi inspirasi Wati. Di sekolah Wati juga bukan termasuk anak yang pandai, nilainya rata-rata. Apalagi, wati tidak seperti teman-temannya yang mampu pergi ke bimbingn belajar atau kursus bahasa Inggris. Uang sekolah terbayarkan setelah lewat 3 bulan dari yang semestinya. Tapi tekadnya bulat. Negeri ini tidak pernah menelantarkan anak bangsa, apalagi anak yang mau membangun negeri.

Sepulang sekolah Wati harus membantu adik-adiknya, belajar atau pun membantu membersihkan rumah. Setrika baju dia lakukan 2 hari sekali, itu pun jika ada tetangga yang meminta menyucikan baju. Sehingga biaya pengeluaranb listrik dapat dihemat. Jangan salah, yang disterika hanya baju sekolah. Ibu amat mengajarkan, untuk tetap berpakain rapi dan bersih ke sekolah.

Sehabis maghrib, Wati belajar di kamar yang bersisikan 3 adiknya. Cukup ribut rasanya ada 3 anak yang sekolah dan satu bocah yang mengganggu terus. Tapi Wati rela menjalaninya. Ini jalan hidupnya, takdirnya,.... nikmati dengan rasa syukur.

Tetapi hari itu Tuhan mengujinya dengan sebuah pengadilan, namanya tidak ada diantara anak-anak yang diterima di UI. Kemarahannya memang tampak, tetapi saat dia mendengar "teriakan" ibu dari dapur, sadarlah dia UI bukan segala-galanya. Karunia kesehatan, hidup, keimanan, dan tetap berjuang adalah yang Allah tidak berikan kepada semua makhluk. Keterbatasan yang ada justru membuat Wati semakin sadar, jika nanti harus kuliah di Pendidikan Dokter UI, berapa uang yang harus ibu persiapkan ? Jalan pasti ada, membahagian orang tua adalah kewajiban, tetapi orang tua tidka pernah menuntut hal itu. Mereka hanya ingin kita bahagia saat hidup. Sehingga Orang tua kita akan berkata di hatinya : terima kasih Tuhan telah menganugerahkan hamba anak-anak yang sehat dan menghormati orang tua, dan saya bersyukur atas kepercayaan Mu untuk mendidik dan membesarkannya.

Friday, May 7, 2010

Kepentingan membutakan hati, atau martabat yang menutup nurani

Beberapa hari terakhir di SMA NEGERI 8 memang terjadi kesibukan yang menganggetkan. Kegiatan PPDB RSBI yang baru pertama kali diadakan, dengan sistem penerimaaan yang baru, dengan sosialisasi yang kurang dari dinas kepada para orang tua di tingkat SMP, rentang waktu yang dekat, dan akhirnya memang keterbatasan SDM dan kemampuan pra sarana.

Penggunaan IT dalam pendfataran sekolah telah menjadi lumrah setelag PSB Onine diberlakukan lebih dari 5 tahun yang lalu.Masyarakat menjadi terbiasa dengan OL. Walau saat awal pun sistem PSB Online sempat bermasalah. Waktu dan kematanganlah yang membuat sistem semakin baik.

PPDB RSBI menggunakan juga IT. Kemampuian jaringan atau pun server amat dipetaruhkan. Termasuk sistem tentunya. Disaat kebutuhan sedemikian mendesak, tekan semakin meninggi, jika terjadi sesuatu, maka akibat nya adalah kepada para pelaksana. Saat sistem overload, hang, maka seribu kebingungan akan membuat cacian-cacian ringan.

Beberapa guru dan petugas keamanan sekolah mendapatkan hal tersebut. Seleksi berkas hanyalah bicara penyerahan berkas, jadi panitia yang baik akan mengingatkan kelengkapan berkas. Saking emosinya seseorang bisa marah sekali, padahal diingatkan. "Kata anak saya ini sudah komplit !". "Maaf bu, menurut kami belum komplit." Setelah bersitegang beberapa saat Ibu itu, dengan kacamata hitamnya, "... halo,... ini gurunya nggak mau terima berkas,...gimana sish... kan rumah jauh,... capek deh...".
Padahal sang guru hanya mengingatkan bahwa berkasnya belum komplit, jika dimasukan juga ke panitia, maka akan "GAGAL". Tapi bukan tidak mau terima,... belum komplit deh...

Hari berikutnya. Setelah pengumuman hasil seleksi berkas. Saatnya mengambil kartu ujian, dengan syarat : bawa lembar penyerahan berkas. Panitia berharap proses ini tidak akan lama, jadi lembar penyerahan berkas adalah syarat mutlak. Pagi hari banyak orang tua sudah mengantri di pintu gerbang sekolah. Diingtakan untuk, menuliskan ruang ujian di lembar penyerahan berkas, agar proses hanya akan memakan waktu kurang dari 10 menit.

Pintu gerbang yang dijaga guru dan petugas keamanan berusaha memberikan arahan. Tetap saja ada orang tua yang tidak membawa. Saat diingatkan, dia menegrti sekali, terlihat dari angguikan yang pasti. Tapi ada yang lucu. Dia perintahkan anaknya untuk masuk langsung ke meja nomor. Padahal dia tahu hal itu tidak mungkin. Seorang anak diajarkan orang tuanya untuk melanggar aturan, hanya karena mereka enggan pulang balik ke arah Kramat Jati. Sebuah penanaman bibit penolakan aturan kepada anaknya.

Hari berikutnya : saat Ujian Mandiri. Kesibukan hari itu SMA Negeri 8 makin tinggi, sekitar 800 orang tua dengan mobil berhasil membuat kemacetan parahblan dari Kampung Melayu, Kuningan, Casablanka, Tongtek, hingga Slamet Riyadi. Berbagai mobil dari harga 100 juta hingga lipatan angka tersebut. Mestinya kemampanan hidup juga dibarengi dengan kedewasaan berpikir dan bertindak. Saking pentingnya mengantar anak, seorang ayah dnegan asesories yang amat mencolok, menggunakan celana hawai,.... saya ulangi: celana hawaiiiii, datang ke SMAN 8. Sebegtu bahagia dan indahnya hingga tidak sadar, bahwa SMAN 8 bukan WC umum atau pantai Kuta. Anaknya bahagia sekali, sementara sebagaian besar ibu-ibu senyum-senyum. Lagi-lagi kita salah menilai, pastinya kita salah meletakakan pondasi dasar berpikir seorang anak.

Wednesday, April 14, 2010

Sabar,... masa depan adalah tujuan, masa lalu adalah kenangan dan masa kini adalah perjalanan

Saat jadi ketua rohis di SMA Negeri 8 Jakarta, saya selalu bercita-cita mempunyai keluarga yang sakinah, mawadah, warrahmah. Saya ingin mewujukan hal itu denga usaha, bukan "sudah jadi". Membentuk keluarga adalah ibadah. Saya bangga dengan teman-teman saya yang hijrah dari kehidupan jahiliyah saat sman, berubah saat kuliah dan menjadi pribadi muslim yang kokoh saat terjun di masyarakat. Sering mengenang masa-masa indah ketika bagaimana berjuangnya adik-adik kelas di SMANDEL yang harus gonta-ganti pakaian atau bahkan membuka jllbabnya ketika menuju sekolah. Karena masa itu memang jilbab tabu dan menjadi musuh sekolah.
Kasus teman-teman akhwat di SMAN 68 yang berujung keluarnya para akhwat dari sekolah di tahu 1987-an akhir. Peristiwa penarikan jilbab di sekitar Kuningan Setiabudi. Bahkan issu Jilbab beracun. Lucunya masa itu banyak ikhwan yang membungkus Al Qur;an terjemahannya dengan wanitaIran berjilbab panjang menyandang M-16 atau Ak 47.Entah mengapa sosok wanita berjilbab saat itu menjadi primadona para ikhwan di hampir semua remaja mesjid SMA.
Setelah menjadi guru di SMANDEL, saya makin bangga bertemu dengan teman-teman atau adik kelas yang dulu berjuang untuk menutup aurat tubuhnya, untuk mnyelamatkan saudaranya dari neraka. Masa jahil mereka, tanpa jilbab adalah hal yang harus saya lupakan. Yang mesti diingat adalah perjuangan mereka memutuskan mengggunakan perintah Allah sebagai jalan hidup, pilihan hidup, be a good moeslem or die as syuhada,....

Beberapa menit yang lalu saya meilihat salah satu saudara saya begitu bangganya memperlihatkan auratnya saat masa-masa jahiliyah. Saya tercenung, apa ada yang salah? Kenapa kita tidak melupakan masa lalu yang mungkin akan menyakitkan kita, karena dosa-dosa kita pada-Nya ? Sebandingkah dengan kenangan yang kita dapatkan ? Lagi-lagi sebandingkah ?
Tahun 2002, saya mengenal seorang akhwat yang memilih memakai cadar,... karena malu dengan dosa masa lalu. Dia rela kehilangan semua pertemanannya, semua masa indah bahkan semua mantan-mantan pacarnya. Biarlah saya kehilangan dunia saya, tetapi saya tidak kehilangan rahmat Allah. Sampai hari ini, dia masih sering menulis di salah satu majalah islam ternama. Beberapa bukunya tentang pergaulan pria-wanita memang tidak selaku novel-novel percintaan islami. Buatnya yang hitam dan putih,.. jangan diabu-abukan.

Saya telah menghapus kenanganya saat SMA, saya hanya ingat dia tahun 2000-an, dan yang terbayang oleh saya sekarang ini hanyalah jilbab dan cadarnya,... subhanallah...

Tiap Pribadi Unik Sekali

Tiap Pribadi Unik Sekali

Tentunya teman-teman pernah mendengar cerita tentang seorang nenek tua yang menangis di sebuah surau, karena dia tidak bisa lagi menyapu membersihkan halamana mesjid, karena pohon dekat mesjid ditebang sang marbot, atau cerita seorang teman yang membantu teman dengan menyelipkan uang di tas, saat temannya tertidur, atau seorang tamu Allah yang selalu meletakkan uang di bawah tikar/sajadah mesjid sehabis sholat dzuhur. Kisah ini mungkin agak berbeda.

Ikhwan, pria kurus kering, hitam legam terbakar matahari, adalah seorang pemuda yang selalu tertidur di pojok belakang mesjid. Sehabis mengantar Koran pagi hari, bahkan tepatnya subuh hari, Ikhwan selalu mampir ke mesjid, menukar waktunya dengan berjual beli kepada Allah.
Saat usianya beranjak 7 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Kebakaran di kampung Bulak telah menelan semua keluarga dan tetangganya. Maklumlah rumah petakan, belakan pasar Klender Jakarta Timur. Mulailah Ikhwan hidup sebatang kara. Pak Haji Badri pemilik salah satu kios di Jatinegara-lah yang menyelamatkan Ikhwan dari kesendirian hidup.
Sudah hampi sepuluh tahun Ikhwan menjadi marbot tambahan, di mesjid tua Jatinegara Kaum. Sehabis sholat subuh, ikhawn akan mengayu sepedanya menuju pasar Sunan Giri untuk mengambil Koran pagi. Ikhwan akan menyusuri jalan-jalan bernama ikan di Rawamangu. Hingga pukul 7, keringat akan menemani pagi yang selalu memberi harapan. Ikhwan belajar menabung seperti yang diajarkan oleh Pak Haji.
Pak Haji Badri menabung dari kecil, hingga mampu mempunyai kios seperti sekarang ini. “Menabung untuk masa depanmu.” Itulah kalimat yang selalu dia dengar. Ikhwan telah melakukannya hamper 10 tahun. Setiap hari, sehabis mengantar Koran, dia selalu menabung.
Dua hari ini Ikhwan terserang flu, lumayan berat. Tetapi denga tekad yang kuat dia tetap melakukan sholat malam, dzikir hingga subuh pagi itu. Saat pak Haji Badri menyampaikan Kuliah Subuh, Ikhwan masih tegar duduk dengan kopiah tua dan sarung yang tidak pernah tersetrika. Tetapi tetap bersih karena selalu dicuci olehnya sendiri. Hampir 30 menit Kuliah Subuh diberikan. Setelah selesai, semua jamaah saling bersalaman, berpelukan dan mendoakan untuk kebaikan hari ini dan esok. Semua jamaah telah berdiri dan berputar bersalaman,.... kecuali seorang jamaah. Ikhwan. Dia masih terduduk dengan kepala tertunduk ke depan, jemarinya masih memegang untaian tasbih. Beberapa kali panggilan dari pak Haji Badri dan jemaah lain, tidak membuatnya terbangun. Khawatir tertidur pulas, Pak Haji Badri mendekatinya dan duduk di sebelah Ikhwan. Pak Haji lama terdiam, dan terdengar tangis kecil seorang muslim tangguh. Jamaah lain tersadar telah terjadi sesuatu. Pak Haji masih memegang tangan yang telah berubah dingin. Ikhwan telah pergi menghadap sang Khalik.

Pagi itu pun berubah, mesjid menjadi ramai oleh kesibukan para jamaah untuk menguburkan Ikhwan. Dengan seijin Kepala DKM, ruang marbot tempat lemari Ikhwan berada dibuka, untuk mengetahui mungkin ada hal-hal yang dipesankan oleh almarhum, atau mungkin masalah hutang piutang yang belum terbayarkan. Pak Haji Badri telah menyatakan akan membayar semua hutang Ikhwan kepada siapa pun. Saat lemari terbuka, terlihat beberapa pakaian, dengan beberapa buku dan kitab kuning. Pak Haji sempat kaget dengan jumlah pakaian yang ada. Tidak mampu membeli atau memang tidak mau membeli.

Terliha ada tumpukan amplop, yang tertutup rapi. Ada kalimat di setiap bagian depan amplop. Untuk Bu Ijah, penjual gado-gado di Pasar Waru. Untuk Pak Karyo, petugas kebersihan. Untuk Pak Alim, marbot mesjid. Untuk Dik Seno, siswa SD Negeri 12 Rawamangun. Dan lain-lain. Jumlah amplop tersebut hampir 50 buah. Pak Haji Badri kebingungan, ”Apa Ikhwan banyak hutang ?”. Pak Haji meminta warga lain, untuk mencari pemilik amplop-amplop tersebut. Sehingga hak orang-orang itu sampai.
Jam 09.00, berkumpulah ke 50 orang tersebut. Pak Haji menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran mereka, serta memohon maaf atas ketidaknyamanan hari ini. Terutama atas kelakuan Ikhwan. Para warga yang 50 orang tersebut bingung, Ikhwan itu siapa dan ada apa mereka dikumpulkan ? Karena suasana gaduh akhirnya pak Haji Badri menjelaskan duduk perkaranya. Dan semua warga melihat jenazah Ikhwan yang belum dikebumikan karena menunggu proses hutang piutang itu selesai. Warga makin bingung. Apalagi setelah pak Haji Badri membagikan Amplop. Pak Haji menjelaskan, ” Amplop ini pesannan almarhum untuk bapak ibu, mungkin hutan atau apa. Saya hanya menyampaikan.” Pak Haji menjelaskan hal tersebut sambil membuka penutup mayat. Semua warga terkaget dan berdesah , ” si tukang koran.”
Karena merasa makin bingung, warga membuka amplop tersebut. ”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih ibu, yang telah memberikan saya air minum. Pagi ini, selasa 12 januari 1998. Semoga uang ini dapat menebus air yang saya minum.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih bapak marbot, yang telah membangunkan saya untuk sholat subuh. Subuh, Minggu 18 januari 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.”
”Assalamu’alaikum : Mohon maaf sebelumnya atas kesalahan saya. Terima kasih Pak Karyo, yang telah membantu saya saat terjatuh dari sepeda di Jalan Gurame. Senin, 16 February 1998. Semoga uang ini dapat bapak terima sebagai ucapan terima kasih saya.” Dan seterusnya, seterusnya....
Pak Haji Badri menangis sejadi-jadinya. Ikhwan telah melakukan pelajaran yang diberiaknnya melebih apa yang dipikirkannya. Pak Haji menabung bertahun-tahun hanya menadapatkan kios, sementara Ikhwan menabung bukan untuk mendapatkan kios,... dia membangun rumah di surga. Membayar semua kebaikan orang di bumi. Bukan membayar hutang di akherat, yang akhirnya hanya akan terbayarkan oleh amal kebaikan kita. Ikhwan menabung di Bank Allah. Janji Allah pasti.

Tuesday, April 6, 2010

Jangan Kebabalasan yaaa

Jam masih menunjukkan pukul 19.38, entah malas sekali hari ini. Sepulang dari Depok, kuliah Pengaolahan DAS dari Pak Eko, 2 sesi, badan semakin pegal-pegal, karena menunggu kereta yang masih ada di Citayam. AC Ekonomi, yang mulai menjadi pilihan banyak orang. Biasanya jam 17.20 baru datang. Kereta sebelumnya Ekonomi dan AC Ekonomi Tanah Abang,... jadi berpikir akhirnya hapal juga tuh jadwal kereta.
Karena mau mengejar sholat maghrib, mampir di SMA Negeri 8 dulu. Sehabis sholat, jam 18.35 pulang dengan membonceng mas syam. Bus Mayasari Bhakti 9A yang selalu menemani. Di bilangan Prumpung tempat para checker bus, saya naik, biasanya naik pula, pedagang dan pengamen, dan yang turun biasanya para copet yang beraksi sepanjang Senen-Prumpung.
Sehabis main air, ... benar-benar di mainkan tuh air,.. siaram sana-sini,.. yang penting basah dulu. Kebiasaan buruk, menghabiskan sayauran,...plus lauk. Tanpa nasi,.... Apel dan pear menutup makan malam.
Acara TV tidak ada yang bagus, jarang nonton sinetron dan kuis atau semacamnya, apalagi take him out, hahahahha. O Channel, coba disimak. Ada siswi Indonesia yang sedang home stay di Luar Negeri, dara asal Aceh tersebut dengan bangganya menjelaskan negeri tersebut. Mengalir deras kalimat-kalimat yang membanggakan pendidikan negeri itu. Saya senyum-senyum saja, 4S, tetapi makin saya dengar makin pusing, wah makin kebabalasan.
”Saya senang disini karena nggak ada yang menegur, jika tidak pakai seragam, tidak pakai kaos kaki. Di sini diajarkan berpikiran bebas, dan berdebat. Di Indoensia kita dicekokin oleh text book. Negeri ini menghargai orang lain. Sesampai di Aceh nanti saya akan mengajarkan bahasa Inggris,... setelah itu saya akan banyak berdiskusi sehingga anak-anak punya ”aware”, karena kalau sudah aware, maka akan terjadi eksplorasi,... bla... bla... bla...”.
Saya bangun dan tersadar, tahun 2002 pun saya mengalami perdebatan dengan siswa SMA Negeri 8 yang baru dari AFS,... persoalan sepatu yang berwarna coklat, bukan hitam. ”Pak ini hal sepele,... jangan lihat covernya dong, lihat pemikirannya.” Begitu kira-kira kalimat anak tersebut. Saya kagum keberanian siswa tersebut untuk mempertanyakan masalah tersebut. Saya ajak bicara di depan ruang guru. ”Nak, di Amerika itu apakah semua serba teratur ?”. ”Iya pak.” ” Jadi kita setuju ya, bahwa keteraturan akan membawa dampak untuk kebaikan semua hal. Dan keteraturaturan dihargai oleh kepatuhan orang-orang akan aturan.Timbul yang namanya disiplin. Pertanyaan saya setuju tidak kalau SMA Negeri 8 teratur dan disiplin ?”.
Anak itu tersenyum, dan... ” Iya pak yaa, saya membanggakan tempat orang lain, yang seharusnya saya bawa model disiplin tersebut ke SMA saya, bukan mempertanyakan hal-hal yang membuat saya terlhat bodoh. Hanya masayarakat barbar yang tidak suka dengan kedisiplinan.”.
Saya menyalami anak tersebut, ” Bantu kami untuk mendisiplikan anak-anak yang lain.”
Jam telah menunjukkan jam 22.27, mata ini masih berkutet dengan data Kriminalitas Polda Metro Jaya,... sebuah rencana besar membuat Tesis tentang Pola Kriminalitas DKI Jakarta, Insya Allah. Posisi badan sudah mulai mengambang, saat itulah mimpi datang. ”Hai istriku, karena kemarahanku ini, maka akan aku tarik semua kebahagian kamu di dunia ini. Akan saya ambil simpanan uang, emas dan harta lainnya. Saya hanya akan memberikan pakaian seadanya, dan makanan yang pokok-pokok saja.Agar kamu makin menyadari arti seorang pemimpin di rumah ini.” Sang istri dengan tertunduk berusaha mengerti arti kalimat suami tercinta. ”Suamiku, semoga Allah merahmati hidupmu. Kebahagianku bukanlah semua hal yang kamu berikan tersebut, jika engakau tarik semua harta yang mungkin menjadi hakku, aku rela, ... jila engkau ambil juga mas kawin yang tekah engkau iklashkan buatku, ... aku juga rela. Kebahagian bukan diukur dari banyaknya harta yang kau berikan,... kebahagiannku terletak pada saat aku mampu beribadah kepadaAllah. Dan itu sesuatu yang tidak mungkin kamu ambil dariku.”
Ibnu Taimiyyah mengatakan orang yang tidak berbahagia di dunia, maka tidak akan berbahagia di akhirat. Kalau menilik pernyataan di atasnya yang merupakan sebuah kisah yang disampaikan Yusuf Qardhawi, maka kebahagian bukannya banyaknya sesuatu yang kita dapatkan dari Allah. Tetapi seuatu yang kita berikan buat Allah. Bayangkan waktu yang menjadi mata uang akhirat, menjadi milik Allah. Berapa banyak orang yang kehilangan waktu buat beribadah. Kalau kita masih ada waktu untuk Allah, itu bukan hak kita tetapi kewajiban kita.
Jangan kebablashan,... dalam berpikir, bertindalk dan bahkan merencanakan sesuatu. Allah-lah pembuat rencana terbaik. Dan saya yakin ada rencana Allah buat saya, anda dan kita semua.

Friday, April 2, 2010

ibadah, hijab dan iklash

Hari ini lumayan sibuk, seharusnya. Tetapi karena saya terlalu lelah, tanpa tersa tidak maksimal akan semua yang saya kerjakan. Sehabis di pintu gerbang, dengan roni, tris, ranu, dan lain-lain, kami menuju maisng-masing proyek hari ini. Roni mau ke MHT, Tris dan Ranu piket, saya mengawal OSN di Av Grande hingga selesai. Hari ini beberapa guru salah kostum, maklumlah tanggal 31 jarang terlihat, tetapi buat saya yang honorer, tanggal demi tanggal menjadi amat penting. Bahagiannya kalau tanggal 20,…. Cihuy gajian…….

Tetapi hati memang tidak bisa bohong, masih bingung dengan kondisi seminggu ini. Kelelahan kah, kekesalan kah, kejenuhan kah atau ada maslaah yang terganjal ? Coba diajlani dengan seadanya,…. Dan ini bukan type saya. Menyusuri kelas yang lagi-lagi tidak ada gurunya, sempat bingung mau menangani, tetapi harus on fire di Av Grande, sudahlah hanya menanyakan siapa gurunya, ada tugas tidak, dan jangan keluar-keluar kelas kalau tidak penting amat. Tetapi buat siswa, ke wc dan kantin itu sebuah kepentingan dan sebuah wisata penutup waktu karena gurunya tidak ada.

Beberapa siswa yang selalu di luar kelas, bertemu lagi-lagi di luar kelas, jawabnya sudah biasa : terlambat pak…. Saya sempat bingung, lah yang membariskan anak terlambat di gerbang, saya, roni dan ranu, kok anak ini bilang terlambat,…..jangan-jangan terlambat bulan ? Cowok lagi, hehehehe.

Ada beberapa peristiwa jangal, lucu dan seru. Tetapi tidak semua boleh ditampilkan di public. Cukup bahan untuk mendewasakan saya berpikir dan bertindak, minimal mendewasakan diri sendiri. An Nur : 31 berisi tentang ajakan memakai jilbab, begitu juga dengan Al Ahzab, saya masih ingat kalimatnya. Kalau tidak salah : ulurkan/ panjangkan jilbab mu…. dst. Makna jilba itu, menurut saya adalah hijab, jadi kalau diulurkan, berarti perbesarlah hijab atau batasnya. Jelas-jelas jilbab atau hijab harus mempu untuk menutup aurat, dari sisi terlihat dan “bentuk” yang dihijabkan.
Begitu juga dengan muslim lainnya. Sesungguhnya jilbab bisa juga di artikan dalam arti luas, yaitu HIJAB, batasi ! Sholat, zakat, tasbih dan ibadah lainnya, sebenarnya berusaha memberi kita batas. Atas tindakan-tindakan di luar hal yang negatif. Kalau lidahnya serimng bertasbih, ”mensucikan Allah” rasanya tidak pantas kita mengotori mulut kita dengan kata-kata kasar, Kalau mata ini selalu menangis di malam hari di hadapan Allah, tentunlah karena kita ingat akan dosa-dosa kita. Air mata yang jatuh hanyalah pertanda begitu menyesalnya kita.

Efeknya, terjadi saat kehidupan kita. Jadi jangan pernah marah ketika ada orang-orang yang mempunyai titel keagamaan, tetapi belum mampu ”memperbesar ruang hijab”-nya. Contoh : pakai jilbab kokmasih bergunjing,.... udah haji padahal, kok masih begitu,... katanya muslim kok memfitnah..... masih banyak lagi dan lagi, Persoalannya cuma satu, jilbab/hijab hanya untuk wanita dan ibadah kita selama ini bukan membuat batas.

Hidup adalah ibadah. Semua perjalanan kaki kita, setiap detik degup jantung kita, bahkan setiap huruif yang kita ungkapkan adalah ibadah. Silakan bukan 6:162-163. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Jadi kenapa harus menyatakan,.... ada uangnya nggak ? Hahahha, hidup bukan untuk uang, tetapi untuk hidup perlu uang..... salah ah.

Punya uang belum tentu bis abayar hutang, punya Allah pasti hutang tertutup. Banyak orang yang punya hutang malas membayar hutang, karena berpikir nanti saja. Kalau dia merasa memiliki Allah, pasti akan melunasinya, karena kematian datang kapan pun, kalau mati hutang dibawa mati,..... serammmmmm.

Bahagia bertemu dengan teman-teman yang hingga hari ini mampu berkomitmen dengan pekerjaan dan ibadah. Allah akan membalas ibadah kita itu, bukan hanya dengan kebaikan di dunia, tetapi juga kebaikan di akhirat. Kalau kita iklash. Sebuah mata rantai ibadah tertinggi. Iklash.

Saya pernah ditegur secara kasar oleh seseorang,... sakit hati, sedikt. Untungnya ada Allah. Hati milik Allah, biarkan Allah yang mensibhgah. Kalau sibghahnya adalah harta, tahta dan kesenangan,.... pasti tiadak akan pernah tercukup. Saya juga pernah dicap : dinaturalisasi,....... sedih banget. Kesannya saya kotor dan bermasalah sekali. Tetapi tetap iklash, berusaha iklash, insya Allah batas iklash saya makin meluas. Amin.

Thursday, April 1, 2010

Allah mempercayai Anda, bagaimana Anda terhadap-Nya

Rasulullah memanggil seorang sahabat, ”Saudaraku, kemanakah fulan bin fulan ? Sudah beberapa kali sholat fardhu, saya tidak melihatnya dalam jamaah sholat ? Sahabat tersebut dengan keberanian seaadnya menjawab pertantanyaan Rasulullah, ”Yaa Rasulullah, fulan bin fulan, adalah saudara kita yang cukup fakir. Karena kefakirannya tersebut, dia harus bergantian dengan istrinya menggunakan kain untuk sholat. Kemungkinan hal tersebut, yang membuat dia tidak mampu berjamaah.” Rasulullah terdiam, hati beliau demikian masygul, ada jamaah yang tidak mampu berjamaah karena ketidak adaan sarana.

Lima belas abad lebih kemudian. Sebuah surau di lereng bukit yang tidak sesubur tanah Pulau Jawa, terlihat cukup sesak. Padahal ukuran surau itu hanya 3 x 3 m, 10 orang jamaah sholat subuh telah membuat hidup surau tersebut. Sang Ajengan, Latif, tersenyum melihat para jamaah. Subuh itu Latif bercerita tentang keutamaan mencari rizki yang halal. Semua jamaah mendengarkan dengan khusyu. Ilmu agama telah menjadi butiran air yang selalu menyejukan keilaman mereka. Ajengan telah memberi banyak tentang ilmu agama.
Diantara semua jamaah, Ajengan Latif adalah yang tersukses, ternaknya hingga puluhan ekor, kambing dan sapi. Hari ini tanpa jamaah sadari, Ajengan ingin memberikan hak masing-masing jamaah atas harta yang Allah berikan padanya. Latif ingin jamaahnya juga mampu hidup lebih layak, agar bisa beribadah lebih baik.
Setelah berdoa semua jamaah saling bersalaman dan meninggalkan surau dengan wajah cerah dan hati yang bahagia. Latif melihat satu persatu jamaah, menuruni surau, dengan langkah gagah penuh semangat dan keimanan untuk memberi yang terbaik.
Waktu berjalan lambat di semua desa, desa memang tempat yang tidak terlalu banyak kegiatan. Kegiatan utama adalah berladang dan beternak. Kegiatan “mengangon” hewan sebuah pekerjaan yang amat menyenangkan buat warga desa. Melalang menyusuri padang rumput sisi barat Gunung Tambora yang tegak menembus awan kawasan Nusa Tenggara.
Sayup-sayup dari penjuru desa, terdengar kumandang “Allahu Akbar” berkali-kali. Hampir sepuluh kali, kalimat takbir bergema. Ternyata semua jamaah surau Ajengan Latif sedang bersyukur, karena di rumah mereka telah terikat sepasang kambing, dengan sebuah surat : dari hamba Allah, ini milik Allah manfaatkan untuk kehidupanmu. Saya iklash memberikan hewan ini. Tertanda : Hamba Allah.

Lima tahun kemudian, surau itu sudah hilang. Berganti sebuah mesjid besar berukuran 10 x 10 m, dengan tembok bata, beraatap genteng dengan sarana air yang baik, taman yang terjaga keindahannya mengelilingi mesjid tersebut. Ajengan Latif mengikuti kepergian surau, beliau wafat dalam perjalanan ibadah haji. Seluruh jamaah amat kehilangan dan berjanji tetap akan meneruskan kegiatan di surau tersebut.
Kemajuan terlihat dalam kegiatan keagamaan dan jumlah jamaah. Perubahan selalu terjadi. Ada jamaah yang datang dengan anak dan istrinya, walau sudah agak jauh dari desa sebelumnya. Ikatan hati yang terbangun membuat mereka terikat dengan surau tersebut. Bahkan ada jamaah yang rela mengurus mesjid tersebut, walau tanpa bayaran. Asal bisa membersihkan lantai mesjid. Asal diperbolehkan Adzan, asal diperbolehkan menyuci sajadah atau mukena yang habis pakai.
Suara jernih anak-anak usia sekolah yang membaca Al Qur’an sehabis maghrib, atau pun selepas subuh tetap berjalan. Orang tua mereka adalah orang-orang yang dulu mendapatkan rizki, sepasang kambing. MILIK ALLAH. Karena yakin itu pemberian Allah, mereka menjaga kesehatan kambing tersebut. Kambing telah berkembang menjadi sebuah peternakan besar, semua keluar memiliki hampir 50-an ekor. Mereka mampu hidup dari pemberian tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, cobaan makin banyak. Jamaah mulai berganti. Ada yang sudah berpulang menghadap sang Khalik. Beberapa jamaah tersisa melihat saudara-saudaranya. Kekangenan saat lima belas tahun lalu amat terasa. Tiga jamaah asli yang tersisa saling berjamaah sholat, menyelesaikan juz demi juz Al Qur’an, hingga suatu hari.....

Hadi dan Seno dua hari ini tidak melihat Jaya. Rumah Jaya memang terbilang lumayan jauh dari Mesjid, tetapi dengan kendaraan yang dipunyainya Jaya selalu sampai setengah jam sebelum adzan sholat fardhu dikumandangkan. Akhirnya dengan bersepeda motor mereka ingin mengunjungi rumah Jaya, mereka khawatir Jaya sakit. Hampir 30 menit dengan kecepatan 20km/jam, mereka berdua sampai kerumah Jaya. Usaha Jaya ternyata amat maju, rumahnya besar dan terlihat ada musholla di samping rumah.
Mereka saling berpelukan, seakan belum bertemu sekian lama. Istri Jaya mempersiapkan makan siang itu. Tercium aroma masakan membuat tergoda Hadi dan Seno. Waktu berjalan terus, berbimcang dan saling berbagi pengalaman usaha. Jaya tetap memperhatikan para pegawainya, dengan teliti dia meliat pegawai yang mengambil makanan ternak, pupuk bahkan bibit tanaman. Jumlah kambing Jaya sedemikian besar, sehingga ternak kambingnya tidak ditempatkan di rumah. Usaha Dagang Jaya, demikian papan besar terpampang depan rumah megahnya.

Hadi dan Seno, sebenarnya sudah ingin pamitan karena sholat dzuhur hampir masuk. Tetapi Jaya menahan dengan mengatakan, ”Istriku sedang masak, hasil dari pekerjaan yang Allah berikan kepada kami, hargailah,” pinta Jaya. Jaya sibuk menghitung uang yang ada di tangannya. Ratusan ribu berlembar-lembar, hasil usahanya hari ini.

Saat terdengar suara Adzan Dzuhur, Hadi dan Seno mengajak Jaya untuk ke musholla karena tidak mungkin lagi ke Mesjid Ajengan Latif,..... bagai disambar petir Hadi dan Seno mendengar kalimat Jaya, ”Sabar lah, saya kan lagi menghitung nikmat Allah, pemberian Allah, milik Allah,..... sholat kan masih ada waktu,.... menghitung uang tanggung nih,” tanpa melihat muka Seno dan Hadi.

Ternyata arti milik Allah telah berubah. Kalau saja kita sadar, bahwa tubuh kita pun milik dan titipan dari Allah, maka kita akan menjaganya, bahkan memperbaikinya. Tidak mungkin kita merusak bahkan mengurangi manfaatnya. Allah memberikan dalam keadaan baik, kenapa saat Allah mengambil dalam keadaan rusak. Paru-paru rusak karena rokok, hati rusak karena bergunjing dan hasut, kekuasaan yang menistakan, bahkan amanat yang khianat. Kambing milik Allah hanyalah untuk kehidupan duniawi, guna mendukung kehidupan akhirat. Ibadah adalah panggilan Allah, bukan panggilan duniawi.

Moga-.moga bermanfaat

Thursday, February 18, 2010

Orang Gemuk Kualitas Spermanya Payah

Kamis, 18 Februari 2010 | 08:20 WIB
KOMPAS.com — Dampak kegemukan atau obesitas pada kesehatan terus dikaji para ahli. Studi terbaru mengungkapkan, pria yang obesitas memiliki kualitas sperma yang buruk dibandingkan dengan pria yang berat badannya seimbang.

Selama beberapa dekade para ahli meneliti dampak kegemukan pada kesuburan seorang pria. Beberapa literatur menyebutkan, kualitas sperma pria gemuk lebih rendah, antara lain terlihat dari jumlah sperma yang sedikit dan sperma yang mampu berenang dengan gesit.

Studi teranyar yang dilakukan peneliti dari Argentina semakin menguatkan studi-studi sebelumnya. Para peneliti mengevaluasi contoh air mani 794 pria yang bersama pasangannya sedang melakukan program kehamilan.

Para peneliti menemukan bahwa 155 pria yang tergolong obesitas memiliki sedikit sperma yang mampu berenang dengan gesit dan mampu berpindah tempat dibandingkan dengan pria yang berat badannya normal.

Pria gemuk juga cenderung memiliki kadar neutral alpha glucosidase (NAG), yakni enzim yang dikeluarkan oleh cairan epididimis, yang menandakan apakah sebuah sel sperma matang dan dapat berenang. Kadar NAG dalam cairan mani bisa menjadi pertanda baik buruknya fungsi epididimis.

"Ini adalah studi pertama yang mengungkapkan dampak obesitas terhadap fungsi epididimis. Meski begitu, bukan berarti seorang pria akan menjadi tidak subur karena berat badannya bertambah," kata Dr Ana Carolina Martini dari National University of Cordoba, Argentina.

Meski berpengaruh pada sedikitnya jumlah sperma yang aktif berenang, dalam riset yang dilakukan Dr Ana ini tidak ditemukan dampak kegemukan pada kualitas air mani, termasuk jumlah sperma, kadar testosteron, dan jumlah sperma dengan bentuk yang normal.

Walau demikian, Dr Ana mengungkapkan, masih ada kesempatan bagi pria gemuk untuk meningkatkan kualitas spermanya dengan cara mengurangi bobot tubuhnya. Penelitian menunjukkan, pengurangan berat badan mampu mengembalikan keseimbangan hormon reproduksi.

Penelitian ini, papar Dr Ana, memiliki beberapa pembatasan, yakni responden adalah orang yang memang memiliki masalah kesuburan dan kadar indeks massa tubuh yang sebenarnya tidak bisa menjadi ukuran berapa lemak tubuh yang sebenarnya. Para ahli mengatakan, pengukuran lemak di perut lebih efektif untuk mengetahui kadar hormon seks dibandingkan dengan indeks massa tubuh.